Pemeriksaan Mata Berkala Bantu Lansia Pertahankan Kualitas Penglihatan

2 hours ago 6
Pemeriksaan Mata Berkala Bantu Lansia Pertahankan Kualitas Penglihatan Holywings Peduli menggelar kegiatan pemeriksaan kesehatan mata gratis, seminar edukasi kesehatan mata, serta pembagian kacamata baca gratis di Cecilia Bar, Jakarta, Sabtu (11/7). Kegiatan bertema 'Mata Sehat, Lansia Bahagia' tersebut diikuti warga lanjut u(Dok. Holywings Group)

MENURUNNYA fungsi penglihatan menjadi salah satu persoalan kesehatan yang paling sering dialami masyarakat seiring bertambahnya usia. Sayangnya, banyak gangguan mata berkembang tanpa gejala pada tahap awal sehingga baru disadari ketika kondisi sudah cukup berat. Padahal, pemeriksaan mata secara berkala dapat membantu mendeteksi berbagai penyakit lebih dini sekaligus mencegah penurunan kualitas hidup pada usia lanjut.

Kesadaran tersebut menjadi salah satu alasan pentingnya memperluas akses pemeriksaan kesehatan mata bagi masyarakat, khususnya kelompok lanjut usia. Selain membantu mengetahui kondisi penglihatan, pemeriksaan juga memastikan seseorang menggunakan kacamata dengan ukuran yang tepat sehingga tetap dapat menjalankan aktivitas sehari-hari secara mandiri.

Dalam upaya mendukung kesehatan lansia, Holywings Peduli menggelar kegiatan pemeriksaan kesehatan mata gratis, seminar edukasi kesehatan mata, serta pembagian kacamata baca gratis di Cecilia Bar, Jakarta, Sabtu (11/7). Kegiatan bertema 'Mata Sehat, Lansia Bahagia' tersebut diikuti warga lanjut usia dari Kelurahan Petogogan, Jakarta Selatan.

Para peserta menjalani serangkaian pemeriksaan mulai dari tes ketajaman penglihatan, konsultasi dengan Refraksionis Optisien (RO) atau optometris, hingga pemeriksaan refraksi untuk mengetahui kebutuhan koreksi penglihatan. Setelah pemeriksaan selesai, peserta yang membutuhkan langsung menerima kacamata baca sesuai hasil pemeriksaan.

Selain layanan pemeriksaan, peserta juga mengikuti seminar bertajuk 'Pentingnya Menjaga Kesehatan Mata pada Lansia'. Dalam sesi tersebut dijelaskan bahwa penurunan fungsi penglihatan merupakan bagian dari proses penuaan, namun berbagai gangguan mata tetap dapat dideteksi lebih awal melalui pemeriksaan rutin sehingga risiko kehilangan penglihatan dapat ditekan.

Komisaris Utama Holywings Group sekaligus Ketua Program Holywings Peduli, Andrew Susanto, mengatakan akses terhadap pemeriksaan mata dan alat bantu penglihatan menjadi salah satu kebutuhan penting bagi lansia.

"Kami berharap kegiatan ini dapat membantu para lansia memperoleh akses pemeriksaan mata yang baik sekaligus mendapatkan kacamata yang sesuai dengan kebutuhan mereka. Penglihatan yang baik akan membuat mereka tetap mandiri, produktif, dan menikmati aktivitas sehari-hari dengan lebih nyaman. Melalui Holywings Peduli, kami akan terus menghadirkan program-program sosial yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat," ujar Andrew.

Berbagai gangguan mata yang umum menyerang lansia
Optometris Level VI Zakaria Efendi, S.Tr.Kes., S.KM., M.M., menjelaskan bahwa seseorang berusia 40-64 tahun disarankan menjalani pemeriksaan mata lengkap setiap satu hingga dua tahun, meski belum memiliki keluhan. Sementara mereka yang berusia di atas 65 tahun sebaiknya memeriksakan mata setidaknya satu kali setiap tahun.

Frekuensi pemeriksaan dapat lebih sering pada orang yang memiliki diabetes, hipertensi, riwayat glaukoma dalam keluarga, rabun tinggi, maupun pernah menjalani operasi mata.

"Pertimbangannya, banyak penyakit mata pada usia lanjut berkembang secara perlahan tanpa gejala pada tahap awal. Pemeriksaan rutin membantu mendeteksi penyakit lebih dini sehingga peluang mempertahankan penglihatan menjadi lebih baik," ujarnya.

Menurut Zakaria, terdapat sejumlah gangguan mata yang paling sering ditemukan pada lansia di Indonesia.

Yang pertama adalah presbiopia atau mata tua, yaitu kondisi ketika mata mulai kesulitan melihat objek dekat. Gangguan ini hampir dialami semua orang setelah usia 40 tahun dan umumnya dapat diatasi dengan penggunaan kacamata baca atau lensa multifokal.

