Chandra Dwi Pranata, CNBC Indonesia
08 March 2026 17:15
Jakarta, CNBC Indonesia — Ketegangan di Timur Tengah yang kembali memuncak membuat beberapa kelompok pun mendeklarasikan perang setelah Iran diserang oleh serangan gabungan Amerika Serikat (AS) dan Israel.
Salah satunya yakni Hizbullah, yang memberi respons terkait situasi Israel dan Iran. Pemimpinnya Naim Qassem berkomentar setelah utusan khusus AS untuk Suriah memperingatkan Hizbullah agar tidak terlibat dalam perang.
Dalam sebuah pernyataan, Qassem mengatakan Hizbullah "tidak netral" dalam konflik antara dua negara adidaya regional itu.
Mengutip AFP, Jumat (20/6/2025), ia mengatakan bahwa kelompok itu akan "bertindak sesuai yang kami anggap tepat dalam menghadapi agresi brutal Israel-Amerika ini".
Hizbullah sendiri merupakan proksi Iran di Timur Tengah. Di akhir 2024 eskalasi terjadi antara Hizbullah dan Lebanon, di mana Tel Aviv membunuh pemimpin terdahulu kelompok tersebut, Hassan Nasrallah.
Keduanya pun menyetujui janji gencatan senjata. Namun serangan Israel masih terjadi ke Lebanon selatan, markas kelompok ini.
Namun, seorang komandan senior kelompok milisi pro-Iran di Irak, Kataeb Hizbullah, dilaporkan tewas dalam serangan yang menghantam wilayah selatan negara itu, sekaligus menambah daftar korban di tengah meluasnya konflik regional yang kini merembet ke berbagai front di Timur Tengah.
Sekretaris Jenderal Kataeb Hizbullah, Ahmad al‑Hamidawi, menyampaikan duka atas kematian komandan mereka, Ali Hussein al‑Freiji, dalam sebuah pernyataan resmi. Ia menggambarkan al-Freiji sebagai "seorang komandan besar" yang telah bergabung dengan kelompok tersebut lebih dari dua dekade lalu.
Menurut dua sumber dari faksi tersebut yang berbicara kepada AFP, sebagaimana dikutip Kamis (5/3/2026), serangan tersebut menghantam sebuah kendaraan di dekat basis utama kelompok itu di Irak selatan. Serangan itu awalnya dilaporkan menewaskan dua orang.
Namun, jumlah korban kemudian bertambah menjadi tiga orang setelah dikonfirmasi bahwa komandan Ali Hussein al-Freiji juga termasuk di antara korban tewas.
Salah satu sumber dari kelompok itu menyebut serangan tersebut sebagai "serangan Zionis-AS".
Basis Jurf al-Nasr, yang menjadi markas kelompok itu, sebelumnya juga disebut sebagai target pertama di Irak dalam serangkaian serangan yang dituding dilakukan oleh Israel dan Amerika Serikat, sebelum kemudian meluas ke wilayah lain.
Mengapa Israel getol mau habisi Hizbullah?
Hizbullah adalah partai politik dan kelompok militan Muslim Syiah yang berbasis di Lebanon, di mana mereka telah membangun reputasi sebagai "negara dalam negara".
Didirikan selama kekacauan Perang Saudara Lebanon selama lima belas tahun (1975-1990), kelompok yang didukung Iran ini didorong oleh penentangan kerasnya terhadap Israel dan perlawanannya terhadap pengaruh Barat di Timur Tengah.
Hizbullah dianggap sebagai organisasi teroris oleh AS dan banyak negara lain, dan memiliki aliansi militer yang mengakar kuat dengan rezim represif dan anti-Israel di Iran dan Suriah.
Secara resmi mengumumkan keberadaannya pada 1985, Hizbullah menyerukan pemerintahan Islam di Lebanon. Mereka menyatakan bahwa konfrontasi mereka dengan Israel "hanya akan berakhir ketika Israel telah dihapus dari keberadaan".
