(Dok. Pribadi)
MENTERI Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti sering menegaskan pentingnya pendekatan deep learning dalam meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia. Karena itu, tidak aneh perbincangan mengenai deep learning, atau pelajaran mendalam, semakin mengemuka dalam dunia pendidikan Indonesia akhir akhir ini. Gagasan tersebut bukan sekadar perubahan istilah dalam pembelajaran, melainkan juga perubahan cara pandang terhadap hakikat pendidikan. Yang ingin dibangun bukan peserta didik yang sekadar menguasai materi, melainkan juga insan yang mempunyai kemampuan berpikir kritis, kreatif, kolaboratif, dan memiliki karakter yang kuat.
Perubahan paradigma pendidikan itu patut diapresiasi. Selama bertahun-tahun, pendidikan kita sering terjebak pada orientasi administratif: menyelesaikan silabus, mengejar target kurikulum, dan memperoleh nilai ujian yang tinggi. Akibatnya, pembelajaran tidak jarang menjadi kegiatan menghafal, bukan memahami. Siswa mengetahui banyak hal, tetapi tidak selalu mengerti makna dan keterkaitan pengetahuan yang mereka pelajari.
Namun demikian, keberhasilan pelajaran mendalam tidak hanya ditentukan pergantian kurikulum ataupun penyusunan modul pembelajaran semata. Namun, faktor yang paling menentukan tetaplah berada pada sosok guru. Guru ialah aktor utama yang menghidupkan proses belajar di ruang kelas.
Pelajaran mendalam menuntut keseriusan guru sejak tahap perencanaan. Guru perlu memahami karakter peserta didik, memilih strategi pembelajaran yang tepat, menghubungkan materi dengan realitas kehidupan, serta menciptakan ruang dialog yang memungkinkan siswa bertanya, berdiskusi, dan menemukan sendiri makna dari apa yang dipelajarinya. Dalam pembelajaran seperti itu, guru tidak lagi menjadi satu-satunya sumber pengetahuan, tetapi juga fasilitator yang membimbing proses berpikir.
Apalagi pada era kecerdasan artifisial (AI) ini, peran guru justru semakin penting. AI mampu menyajikan informasi dalam hitungan detik, tetapi tidak mampu menggantikan sentuhan kemanusiaan dalam pendidikan. Guru membentuk karakter, membangkitkan semangat, menanamkan nilai, mengembangkan empati, dan membimbing peserta didik mengambil keputusan yang bermoral. Semua itu merupakan dimensi pendidikan yang tidak dapat digantikan teknologi.
Keseriusan guru juga tecermin pada kemauan mereka untuk terus belajar. Dunia berubah sangat cepat. Pengetahuan berkembang, teknologi terus diperbarui, dan karakter peserta didik pun mengalami perubahan. Guru yang berhenti belajar akan kesulitan membimbing murid yang merupakan generasi yang hidup di tengah perubahan cepat. Sebaliknya, guru yang terus meningkatkan kompetensi mereka akan mampu menjadikan teknologi sebagai mitra untuk memperkaya pembelajaran.
AMANAH YANG MULIA
Dalam perspektif Islam, profesi guru merupakan amanah yang sangat mulia. Allah SWT berfirman: "Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat." (QS Al-Mujadilah: 11).
Ayat itu menunjukkan ilmu pengetahuan merupakan jalan menuju kemuliaan. Namun, ilmu tidak akan melahirkan peradaban tanpa adanya pendidik yang mengajarkannya dengan kesungguhan dan keikhlasan. Rasulullah SAW juga mengingatkan bahwa Allah mencintai seseorang yang bekerja secara profesional (itqan) dan keseriusan (ihsan). Nilai itqan dan ihsan yang semestinya menjadi budaya kerja para guru Indonesia sehingga murid bisa belajar dengan mendalam dan serius.
Keseriusan guru tentu harus diimbangi keberpihakan negara pada kualitas mereka. Guru memerlukan pelatihan yang bermutu, lingkungan kerja yang kondusif, penghargaan yang layak, serta pengurangan beban administratif yang selama ini sering menyita energi mereka. Guru hendaknya diberi ruang lebih luas untuk berinovasi dalam pembelajaran daripada disibukkan pekerjaan administratif yang berlebihan.
Selain itu, keluarga dan masyarakat mempunyai tanggung jawab yang tidak kalah penting. Pelajaran mendalam hanya dapat tumbuh apabila sekolah, orangtua, dan masyarakat membangun ekosistem belajar yang saling menguatkan. Pendidikan bukan hanya urusan sekolah, melainkan juga gerakan bersama untuk membangun sumber daya manusia yang unggul dan berdaya.
SUMBER DAYA MANUSIA
Sekarang Indonesia sedang mempersiapkan generasi emas 2045. Target tersebut akan tercapai jika terdapat peningkatan pembangunan fisik atau kemajuan teknologi dan yang tidak kalah pentingnya, adanya sumber daya manusia (SDM) yang mempunyai soft skill cerdas, berintegritas, berakhlak mulia, serta mampu menghadapi perubahan global dengan percaya diri.
Untuk terwujudnya SDM tersebut, salah satu upayanya ialah menerapkan pelajaran mendalam di sekolah. Di antara faktor untuk mewujudkan pelajaran mendalam ialah adanya keseriusan guru untuk mengajar. Di tangan guru yang mengajar dengan hati, ilmu tidak akan berhenti menjadi hafalan, tetapi juga akan berubah menjadi kebijaksanaan. Dari ruang-ruang kelas yang dipenuhi guru-guru yang berdedikasi, masa depan Indonesia sesungguhnya sedang dibangun.
Yang jadi masalahnya sekarang, jika guru dituntut peran maksimal di ruangan kelas, mereka harus dibebaskan dari tuntutan untuk pemenuhan kebutuhan basic mereka yang kadang menyita tenaga dan perhatian mereka. Di sinilah perlu dipikirkan konsekuensi tuntutan guru harus fokus dan serius dalam mengajar. Perlu dicukupkan kebutuhan dasar mereka dengan menaikkan tingkat kesejahteraan mereka. Mengabaikan kesejahteraan mereka berujung pembelajaran mendalam tidak akan maksimal.















































