Personel Polri mengikuti apel kesiapan pasukan pengamanan peringatan Hari Buruh di kawasan Monas, Jakarta, Kamis (30/4/2026). Polda Metro Jaya bersama Kodam Jaya dan Pemprov DKI Jakarta menyiapkan 24.980 personel untuk pengamanan aksi Hari Buruh di Jakarta yang berpusat di kawasan Monas dan depan Gedung DPR/MPR.
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Peringatan Hari Buruh Internasional tahun ini dinilai membawa nuansa berbeda.
Anggota DPR RI Fraksi Partai Gerindra, Azis Subekti, menyebut peringatan yang dipusatkan di Monumen Nasional (Monas) dengan rencana kehadiran Presiden Prabowo Subianto menjadi sinyal penting kedekatan negara dengan buruh.
“Setiap 1 Mei, kita diingatkan bahwa kerja bukan sekadar aktivitas ekonomi, melainkan fondasi martabat manusia. May Day itu bukan seremoni, tapi momen ketika suara buruh mencari tempatnya di ruang publik,” ujar Azis kepada media di Jakarta, Sabtu (1/5/2026).
Ia menilai langkah memusatkan peringatan di Monas bukan sekadar simbolik, tetapi juga politis.
“Monas selama ini identik dengan representasi kekuasaan. Ketika buruh hadir di sana, apalagi dengan kehadiran presiden, itu artinya negara memilih untuk terlihat—dan siap untuk diuji,” katanya.
Meski demikian, Azis mengingatkan bahwa kehadiran fisik pemerintah tidak cukup untuk menjawab persoalan ketenagakerjaan yang selama ini berulang.
“Sejarah kebijakan publik selalu menunjukkan, kehadiran yang paling penting bukan yang tampak, melainkan yang bekerja,” tegasnya.
Menurutnya, isu ketenagakerjaan di Indonesia masih berada dalam tarik-menarik antara kepentingan investasi dan perlindungan buruh.
“Negara ingin menjaga daya saing ekonomi, tapi buruh menghadapi realitas upah yang belum memadai, status kerja yang rapuh, dan perlindungan yang belum konsisten,” jelasnya.

2 hours ago
3

















