Serangan kelompok tersebut terhadap pasukan Israel secara luas dianggap di Lebanon sebagai faktor penting dalam keputusan Israel untuk mengakhiri pendudukan selama 18 tahun pada 2000. Tanggal kepergian pasukan Israel merupakan hari libur nasional di Lebanon, yang disebut Hari Perlawanan dan Pembebasan.
Setelah itu, Hizbullah menolak tekanan untuk melucuti senjata dan mempertahankan kehadiran militer yang signifikan di Lebanon selatan.
Kelompok tersebut, dan pemerintah Lebanon, menolak untuk menerima temuan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) bahwa penarikan Israel telah selesai, dengan mengatakan bahwa wilayah perbatasan yang dipersengketakan masih diduduki. Baku tembak sporadis dengan pasukan Israel terus berlanjut.
Pada Juli 2006, para pejuang Hizbullah melancarkan serangan lintas perbatasan yang mematikan, memicu respons besar-besaran dari Israel. Lebih dari 1.125 warga Lebanon, sebagian besar warga sipil, tewas selama perang 34 hari tersebut, serta 119 tentara Israel dan 45 warga sipil.
Bulan berikutnya, Dewan Keamanan PBB dengan suara bulat mengesahkan Resolusi 1701, yang mengakhiri perang dan menciptakan zona penyangga antara Israel dan Lebanon. Kesepakatan gencatan senjata saat ini juga menggunakan perjanjian ini sebagai dasarnya.
Pernyataan itu menuntut agar kelompok-kelompok bersenjata non-negara di Lebanon melucuti senjata dan mundur sekitar 30 km (19 mil) ke utara Garis Biru, perbatasan tidak resmi antara Lebanon dan Israel, sejajar dengan Sungai Litani.
Pernyataan itu menyebutkan bahwa area ini "harus bebas dari personel bersenjata, aset, dan senjata apa pun selain milik otoritas Lebanon dan pasukan penjaga perdamaian PBB".
Namun, Hizbullah, yang telah menyatakan kemenangan, tidak mematuhi perintah tersebut dan malah membangun infrastruktur yang luas di daerah itu.
Lebanon mengatakan pelanggaran Israel terhadap resolusi tersebut termasuk penerbangan militer di atas wilayahnya.
Hizbullah juga terus meningkatkan dan memperluas persenjataannya. Dengan pendanaan, pelatihan, dan senjata dari Iran, pasukannya menjadi lebih kuat daripada pasukan tentara Lebanon.
Pada 2009, kelompok tersebut mengeluarkan manifesto politik baru di mana mereka menghilangkan referensi tentang pemerintahan Islam tetapi menolak "kompromi apa pun dengan Israel atau mengakui legitimasinya".
Para pejuangnya juga menjadi berpengalaman dalam perang saudara di Suriah yang bertetangga. Pada 2013, mereka membantu pemerintah Presiden Bashar al-Assad saat itu membalikkan keadaan melawan pasukan pemberontak dan jihadis.
Hizbullah juga dituduh melakukan serangkaian pemboman dan rencana jahat terhadap target Yahudi dan Israel di luar Lebanon.
Hizbullah makin beringas
Bentrokan lintas batas antara Hizbullah dan Israel meningkat dalam beberapa tahun terakhir, terutama di tengah perang Israel yang sedang berlangsung dengan Hamas di Jalur Gaza yang meletus pada Oktober 2023 dan saat ini perang antara Iran vs AS-Israel.
Dalam intensifikasi besar pertempurannya dengan Hizbullah, Israel pada akhir 2024 membunuh pemimpin lama Hassan Nasrallah dan melancarkan serangan darat terhadap kelompok tersebut di Lebanon selatan.
Kemudian pada tahun yang sama, kedua pihak menandatangani gencatan senjata yang rapuh, yang runtuh pada Februari 2026 setelah Hezbollah melancarkan serangan ke Israel sebagai pembalasan atas pembunuhan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei dalam kampanye militer AS-Israel.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(chd/chd)
Addsource on Google

17 hours ago
3
















































