Naskah Khutbah Jumat: Empat Cara Mensyukuri Nikmat

2 hours ago 2

Naskah Khutbah Jumat: Empat Cara Mensyukuri Nikmat. Sejumlah warga berwisata di Tebet Eco Park, Jakarta, Kamis (25/12/2025).

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Jajang Sukandar

اْلحَمْدُ للهِ اْلحَمْدُ للهِ الّذي هَدَانَا سُبُلَ السّلاَمِ، وَأَفْهَمَنَا بِشَرِيْعَةِ النَّبِيّ الكَريمِ، أَشْهَدُ أَنْ لَا اِلَهَ إِلَّا الله وَحْدَهُ لا شَرِيك لَه، ذُو اْلجَلالِ وَالإكْرام، وَأَشْهَدُ أَنّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَ رَسولُه،صادِقُ الْوَعْدِ اْلأَمِيْن. اللّهُمَّ صَلِّ و سَلِّمْ وَبارِكْ عَلَى سَيِّدِنا مُحَمّدٍ وعلى اله وأصْحابِهِ وَالتَّابِعينَ بِإحْسانِ إلَى يَوْمِ الدِّين، أما بعد: فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ. اِتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ, فَقَالَ اللهُ تَعَالَى، وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ صَدَقَ اللهُ صَدَقَ اللهُ الْعَلِيُّ الْعَظِيْمُ، وَصَدَقَ رَسُوْلُهُ النَّبِيُّ الْكَرِيْمُ، وَنَحْنُ عَلىٰ ذٰلِكَ مِنَ الشَّاهِدِيْنَ

Sidang Jumat yang dirahmati Allah

Marilah kita sama-sama panjatkan puji dan sukur ke hadirat Allah. Alhamdulillah, di tengah kesibukan, kita masih diberikan kekuatan untuk memenuhi panggilan sholat Jumat ini. Kekuatan itu tentu tidak lahir dari hati yang kosong tanpa keyakinan bahwa hidup bukan sekadar mengejar nikmat duniawi, tetapi juga nikmat ukhrawi.

Shalawat dan salam juga semoga dilimpahkan pada keluarga dan para sahabatnya, juga mudah-mudahan kita diakui sebagai umatnya yang mendapatkan syafaat darinya. Amin ya rabbal alamin.

Khatib berwasiat kepada diri sendiri khususnya dan jama’ah sekalian marilah kita bertaqwa kepada Allah dengan sebenar-benarnya taqwa, semoga kita akan menjadi orang yang istiqamah sampai akhir hayat kita.

Sidang Jumat yang dirahmati Allah,

Pada kesempatan ini, khatib mengangkat tema khutbah Empat Cara Mensyukuri Nikmat.

Secara etimologi nikmat berarti hidup senang dan mewah, asalnya dari bahasa Arab yaitu na’ima, yan’amu, na’matan, wa man’aman, mengikuti wazan fa’ila, yaf’alu. Masdarnya: na’matan, masdar mimnya: man’aman, ketika menjadi isim jadi an-ni’matu, bentuk jamaknya menjadi ni’amun wa an’amun yang artinya kesenangan dan kebahagiaan.

Secara terminologi menurut M. Quraish Shihab, nikmat itu sejalan dengan kesenangan dan kenyamanan hidup manusia. Nikmat menghasilkan keadaan bahagia dan tidak mengarah pada hal-hal negatif, termasuk materi dan non materi. Kata tersebut mencakup keutamaan dunia dan akhirat.

Read Entire Article
Perekonomian | Teknologi | Alam | Otomotif | Edukasi | Lifestyle |