Menenun Cahaya di Balik Layar: Refleksi Sinematik Ramadhan 1447H.

1 week ago 6

Oleh : Fajar Syuderajat, Dosen Televisi dan Film, Fikom Unpad.

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Fajar Syuderajat, Dosen Televisi dan Film, Fikom Unpad.

Aroma santap bersama dan riuh pasar takjil segera menyapa indra kita. Ramadhan 1447 Hijriah (2026) bukan sekadar siklus tahunan, melainkan jeda kolektif untuk membasuh jiwa, meski secara ironis sering kali melambungkan belanja rumah tangga. Fenomena ini menciptakan apa yang disebut sosiolog Jean Baudrillard sebagai "Simulakra"—di mana citra tentang Ramadhan (konsumerisme dan kemeriahan visual) terkadang menjadi lebih nyata daripada hakikat puasa itu sendiri. Ada paradoks tajam antara perintah menahan nafsu dengan realitas perayaan yang berlimpah.

Sebagai akademisi sekaligus praktisi perfilman, saya melihat Ramadhan memiliki dimensi tambahan: ia adalah "Lebarannya" industri media. Di Indonesia, layar kaca dan layar lebar adalah cermin sosial. Merujuk pada teori Cermin (Mirror Stage) dari Jacques Lacan dalam psikoanalisis, penonton cenderung mencari refleksi identitas diri mereka di layar. Namun, muncul pertanyaan mendasar: di manakah titik temu antara hiruk-pikuk industri visual ini dengan kekhusyukan ibadah puasa?

Dialektika Estetika dan Spiritualitas

Sering kali, layar kita terjebak dalam komodifikasi agama. Bagaimana "hidayah" diproduksi massal dalam skema stripping harus dievaluasi keras. Dalam perspektif Komodifikasi Konten (Vincent Mosco), agama tidak lagi dipandang sebagai nilai sakral, melainkan komoditas yang dikemas demi nilai tukar (exchange value) berupa rating. Tobat digambarkan secara instan melalui air mata buatan, seolah-olah transformasi spiritual bisa dicapai hanya dengan perubahan kostum dan artefak artifisial lainnya.

Padahal, jika kita meminjam pemikiran Paul Schrader tentang Gaya Transendental dalam Film (Transcendental Style in Film), kehadiran Yang Ilahi justru sering kali muncul dalam keheningan dan ruang-ruang kosong, bukan dalam dramatisasi yang meledak-ledak. Pendakian batin adalah proses yang sunyi, bukan teatrikal yang diinterupsi pesan sponsor.

Sejatinya, film adalah bahasa universal. Namun, saat Ramadhan, ia menjadi "bahasa spiritual." Indonesia unik karena melakukan penyesuaian program demi ritme ibadah—sebuah bentuk Negosiasi Budaya yang masif. Namun, sayangnya sinetron di tahun 2026 tampaknya masih terjebak pada "religiusitas permukaan" (superficial religiosity).

Estetika malas ini, hanya mengandalkan diksi Arab dan baju koko, gagal mencapai sumsum spiritualitas. Hal tersebut adalah bentuk Representasi Simbolik yang dangkal, yang justru berisiko melanggengkan stereotip alih-alih memberikan pemahaman yang mendalam apalagi mencerahkan.

Hikmat puasa seharusnya terefleksi dalam kualitas produksi yang jujur. Merujuk pada konsep Realisme Ontologis (Andre Bazin), film memiliki kemampuan untuk menangkap "ruh" dari realitas. Jika puasa adalah Imsak (menahan diri), maka estetika film religi pun harus "berpuasa":

1. Menahan diri dari hiperbolisme visual: Tidak perlu manipulasi emosi melalui musik yang meraung.

2. Menahan diri dari eksploitasi kemiskinan: Menghindari poverty porn yang hanya menjadikan penderitaan sebagai alat pemuas dahaga emosional penonton.

3. Menahan diri dari simplifikasi hidayah: Menghormati proses manusiawi yang kompleks, bukan keajaiban instan yang tidak logis secara naratif.

Disclaimer: Pandangan yang disampaikan dalam tulisan di atas adalah pendapat pribadi penulisnya yang belum tentu mencerminkan sikap Republika soal isu-isu terkait.

Read Entire Article
Perekonomian | Teknologi | Alam | Otomotif | Edukasi | Lifestyle |