Para Jurnalis dan Awak Kapal Hilang di Tengah Angin Selatan

10 hours ago 14

REPUBLIKA.CO.ID, BANTEN – Para pewarta foto dan awak kapal yang hilang di perairan Anak Krakatau diketahui berlayar saat angin selatan berhembus kencang. Hembusan angin itu berpotensi menyeret kapal ke Samudera Hindia.

“Sore waktu mereka hilang angin selatan lagi kencang-kencangnya,” ujar Arbi, warga Kecamatan Carita, Kabupaten Pandeglang kepada Republika, Jumat (11/9/2026).

Bagi warga setempat, mengetahui arah angin berhembus hal yang awam. Biasanya, masa-masa saat ini sudah masuk musim angin barat. Namun belakangan, siklus berhembusnya angin kian tak menentu.

Pada Senin sore, saat kapal yang mengarungi perairan Anak Krakatau hilang, angin selatan sedang berhembus. Ombak juga tergolong tinggi, mencapai tiga meter. “Makanya nelayan yang sempat ketemu suruh menepi dulu,” kata dia.

Pertemuan dengan nelayan itu terjadi lepas pukul 18.00. Sang nelayan menyatakan saat itu melihat kapal yang membawa para pewarta foto sedang dalam perjalanan pulang menuju Banten.

Arbi menuturkan, nelayan biasanya tak berani berlayar pada sore hari saat musim angin selatan. Pasalnya, jika mesin mati perahu bisa terseret sampai laut lepas Samudera Hindia.

Sebaliknya, saat musim angin barat ombak bakal menyeret kapal ke arah Banten. Dengan begitu, kemungkinan kapal terdampar di pulau-pulau sekitar Anak Krakatau lebih besar.

Pada Kamis (10/9/2026), sejumlah nelayan sempat mencoba mencari kapal di perairan Lampung. Pencarian itu juga terkendala angin kencang dan ombak tinggi yang mencapai enam meter.

Sosa (50 tahun), warga Carita lainnya menuturkan, kejadian hilangnya kapal di perairan sekitar Anak Krakatau sangat jarang terjadi. Kapal nelayan biasanya hanya berlayar di tepian pada musim angin seperti ini.

Ia yang masih keluarga dari kapten kapal, Warta, menyatakan sejauh ini sang istri masih sangat terpukul dengan hilangnya sang suami.

Laporan SAR Banten, speedboat yang membawa rombongan berangkat dari Dermaga Pagedongan, Carita, pada Senin (7/9) sekitar pukul 14.00 WIB. Di dalam speedboat tersebut terdapat delapan orang, terdiri atas lima jurnalis, kapten kapal, anak buah kapal (ABK), dan seorang guide. 

Rombongan bertolak menuju kawasan perairan Gunung Anak Krakatau untuk melakukan peliputan aktivitas gunung tersebut.

Perjalanan sempat berlangsung dengan komunikasi yang masih terpantau. Pada pukul 14.42 WIB, rombongan diketahui mengirimkan share location kepada rekan jurnalis yang berada di Lampung.

Namun, sekitar 22 menit kemudian, komunikasi dengan rombongan terputus. Tepat pada pukul 15.04 WIB, tidak ada lagi komunikasi yang dapat dilakukan dengan mereka. Lokasi terakhir yang diketahui berada di titik koordinat 6°14'40.52"S 105°40'49.48"T.

Sejak laporan kehilangan kontak diterima, tim SAR gabungan bergerak melakukan pencarian di wilayah perairan Selat Sunda. Upaya pencarian kemudian diperkuat dengan pengerahan sejumlah kapal dari unsur TNI-AL, Basarnas, dan kepolisian dari Polairud. Pencarian terus dilakukan untuk menemukan seluruh anggota rombongan, dengan harapan mereka dapat segera ditemukan dalam kondisi selamat.

Read Entire Article
Perekonomian | Teknologi | Alam | Otomotif | Edukasi | Lifestyle |