Nafsu Perangi Iran, Pentagon Desak Industri Pertahanan AS Percepat Bikin Senjata

4 hours ago 2
Nafsu Perangi Iran, Pentagon Desak Industri Pertahanan AS Percepat Bikin Senjata Steve Feinberg.(Youtube Bloomberg)

DEPARTEMEN Pertahanan Amerika Serikat (Pentagon) secara resmi meminta industri pertahanan nasional untuk segera meningkatkan produksi dan pengiriman senjata secara besar-besaran. Langkah darurat ini diambil guna mengatasi kekurangan amunisi yang sangat parah akibat perang yang sedang berlangsung dengan Iran.

Dalam memo yang diperoleh The Washington Post, Wakil Menteri Pertahanan Steve Feinberg memberikan tenggat waktu tidak lebih dari 21 hari kepada para pemimpin industri untuk menyerahkan rencana percepatan jadwal pengiriman dan peningkatan kapasitas produksi untuk kemampuan kritis.

"Siklus pengembangan selama bertahun-tahun tidak lagi dapat diterima," tulis Feinberg dalam memo tersebut. "Kita harus secara dramatis mempercepat jadwal program dan memperluas kapasitas produksi kita sekarang."

Krisis Stok Amunisi dan Ketegangan Politik

Arahan itu muncul di tengah ketegangan antara Presiden Donald Trump dan Departemen Pertahanan terkait kelangkaan senjata. Meskipun Trump menyatakan melalui Truth Social bahwa AS memiliki jumlah besar amunisi, data lapangan menunjukkan kondisi yang berbeda. Para ahli industri menilai masalah ini akan sulit teratasi selama Kongres masih mengalami kebuntuan dalam mencairkan tambahan anggaran pertahanan.

Pada akhir Juli, kontraktor pertahanan utama seperti Lockheed Martin, Northrop Grumman, dan Boeing, bersama perusahaan rintisan teknologi senjata seperti Anduril dan Palantir, dipanggil ke Gedung Putih. Mereka diminta untuk melobi anggota parlemen secara langsung agar meningkatkan belanja pertahanan melalui rekonsiliasi kongres.

Data Penurunan Inventaris Senjata Kritis

Analisis dari Center for Strategic and International Studies (CSIS) menunjukkan penurunan drastis pada stok senjata AS sejak perang dengan Iran pecah:

  • Rudal Patriot: Turun dari 2.200 unit menjadi kurang dari 827 unit.
  • Rudal THAAD: Turun dari 452 unit menjadi kurang dari 278 unit.
  • Penggunaan Awal: Dalam bulan pertama perang, AS telah menembakkan lebih dari 850 rudal jelajah Tomahawk dan 1.000 pencegat Patriot serta THAAD.

Kondisi stok yang menipis ini dilaporkan telah meningkatkan risiko bagi personel militer AS dan memaksa Gedung Putih untuk menahan diri dari eskalasi serangan lebih lanjut.

Hambatan Anggaran di Kongres

Pentagon mengumumkan beberapa perjanjian kerangka kerja dengan kontraktor untuk meningkatkan pasokan amunisi berbiaya rendah hingga sistem pertahanan udara canggih. Namun, Tom Karako dari CSIS memperingatkan bahwa kesepakatan ini bukanlah kontrak yang mengikat secara hukum dan sangat bergantung pada pendanaan Kongres.

"Ini kesepakatan untuk setuju, jadi bukan kontrak. Hampir tidak ada yang benar-benar dikontrak dan itulah masalahnya," ujar Karako. Strategi akuisisi Pentagon saat ini sangat bergantung pada pengesahan RUU belanja pertahanan senilai US$1,15 triliun (sekitar Rp18.400 triliun) yang masih tertahan karena keberatan dari pihak Demokrat atas kenaikan belanja besar-besaran.

Fokus pada Inovasi dan Kecepatan

Menteri Pertahanan Pete Hegseth menyatakan visinya untuk merombak proses akuisisi Pentagon agar dapat beroperasi dalam kondisi perang. Pentagon bahkan merekrut mantan eksekutif Silicon Valley, seperti Emil Michael (mantan eksekutif Uber), untuk memimpin transformasi inovasi pertahanan.

Dalam memonya, Feinberg menetapkan beberapa program prioritas untuk dipercepat, termasuk program rudal Next Generation Interceptor, sistem radar pertahanan udara seluler, dan sistem pelacakan rudal berbasis ruang angkasa. Industri diminta untuk menunjukkan kesediaan mereka dalam mengambil risiko investasi modal guna mendukung komitmen volume pesanan yang lebih tinggi di masa depan. (The Washington Post/I-2)

Read Entire Article
Perekonomian | Teknologi | Alam | Otomotif | Edukasi | Lifestyle |