Selain itu terdapat katarak, penyebab utama kebutaan yang sebenarnya dapat diobati. Katarak terjadi akibat lensa mata menjadi keruh sehingga penglihatan tampak berkabut, warna terlihat kusam, dan penderita sering merasa silau ketika melihat cahaya. Penanganan utama dilakukan melalui operasi apabila sudah mengganggu aktivitas.

Gangguan lain yang perlu diwaspadai adalah glaukoma, yang sering dijuluki 'pencuri penglihatan' karena berkembang tanpa gejala pada tahap awal. Penyakit ini disebabkan kerusakan saraf mata yang kerap berkaitan dengan tingginya tekanan bola mata dan dapat menyebabkan kebutaan permanen apabila terlambat ditangani.

Lansia juga berisiko mengalami degenerasi makula terkait usia (Age-related Macular Degeneration/AMD) yang menyerang pusat penglihatan sehingga penderitanya kesulitan membaca, mengenali wajah, atau melihat garis lurus secara normal.

Sementara pada penderita diabetes, retinopati diabetik menjadi ancaman serius akibat kerusakan pembuluh darah retina karena kadar gula darah yang tinggi. Penyakit ini juga sering tidak menimbulkan gejala pada tahap awal.

Gangguan lain yang banyak dijumpai adalah mata kering, yang terjadi akibat berkurangnya produksi air mata sehingga mata terasa mengganjal, perih, mudah lelah, dan terkadang penglihatan menjadi kabur.

Jangan asal ganti kacamata
Zakaria mengingatkan bahwa pergantian lensa kacamata tidak didasarkan pada jadwal tertentu, melainkan mengikuti hasil pemeriksaan mata.

Lensa sebaiknya diganti apabila ukuran sudah berubah, penglihatan kembali kabur, muncul keluhan sakit kepala atau mata cepat lelah, maupun ketika lensa sudah rusak dan banyak goresan. Karena itu, pemeriksaan mata secara berkala jauh lebih penting dibanding sekadar mengganti lensa setiap tahun.

Ia juga meluruskan sejumlah anggapan yang masih berkembang di masyarakat. Salah satunya adalah anggapan bahwa terlalu sering membaca dapat membuat minus atau plus mata bertambah.

Menurutnya, membaca tidak menyebabkan rabun maupun presbiopia menjadi lebih parah. Yang dapat terjadi adalah mata terasa lelah apabila pencahayaan kurang, posisi membaca tidak nyaman, atau ukuran kacamata sudah tidak sesuai. Bahkan, membaca tetap menjadi aktivitas yang baik untuk menjaga fungsi kognitif pada lansia.

Mitos lain yang perlu diluruskan adalah anggapan bahwa katarak dapat sembuh hanya dengan obat tetes atau ramuan herbal. Hingga kini, operasi tetap menjadi terapi yang terbukti efektif ketika katarak telah mengganggu penglihatan.

Zakaria juga menegaskan bahwa kacamata tidak membuat mata semakin rusak. Sebaliknya, penggunaan kacamata dengan ukuran yang tepat membantu penglihatan menjadi lebih jelas sehingga aktivitas sehari-hari dapat dilakukan dengan lebih nyaman.

Pola makan ikut menjaga kesehatan mata
Selain pemeriksaan rutin, kesehatan mata juga dipengaruhi pola hidup sehari-hari. Zakaria menyarankan masyarakat memperbanyak konsumsi sayuran hijau seperti bayam, kangkung, dan brokoli yang mengandung lutein dan zeaxanthin, serta wortel, labu, dan ubi sebagai sumber beta-karoten.

Buah-buahan kaya vitamin C, ikan berlemak seperti salmon, sarden, tuna, dan makarel, telur, kacang-kacangan, biji-bijian, serta sumber seng seperti daging tanpa lemak dan seafood juga baik untuk menjaga fungsi mata.

Ia juga mengingatkan pentingnya mencukupi kebutuhan air putih, membatasi konsumsi gula dan makanan ultraproses, mengendalikan diabetes maupun hipertensi, serta menghindari kebiasaan merokok yang diketahui meningkatkan risiko katarak dan degenerasi makula.

Salah seorang peserta kegiatan, Aminah (60), mengaku terbantu dengan layanan pemeriksaan tersebut.

"Saya sudah lama kesulitan membaca karena mata mulai kabur. Hari ini saya diperiksa, diberi penjelasan mengenai kondisi mata saya, dan mendapatkan kacamata secara gratis. Sekarang saya bisa membaca dan beraktivitas dengan lebih nyaman," ujarnya.

Dalam kesempatan yang sama, Holywings Peduli juga menyerahkan sejumlah bantuan bagi masyarakat berupa satu unit perahu karet untuk mendukung kesiapsiagaan banjir, meja dan 50 kursi untuk pelayanan masyarakat, serta peralatan pemeriksaan kesehatan bagi operasional Posyandu dan Posbindu. Bantuan tersebut diharapkan dapat memperkuat layanan kesehatan dasar sekaligus mendukung kesiapsiagaan warga menghadapi kondisi darurat. (E-1)

Read Entire Article
Perekonomian | Teknologi | Alam | Otomotif | Edukasi | Lifestyle |