Ketika Sujud Tumbuh di Tanah yang Pernah 'Dikutuk'

2 hours ago 1

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Di bawah bayang-bayang beton Tol Buah Batu, ada kisah yang tak banyak orang tahu, kisah tentang tempat yang dulu ditakuti, namun kini menjadi ruang orang-orang menundukkan dahi. Bagaimana mungkin sebidang tanah yang lama dicap sarang preman dan transaksi ilegal berubah menjadi rumah ibadah yang terbuka 24 jam?

Dahulu, kolong tol itu lebih sering dihindari daripada dilewati. Aroma oli bekas bercampur sampah menyengat di udara. Genangan air berubah menjadi lumpur licin setiap hujan turun. Tatapan waspada menjadi bahasa sehari-hari. Preman berkeliaran tanpa sungkan, geng motor menjadikannya tempat singgah, dan transaksi ilegal berlangsung nyaris tanpa sembunyi. Ketegangan terasa menggantung, seolah tempat itu memiliki hukumnya sendiri.

Bagi warga sekitar, melintas di sana butuh nyali. Saepul Rohmat (47) masih mengingat masa-masa itu. “Dulu sangat seram. Banyak preman berkeliaran,” kenangnya. Hampir setiap malam ada keributan. Bahkan pernah terjadi penggerebekan karena penjualan oli ilegal. Malam datang lebih cepat bagi warga yang ingin selamat.

Namun perubahan sering lahir dari orang-orang yang pernah menjadi bagian dari gelap itu sendiri. Saepul pernah hidup di pusaran geng motor. Ia mengenal kerasnya jalanan dan aroma adrenalin yang memacu.

Hingga suatu hari, ia memilih hijrah. Ia ingin meninggalkan pola lama dan mendekat pada agama. Bukan sekadar berubah untuk diri sendiri, tetapi juga membawa orang lain keluar dari lingkaran yang sama.

Bersama sembilan rekannya, ia mendirikan Masjid Hijrah Bawah Jembatan Tol Buah Batu, dikenal sebagai Masjid Hijriah BJTB, tepat di bawah jembatan, dekat pintu keluar Tol Buah Batu. Lokasinya strategis, sekaligus rawan. “Kami ingin hijrah dan mendirikan masjid untuk memperbaiki diri,” ujarnya.

Perjuangan itu tidak dimulai dengan semen dan batu bata, melainkan dengan mediasi. Mereka harus berbicara dengan para preman yang telah lama menguasai wilayah tersebut. Kompromi ditawarkan, pendekatan dilakukan perlahan. Sebidang lahan parkir motor berukuran 6×8 meter mulai ditata. Setiap langkah penuh perhitungan; salah gerak bisa memantik konflik.

Penolakan datang. Ancaman terasa nyata. Bahkan pernah hampir seratus motor berkumpul, memicu ketegangan yang membuat mereka harus berjaga dua hari penuh demi mencegah perusakan. “Kami berjaga dua hari penuh, tapi akhirnya masjid aman,” kenang Saepul. Malam-malam itu diisi adrenalin dan doa yang lirih.

sumber : Antara

Read Entire Article
Perekonomian | Teknologi | Alam | Otomotif | Edukasi | Lifestyle |