Pengajar Indonesia di Teheran: Serangan Militer Donald Trump ke Iran Hanya akan Merugikan AS

2 hours ago 1

REPUBLIKA.CO.ID, TEHERAN — Ancaman-ancaman perang dari Presiden Amerika Serikat (AS) Donal Trump ke Republik Islam Iran diyakini hanya bakal merugikan Paman Sam. Meskipun tak menutup kemungkinan militer AS benar-benar akan menginvansi negara yang dipimpin Wali Agung Ayatullah Ali Khamenei itu, tetapi serangan tersebut akan berdampak mematikan bagi kawasan Timur Tengah dan merugikan AS.

Direktur Eksekutif Middle East Foresight dan Pengajar Tamu Kajian Asia Tenggara di Universitas Teheran, Purkon Hidayat, mengabarkan krisis keamanan dan anarkisme politik di Iran berangsur mereda. “Alhamdulillah, sejauh ini aman. Aktivitas dan kegiatan masyarakat berangsur normal,” kata dia melalui perbincangan dengan Republika via WhatsApp, Kamis (15/1/2026).

Meskipun masyarakat Iran cemas dengan provokasi Presiden Trump yang mengancam serangan militer, namun kata Purkon, sikap pemerintahan di Tehran menampilkan optimistis perlawanan. “Peluang serangan AS seperti yang terjadi Juni (2025) lalu itu memang ada. Tetapi kalau saya melihat, provokasi (ancaman serangan militer AS) itu hanya sebagai perang psikologis,” kata Purkon.

Menurutnya, Iran tampak percaya diri mampu bertahan dan melawan meskipun Presiden Trump tetap nekat menginvansi Iran. Menurut Purkon, pemerintahan dan militer Iran pun terlihat mampu mengukur kemampuannya untuk membalas serangan-serangan AS yang berujung pada situasi mengerikan di Timur Tengah.

“Dampak serangan (militer AS) itu akan sangat mahal sekali bagi AS dan sekutu-sekutunya di Timur Tengah,” ujar Purkon.

Dia melihat pengalaman AS yang melakukan serangan militer ke Iran pada Juni 2025 lalu. Serangan via udara itu, AS lakukan atas bujukan Zionis Israel yang menjadi sekutu utama Paman Sam di kawasan Timur Tengah itu. Mulanya penjajah Zionis Israel yang cari gara-gara dengan Iran. Lalu Presiden Masoud Pezeshkian memerintahkan milternya membombardir Zionis Israel berhari-hari. Penjajah di Tel Aviv pun meminta bantuan AS lalu menyerang fasilitas-fasilitas pengembangan nuklir Iran.

Iran ketika itu memang tak mampu menembakkan pelurunya langsung ke AS. Namun alat pertahanan Iran mampu menembakkan peluru-peluru kendali ke fasilitas dan pangkalan-pangkalan militer AS di kawasan Timur Tengah, terutama di Qatar. Dari rentetan peristiwa pertengahan tahun lalu itu, kata Purkon melanjutkan, menjadi pengalaman serius bagi negara-negara di kawasan Timur Tengah yang selama ini dijadikan pangkalan-pangkalan militer dan mitra utama AS di Teluk.

“Belum lagi menghitung kerugian dampak dari serangan balik rudal-rudal dan drone-drone dari Iran ke Israel,” ujar Purkon.

Karena itu, menurut Purkon, tak heran belakangan melihat negara-negara Arab dalam merespons ancang-ancang invansi AS ke Iran sekarang ini, menolak membuka kawasan udaranya untuk lintasan serangan jet-jet tempur Paman Sam ke Tehran. Pengalaman tahun lalu, kata Purkon, meyakinkan negara-negara Arab atas dampak ekonomi dan kehancuran yang terjadi atas balasan Iran, jika AS benar-benar menyerang Tehran.

“Saya kebetulan ikut evakuasi Juni lalu, dan berada di udara ketika Iran tembakkan sejumlah rudal ke pangkalan AS di Qatar, akhirnya pesawat melakukan pendaratan darurat di Saudi. Beberapa jam kemudian tiba di Doha, Saya melihat kepanikan di bandara itu. Artinya, beberapa jam saja sudah rugi, kalau perang (AS-Iran) meletus, negara-negara Arab juga dirugikan,” ujar Purkon.

Dan perlu diingat, kata Purkon, Iran pun pasti mengincar sekutu utama AS, Israel yang menjadi sasaran pertama bagi Iran untuk membalas Paman Sam. “Serangan (AS) ke Iran, harus juga dengan menghitung balasannya ke Israel,” kata Purkon.

Read Entire Article
Perekonomian | Teknologi | Alam | Otomotif | Edukasi | Lifestyle |