Jakarta, CNN Indonesia --
Beberapa jam setelah Israel dan Amerika Serikat melancarkan serangan terhadap Iran pada Sabtu (28/2), Teheran langsung membalas dengan meluncurkan serangan ke Israel serta aset militer AS di sejumlah negara Arab.
Iran menyasar pangkalan militer dan aset AS lainnya di Bahrain, Arab Saudi, Qatar, Irak, hingga Uni Emirat Arab (UEA).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Meski pada awalnya serangan Iran berfokus pada aset militer AS lainnya seperti kedutaan besar, negara-negara Teluk menyatakan Teheran memperluas serangannya dengan menargetkan infrastruktur sipil, termasuk hotel, bandara, dan fasilitas energi seperti kilang minyak.
Selama sepekan terakhir, serangan terhadap negara-negara Arab semakin meningkat meski sebagian besar rudal dan drone diduga dari Iran berhasil dicegat.
Anehnya, Iran membantah sejumlah serangan rudal yang menyasar negara-negara Arab tersebut, terutama di luar aset militer AS.
Israel mau adu domba Arab vs Iran
Perusahaan energi milik negara Qatar sekaligus produsen gas alam cair (LNG) terbesar di dunia, QatarEnergy, pada Senin mengumumkan penghentian produksi LNG setelah serangan Iran mengenai fasilitas operasionalnya di Ras Laffan dan Mesaieed di Qatar.
Tak lama, pejabat Iran secara terbuka membantah serangannya menargetkan QatarEnergy.
Arab Saudi juga terpaksa menutup operasi di salah satu kilang minyak terbesar di Timur Tengah, Ras Tanura, milik Aramco setelah dua drone nyaris menghantam situs tersebut meski berhasil dicegat.
Pencegatan rudal itu menyebabkan kebakaran yang cukup signifikan di kilang itu. Namun, Iran lagi-lagi membantah serangan itu.
Sementara itu, kantor berita Iran Tasnim melaporkan bahwa pejabat Iran mengeklaim "serangan terhadap Aramco merupakan operasi false flag Israel" dengan tujuan "mengalihkan perhatian negara-negara kawasan dari kejahatan Israel dan menyerang lokasi sipil di Iran."
"Iran secara terbuka telah menyatakan akan menargetkan seluruh kepentingan, instalasi, dan fasilitas Amerika serta Israel di kawasan, dan telah menyerang banyak di antaranya sejauh ini, namun fasilitas Aramco tidak termasuk target serangan Iran," kata sumber tersebut.
Tasnim juga mengutip sumber itu yang menyebut bahwa berdasarkan data intelijen yang mereka terima, Pelabuhan Fujairah di UEA kemungkinan menjadi salah satu target berikutnya dalam operasi bendera palsu yang disebut dilakukan Israel.
False flag operation merupakan tindakan rahasia yang dirancang untuk disalahartikan dan memanipulasi persepsi publik seolah-olah dilakukan oleh pihak lain dan memfitnah pihak tersebut (kambing hitam) sehingga bisa membenarkan tindakan pembalasan/perang.
Sementara itu, dikutip Al Jazeera, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan Teheran tidak akan menargetkan fasilitas sipil, kecuali memang situs tersebut digunakan untuk pasukan AS. Hal itu terjadi dalam serangan AS ke sebuah kompleks hotel di Bahrain yang diketahui menampung tentara AS.
"Kami tidak menargetkan saudara atau tetangga kami di Teluk Persia. Tetapi kami menargetkan kepentingan Amerika, dan itu jelas," kata Araghchi pada Selasa.
"Kami memulai dengan menyerang pangkalan militer mereka (AS), dan mereka mengevakuasi pangkalan tersebut lalu memindahkan personel mereka ke hotel serta menjadikan mereka sebagai perisai manusia. Kami berusaha menargetkan personel militer, infrastruktur, dan fasilitas yang membantu Amerika dan militernya dalam melancarkan operasi terhadap Iran," ucap Araghchi.
Sejumlah pihak termasuk Iran menuding Israel berupaya melancarkan serangan ke sejumlah infrastruktur sipil dan energi di Timur Tengah supaya negara Arab memiliki alasan untuk akhirnya sama-sama menggempur Iran. Apakah benar?
Baca di halaman berikutnya >>>

12 hours ago
3

















































