CNN Indonesia
Selasa, 21 Apr 2026 09:00 WIB
Ilustrasi. Setidaknya ada lima tahap yang menggambarkan cara manusia merespons rasa duka. (iStock/M Stock)
Jakarta, CNN Indonesia --
Kehilangan adalah pengalaman yang hampir dialami semua orang, baik itu karena kematian orang tercinta, putusnya hubungan, hingga kehilangan pekerjaan.
Namun, cara setiap orang menghadapi kehilangan bisa sangat berbeda. Tidak selalu rapi, tidak selalu berurutan, dan sering kali terasa membingungkan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Mengutip dari Healthline, untuk memahami proses emosional ini, konsep lima tahap berduka diperkenalkan oleh psikiater di Swiss, Elizabeth Kubler-Ross melalui bukunya On Death and Dying.
Tahap ini kemudian dikenal luas sebagai kerangka untuk memahami bagaimana manusia merespons kehilangan secara psikologis.
Meski tidak bersifat mutlak, lima tahap ini memberikan gambaran secara umum tentang apa yang mungkin dirasakan seseorang saat berduka. Berikut di antaranya.
1. Denial (penolakan)
Fase pertama biasanya ditandai dengan penolakan terhadap kenyataan yang terjadi. Ini bukan bentuk ketidakpedulian, melainkan pertahanan alami tubuh untuk meredam emosi yang terlalu intens.
Seseorang mungkin merasa seolah-olah peristiwa itu tidak benar-benar terjadi. Pikiran 'ini cuma sementara' atau ini pasti salah' sering muncul. Dalam kondisi ini, otak mencoba memberi waktu bagi diri untuk menyerap kenyataan secara bertahap.
Penolakan membantu menahan rasa sakit agar tidak datang sekaligus, meski pada akhirnya emosi tersebut tetap akan muncul.
2. Anger (kemarahan)
Ketika kenyataan mulai terasa nyata, emosi berikutnya yang sering muncul adalah kemarahan. Rasa marah ini bisa diarahkan ke banyak hal, mulai dari orang lain, situasi, diri sendiri, bahkan hal-hal yang sebenarnya tidak berkaitan langsung.
Kemunculan amarah sering kali merupakan bentuk lain dari rasa sakit yang lebih dalam. Di baliknya, ada kesedihan, kekecewaan, atau rasa tidak berdaya yang belum sepenuhnya diproses.
Pada tahap ini, seseorang mungkin merasa dunia tidak adil atau mempertanyakan 'mengapa ini terjadi pada saya'. Meski terlihat negatif, fase ini penting karena menjadi bagian dari pelepasan emosi yang selama ini terpendam.
Simak selengkapnya di halaman berikutnya..
Add
as a preferred source on Google

1 hour ago
2

















































