Jakarta, CNBC Indonesia - Pemerintah menyiapkan anggaran hampir Rp10 triliun untuk program peremajaan kebun rakyat guna meningkatkan produktivitas komoditas perkebunan sekaligus kesejahteraan petani. Program tersebut mencakup berbagai komoditas unggulan, mulai dari kelapa hingga kakao dengan target 870.000 hektare (ha) kebun rakyat.
Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) Sudaryono menjelaskan, anggaran sebesar Rp9,95 triliun itu tidak digelontorkan sekaligus, tapi akan dibagi dalam beberapa tahun agar proses penyediaan bibit bisa dilakukan secara bertahap.
"Jadi Rp9,95 triliun dibagi tiga tahun, tahun kemarin, 2025, tahun ini 2026, sama tahun depan 2027. Kenapa dibagi tiga tahun? Karena kan namanya bibit itu kan nggak bisa, oh tanam, tanam misalnya satu juta pohon. Kan bibitnya kan harus dibibit dulu. Jadi kita butuh waktu, makanya perlu tiga tahun," kata Sudaryono kepada wartawan di Kantor Kementan, Jakarta, Kamis (12/3/2026).
Ia menambahkan, dana tersebut juga tidak hanya difokuskan untuk kelapa, tetapi mencakup berbagai komoditas perkebunan strategis yang memiliki nilai ekonomi tinggi di pasar global.
"Terus kemudian nggak semua Rp10 triliun itu untuk kelapa gitu loh. Jadi ada kelapa, ada kakao, ada mete, ada kopi, ada pala, lada, ada gambir," ujarnya.
Menurut Sudaryono, komoditas tersebut dipilih karena memiliki permintaan ekspor yang besar sehingga berpotensi meningkatkan pendapatan petani.
"Jadi komoditi-komoditi yang penting, yang kemudian punya nilai ekonomi besar, berdampak sama petaninya besar, dan nilai ekonominya besar," terang dia.
Ia mencontohkan peluang pasar kelapa yang saat ini meningkat, seiring perubahan pola konsumsi di beberapa negara, termasuk China.
"Kayak kelapa kan sekarang lagi diminati di China, 1,1 miliar lebih penduduknya itu kan dia kayak shifting diet mereka ya. Ternyata minum kopi dicampur santan gitu. Nah, yang beruntung siapa? Kita. Karena apa? Karena santan itu terbuat dari kelapa, dan kelapa tidak semua negara bisa punya tanam kelapa," ujarnya.
Namun, menurutnya, banyak kebun kelapa di Indonesia saat ini sudah tua sehingga perlu diremajakan agar produktivitasnya meningkat.
Adapun anggaran yang dialokasikan untuk peremajaan di tahun ini saja, kata Sudaryono, sekitar Rp5 triliun dari total anggaran tersebut.
"Sekitar Rp5 triliun yang tahun ini. Ya jadi kemarin Rp2 triliunan, sekarang Rp5 triliunan, mungkin tinggal sisanya tinggal Rp1 triliunan (di 2027)," kata Sudaryono.
Program peremajaan ini, lanjutnya, merupakan intervensi pemerintah untuk membantu petani meningkatkan produktivitas dan kualitas hasil perkebunan.
"Jadi Rp9,95 triliun ini tidak berdiri sendiri. Rp9,95 triliun ini adalah intervensi dari pemerintah kepada kelompok-kelompok petani, dalam hal ini peremajaan dari komoditas perkebunan mereka," ujarnya.
Selain peremajaan kebun, pemerintah juga menyiapkan pengembangan industri hilir untuk berbagai komoditas tersebut melalui skema investasi. Nilai investasi yang disiapkan diperkirakan mencapai Rp371 triliun dan tidak berasal dari APBN.
"Turunannya ada namanya hilirisasi. Hilirisasi itu bangun pabriknya, ya kan? Bangun pabrik coconut milk-nya, bangun pabrik gulanya, bangun pabrik cocoa-nya, bangun pabrik kopinya, bangun pabrik gambirnya, bangun pengolahannya," jelas Sudaryono.
Menurut dia, langkah ini penting agar peningkatan produksi dari kebun rakyat juga diikuti dengan penguatan industri pengolahan.
"Nah pengolahannya ini tidak memakai skema APBN. Tapi dibikin semacam ekosistem, ya di mana ini investasi. Ya siapa yang berinvestasi? Yang berinvestasi adalah BUMN dengan leadernya Danantara, melibatkan pihak swasta dan petani," pungkasnya.
(dce)
Addsource on Google

1 hour ago
1

















































