Direktur Utama PAM Jaya, Arief Nasruddin, saat wawancara dengan Media Indonesia, Jakarta, Senin (11/8/2026) .(MI/Usman Iskandar)
PERCEPATAN perluasan layanan air perpipaan oleh PAM Jaya berkonsekuensi pada mobilitas warga Jakarta. Pembangunan dan rehabilitasi jaringan pipa yang tersebar di berbagai ruas jalan Ibu Kota berpotensi memicu kemacetan akibat proyek galian.
Direktur Utama PAM Jaya Arief Nasrudin mengakui pembangunan jaringan air tidak bisa dilepaskan dari gangguan terhadap aktivitas kota. Berbeda dengan proyek transportasi yang berada di koridor tertentu, jaringan PAM Jaya harus menjangkau pemukiman hingga kawasan terkecil.
“Memang pembangunan kita masif. Tidak seperti MRT atau LRT yang hanya satu jalur. Kita sampai ke kampung terkecil pun akan ada,” kata Arief kepada Media Indonesia, Selasa (11/8).
Saat ini, PAM Jaya terus memperluas sambungan untuk mengejar cakupan layanan 100%. Namun, di sejumlah kawasan, jaringan pipa utama harus dibangun terlebih dahulu sebelum sambungan rumah dapat dilakukan.
Proses penanaman pipa utama hingga pengujian tekanan ini membuat pekerjaan dapat berlangsung cukup lama, bahkan lebih dari satu tahun di beberapa titik.
Tantangan makin bertambah ketika pekerjaan PAM Jaya berjalan berbarengan dengan proyek utilitas lain yang berisiko mempersempit jalan.
Guna mengantisipasi hal tersebut, PAM Jaya memperkuat koordinasi dengan instansi terkait agar pekerjaan galian tidak dilakukan bersamaan di satu jalur. “Pak Gubernur tidak mau itu. Dalam satu line itu coba dideteksi mana duluan. Jangan sampai barengan,” tegas Arief.
Selain koordinasi, PAM Jaya juga menuntut komitmen pihak kontraktor untuk merapikan kembali bekas galian secara optimal setelah proyek selesai.
Menurut Arief, gangguan lalu lintas merupakan konsekuensi yang harus dikelola demi pemerataan air bersih. “Yang penting apa yang digali, dirapikan lagi seperti semula,” kata dia.
JAJAKI IPO DEMI PEMBIAYAAN KREATIF
Di samping membenahi infrastruktur galian di lapangan, PAM Jaya juga mulai menjajaki opsi pendanaan besar melalui penawaran umum perdana saham atau initial public offering (IPO).
Langkah ini diambil untuk memperkuat ekspansi layanan tanpa bergantung penuh pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) DKI Jakarta.
Arief mengungkapkan, penjajakan IPO dilakukan atas arahan langsung Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung, sebagai bentuk pencarian skema pembiayaan kreatif (creative financing).
“Pak Gubernur memang sudah meminta kita menjajaki. Saat ini kita lagi menjajaki potensi karena pendanaan yang dihitung oleh PAM Jaya itu besar sekali. Kita mencoba untuk tidak membebani. Pak Gubernur mendorong creative financing,” ucapnya
PELUANG JADI BUMD AIR PERTAMA DI BURSA
Jika rencana ini berhasil terealisasi, PAM Jaya berpotensi mencatatkan sejarah sebagai BUMD sektor air minum pertama di Indonesia yang melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI).
Meski demikian, Arief menekankan bahwa IPO masih dalam tahap awal. PAM Jaya harus terlebih dahulu membenahi tata kelola perusahaan (good corporate governance), mulai dari profesionalisme, transparansi, hingga kerapian standar operasional prosedur (SOP).
“Untuk menuju IPO perusahaan itu benar-benar harus profesional, transparan, akuntabel. Semuanya mesti dibuka dan SOP-nya harus rapi,” jelas Arief.
Ia memungkasi, langkah melantai di bursa membawa konsekuensi besar terhadap kinerja perusahaan. Oleh karena itu, PAM Jaya memilih tidak terburu-buru mengambil keputusan sebelum seluruh aspek internal siap secara matang. (Far/P-2)















































