Jakarta, CNBC Indonesia - Perusahaan kripto seperti Coinbase dan Binance berhasil melacak aset kripto hasil penipuan senilai US$ 45 juta (Rp 770 miliar). Pelacakan tersebut dilakukan dalam kerja sama dengan penegak hukum dari Amerika Serikat dan Inggris.
Lewat penyelidikan bersama Badan Kejahatan Nasional Inggris (NCA) dan Paspampres AS (Secret Services), perusahaan kripto berhasil mengidentifikasi 20.000 korban penipuan "approval phising."
Approval phising adalah penipuan yang memancing korban untuk menyetujui transaksi blockchain sehingga penjahat bisa menyedot seluruh isi dompet kripto mereka. Biasanya, link jahat muncul lewat notifikasi atau peringatan yang dikesankan berasal dari pihak tepercaya.
Mereka juga membekukan dana senilai US$ 12 juta yang rencananya akan dikembalikan ke korban penipuan.
"Tim intelijen global kami bekerja sama dengan beberapa penegak hukum dan mitra lainnya dalam sprint yang berpusat di markas NCA di London," kata Coinbase. "Tujuannya sederhana, mengidentifikasi korban, melacak dana, dan merusak infrastruktur yang digunakan untuk penipuan secepat mungkin."
Operasi penyelidikan itu diberi nama "Operation Atlantic. Mitra industri lain yang ikut serta antara lain adalah Chainalysis, Kraken, dan Tether.
Menurut Decrypt, penipuan terkait kripto di Amerika Serikat sepanjang 2025 menciptakan rekor baru. Dana senilai US$ 11,4 miliar dilaporkan hilang, lompat 22 persen dari tahun sebelumnya.
Menurut Secret Service, 120 domain web yang digunakan untuk penipuan berhasil diidentifikasi. Secret Service adalah badan pemerintahan AS yang bertanggung jawab atas pengamanan pejabat tertinggi termasuk presiden dan "menjaga" mata uang AS termasuk penyelidikan penipuan keuangan.
(dem/dem)
[Gambas:Video CNBC]

14 hours ago
2

















































