REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Pasar kripto merespons kenaikan suku bunga acuan Federal Reserve (The Fed) setelah bank sentral AS menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin (bps) ke kisaran 3,75 persen hingga 4,00 persen. Bitcoin (BTC) justru bergerak naik dari sekitar 75.400 dolar AS menjelang pengumuman menjadi sekitar 76.000 dolar AS setelah keputusan Federal Open Market Committee (FOMC) pada Kamis (17/9).
Kenaikan tersebut menjadi yang pertama dilakukan The Fed sejak 2023 dan telah banyak diperkirakan pasar. Kondisi ini membuat reaksi harga aset kripto tidak semata-mata ditentukan oleh arah suku bunga, tetapi juga oleh ekspektasi yang sudah terbentuk sebelum keputusan, arus dana, sentimen, serta perkembangan di industri kripto.
Chief Marketing Officer Indodax Aloysia Dian menilai, hubungan antara kebijakan makroekonomi dan harga aset kripto tidak selalu berlangsung secara langsung. Menurut dia, sebagian dampak kenaikan suku bunga dapat telah tercermin dalam harga sebelum keputusan diumumkan karena pasar telah mengantisipasinya.
“Kebijakan suku bunga tetap menjadi faktor penting, tetapi bukan satu-satunya penggerak pasar kripto. Reaksi harga juga dipengaruhi oleh ekspektasi yang sudah terbentuk sebelumnya, arus dana, sentimen, serta perkembangan spesifik di industri kripto. Dalam kondisi ini, kenaikan suku bunga sudah banyak diantisipasi, sehingga sebagian dampaknya kemungkinan telah tercermin pada harga sebelum keputusan diumumkan,” kata Aloysia, Jumat (18/9/2026).
Meski Bitcoin menguat setelah keputusan FOMC, arah kebijakan The Fed berikutnya masih menjadi perhatian pasar. Proyeksi terbaru menunjukkan mayoritas pejabat The Fed masih melihat kemungkinan kenaikan suku bunga lanjutan hingga akhir 2026.
The Fed juga menaikkan proyeksi inflasi 2026 menjadi 3,7 persen dari sebelumnya 3,6 persen. Di sisi lain, proyeksi pertumbuhan ekonomi 2026 dinaikkan menjadi 2,3 persen.
Fokus The Fed masih tertuju pada pengendalian inflasi, sedangkan arah kebijakan berikutnya akan bergantung pada perkembangan data ekonomi. Bagi pasar kripto, kondisi tersebut membuat kebijakan moneter AS perlu dilihat bersama faktor likuiditas, arus dana, sentimen pasar, dan perkembangan industri.
Aloysia mengatakan, penguatan Bitcoin setelah keputusan FOMC perlu dilihat dalam konteks kondisi pasar secara keseluruhan.
“Penguatan Bitcoin setelah FOMC perlu dilihat sebagai dinamika pasar yang lebih luas, bukan sebagai tanda bahwa seluruh risiko telah mereda. Investor tetap perlu mencermati arah inflasi, kebijakan The Fed berikutnya, arus dana institusional, dan kondisi likuiditas global,” tambahnya.
Selain kebijakan moneter AS, pasar kripto juga menghadapi faktor spesifik industri, seperti arus ETF Bitcoin, perkembangan regulasi aset digital, sentimen pasar, dan posisi leverage. Faktor-faktor tersebut dapat memengaruhi pergerakan aset kripto secara berbeda dibandingkan aset berisiko lainnya.
Indodax mengingatkan investor agar tidak mengambil keputusan hanya berdasarkan reaksi harga dalam jangka pendek. Profil risiko, pengelolaan posisi, dan riset mandiri tetap menjadi pertimbangan dalam aktivitas transaksi aset kripto.

7 hours ago
7
















































