
Oleh : Mas Alamil Huda, Jurnalis Republika
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Konsekuensi hukum yang menyertai pertunjukan komedi Mens Rea pasti sudah dikalkulasi matang. Pandji Pragiwaksono tentu tidak tanpa bekal melepaskan peluru materi yang penuh risiko. Dalih untuk lepas dari jerat pasal sudah rapi disimpan dalam kotak pembelaan dan siap dikeluarkan jika dibutuhkan. Penggunaan istilah ‘mens rea’ adalah sebuah isyarat bahwa perisai telah digenggam sang komika, bahkan sejak tiket show belum dijual.
Tema hukum dan politik yang disuguhkan Pandji secara telanjang membuka ruang perdebatan awal. Komedi politik biasanya bekerja lewat sebuah sindiran. Metaforis dan implisit. Tapi Pandji tak mengambil cara lama itu. Objek sasarannya disebut jelas. Namanya dilontarkan gamblang. Ia membidik tanpa tedeng aling-aling. Di titik inilah setiap kalimatnya sangat mungkin masuk dalam logika hukum positif. Dengan kata lain, bungkus ‘seni’ bisa tak bekerja untuk Pandji.
Itu akan menjadi satu bab perdebatan sendiri. Tetapi pada lain sisi, kecerdikan Pandji adalah dia tahu persis pasarnya. Ia berdiri di panggung stand up tidak sehari-dua hari. Mens Rea jelas tak sekadar tentang sebuah komedi. Bukan juga sebatas pasal, laporan polisi, atau ruang ekspresi. Pandji dan Mens Rea-nya telah membuka satu lapisan persoalan krusial; tentang relasi kelas dalam topik politik dan turunannya. Ia melebarkan luka dengan membelah secara diametral kelompok pemilih dalam sudut pandang preferensi politik kelas menengah terdidik.
Audiens utama Mens Rea adalah kelas menengah perkotaan terdidik. Penggunaan istilah ‘mens rea’ atau niat pelaku kejahatan dalam konsep hukum pidana, menjadi indikasinya. Pilihan diksi yang elitis dan tidak semua orang tahu itu tentu tak sekadar pertimbangan artistik, tetapi bisa dibaca sebagai penanda kelas.
Indikasi lainnya, seloroh-seloroh tak seronok yang tidak semua telinga bisa menerima. Tetapi itu lazim dan menjadi penanda kerekatan di kelas menengah perkotaan, terlebih usia muda. Atau identifikasi yang paling gampang adalah tiket offline-nya. Harganya banyak menjelaskan.
Keresahan kelas menengah terhadap kekuasaan dan segala problematika pemerintahan mendapat tempat di Mens Rea. Materi-materi Pandji menjadi santapan lezat mereka. Dia bertutur dengan membuat punch line sangat efektif dalam memvalidasi suasana kebatinan audiens.
Maka tawa yang menggema di ruangan bernuansa hitam tak lagi hanya lelucon, tetapi sebuah deklarasi bersama bahwa ‘kita sefrekuensi’. Ketika itulah, panggung Pandji menjadi identitas politik baru, sekelompok orang yang merasa terdidik, kritis, dengan kesadaran dan berpikir jauh ke depan.
Merasa ‘lebih’ inilah yang kemudian membuat kental kesan eksklusif. Nuansa bullying pada publik yang dianggap permisif menjadi kian terasa. Standar ideal memilih pemimpin dalam kaca mata Pandji dan audiensnya seolah musti jadi guidance. Masalah pun lantas seiring mengikuti setelah semua melampaui batas ruang kelas menengah. Materi Pandji masuk ke ruang publik yang lebih luas.
Meski Pandji tak eksplisit menyebut pemilih Prabowo-Gibran ‘bodoh’, tetapi narasi yang dibangun dengan sangat mudah diterjemahkan dan dirasa. Ia membuat demarkasi yang jelas, antara yang kritis dan manut, antara yang berpikir dan sekadar ikut arus, antara yang mengerti hukum dan awam, atau mereka yang rasional dengan yang asal ‘gemoy dan joget’.
Batas pemisah yang dibuat itu bisa merobek kohesi sosial. Tak semua orang bisa menerimanya karena materi di panggung komedi yang terasa menghakimi. Pengalaman hidup kelas bawah dan segala dinamikanya tak pernah secara serius dijadikan variabel untuk mengimbangi narasi yang disuguhkan. Bagi kelas bawah, politik lebih sering bukan semata idealisme. Bisa jadi karena justru akumulasi dari harapan-harapan yang tak pernah mewujud meski kepemimpinan berganti untuk kali kesekian melalui sistem pemilihan yang sama.
Menjustifikasi pilihan politik lain orang sebagai kegagalan nalar dan rasionalitas tanpa melihat latar belakang secara utuh adalah kecacatan itu sendiri. Klaim ‘paling tepat’ atas standar berpikir tertentu tak akan pernah bisa dijadikan ukuran umum. Dalam konteks demokrasi, Mens Rea menunjukkan adanya paradoks di kelas menengah (yang merasa) terdidik di Indonesia saat ini.
Pandji pasti tidak buta dengan realitas sosial di luar kelas menengah. Tapi dia tahu pasarnya. Ia berhak memilih sudut pandangnya. Menjadi haknya pula untuk berdiri pada posisi saat ini. Keberanian Pandji patut diapresiasi dan layak dihargai sebagai komika yang kritis terhadap isu-isu politik dan kebangsaan.

3 hours ago
2
















































