OJK Ungkap Utang Pinjol Masyarakat Indonesia Naik 25 Persen, Tembus Rp98,54 Triliun

1 hour ago 2

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyampaikan utang pinjaman online (pinjol) atau pembiayaan financial technology peer to peer (P2P) lending masyarakat Indonesia pada Januari 2026 mencapai Rp98,54 triliun. Angka tersebut tumbuh 25,52 persen secara year on year (yoy).

“Pada industri pinjaman daring atau pindar, outstanding pembiayaan pada Januari 2026 tumbuh 25,52 persen (yoy) dengan nominal sebesar Rp98,54 triliun,” ungkap Kepala Eksekutif Pengawas Lembaga Pembiayaan, Perusahaan Modal Ventura, Lembaga Keuangan Mikro, dan Lembaga Jasa Keuangan Lainnya (PVML) OJK Agusman dalam konferensi pers Rapat Dewan Komisioner Bulanan (RDKB) Februari 2026 di Kompleks Bank Indonesia (BI), Jakarta, Selasa (3/3/2026).

Agusman melaporkan tingkat wanprestasi 90 hari atau TWP90 pada industri P2P lending pada Januari 2026 mencapai 4,38 persen. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan TWP90 pada bulan sebelumnya yang sebesar 4,32 persen. Posisi TWP90 masih berada di bawah ambang batas yang ditetapkan OJK, yakni 5 persen.

“Tingkat risiko kredit secara agregat atau TWP90 berada di posisi 4,38 persen,” ungkapnya.

Industri Pergadaian Tumbuh 60 Persen

Dalam kesempatan itu, Agusman juga menyampaikan data penyaluran pembiayaan pada industri pergadaian pada Januari 2026. Pertumbuhan industri pergadaian tercatat mencapai lebih dari 60 persen.

“Pada industri pergadaian, penyaluran pembiayaan pada Januari 2026 tumbuh sebesar 60,05 persen (yoy) menjadi Rp 143,14 triliun, dengan tingkat risiko kredit yang terjaga,” tutur Agusman.

Pembiayaan terbesar industri pergadaian disalurkan dalam bentuk produk gadai, yakni sebesar Rp 115,98 triliun. Angka tersebut setara 81,03 persen dari total pembiayaan yang disalurkan industri pergadaian.

Sementara itu, pembiayaan modal ventura pada Januari 2026 tercatat tumbuh 0,83 persen (yoy) dengan nilai pembiayaan mencapai Rp 15,95 triliun.

Secara umum, OJK mencatat di sektor PVML, piutang pembiayaan perusahaan pembiayaan pada Januari 2026 tumbuh 0,78 persen (yoy) menjadi Rp 508,27 triliun. Pertumbuhan tersebut didukung pembiayaan modal kerja yang meningkat sebesar 10,27 persen (yoy).

Agusman menuturkan profil risiko perusahaan pembiayaan tetap terjaga dengan rasio pembiayaan bermasalah atau non-performing financing (NPF) di bawah ambang batas maksimum 5 persen. Tercatat NPF gross berada di level 2,72 persen dan NPF net sebesar 0,82 persen. Di samping kualitas pembiayaan, struktur permodalan perusahaan pembiayaan juga tercatat terjaga. Gearing ratio di industri PVML mencapai 2,11 kali, masih di bawah batas maksimum sebesar 10 kali.

Read Entire Article
Perekonomian | Teknologi | Alam | Otomotif | Edukasi | Lifestyle |