REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON – Presiden AS Donald Trump mengisyaratkan akan terus melanjutkan serangan ke Iran dengan membunuhi semua penerus potensial kepemimpinan Iran terkini. Ini salah satu pernyataan terkeji soal niatan AS dan sekutunya Israel mengganti rezim di Iran.
Amerika Serikat dan Israel akan melanjutkan perang terhadap Iran, kata presiden AS. Donald Trump menambahkan bahwa kepemimpinan di Teheran kini sedang berantakan.
"Kami berada dalam posisi yang sangat kuat sekarang, dan kepemimpinan mereka terus melemah. Semua orang yang tampaknya ingin menjadi pemimpin, pada akhirnya akan mati," kata Trump dalam pidato langsung yang disiarkan televisi dari Gedung Putih, Rabu.
Pemimpin AS tersebut mengatakan Iran akan memiliki senjata nuklir jika dia tidak membatalkan perjanjian nuklir “Obama” bertahun-tahun yang lalu. Dia memuji perang AS-Israel terhadap Republik Islam, dengan mengatakan bahwa mereka berada dalam “posisi yang sangat kuat”.
“Ini adalah hal luar biasa yang terjadi tepat di depan mata Anda karena selama 47 tahun kita dipermainkan dan kita seharusnya tidak melakukan hal tersebut,” kata Trump.
"Kami membuat kemajuan luar biasa. Rudal-rudal mereka berhasil dimusnahkan... Ini merupakan unjuk kekuatan militer yang luar biasa.”
Sejauh ini, Mojtaba Khamenei telah muncul sebagai kandidat utama untuk menggantikan Ayatollah Ali Khamenei, ayahnya, sebagai pemimpin baru Iran. Putra mantan pemimpin tertinggi tersebut diyakini masih hidup setelah istrinya Zahra Haddad Abdel juga tewas dalam serangan AS-Israel.
Mojtaba Khamenei lahir di kota Masyhad pada tahun 1969, satu dekade sebelum Revolusi Iran. Shah Mohammad Reza Pahlavi digulingkan dari kekuasaan dan Ayatollah Ruhollah Khomeini mengambil alih sebagai Republik Islam baru sebagai pemimpin tertinggi pertama Iran pada tahun 1979.
Pernyataan Trump semalam juga mengindikasikan tak jelasnya tujuan AS menyerang Iran. Alasan terkait hal itu kerap berubah-ubah. Pencegahan kepemilikan senjata nuklir Iran awalnya disebut jadi alasan. Selanjutnya soal rencana Israel menyerang Iran lebih dulu.
Yang terkini, Sekretaris Pers Gedung Putih Karoline Leavitt mengklaim bahwa Trump tersebut “memiliki firasat, berdasarkan fakta, bahwa Iran akan menyerang Amerika Serikat” dan aset-asetnya di Timur Tengah.
“Dia bertekad untuk meluncurkan Operasi Epic Fury berdasarkan semua alasan ini, dan saya ingin media benar-benar melaporkan semuanya, daripada hanya mengambil pernyataan dari orang-orang di pemerintahan dan berkata, 'Oh, mereka bertentangan dengan pihak lain,'” kata Leavitt.
Dia menambahkan, “Keputusan ini tidak dibuat dalam ruang hampa”. “Presiden akan menyerang terlebih dahulu, bersama Israel, dan itu jelas terbukti merupakan keputusan yang tepat, dan efektif,” kata Leavitt.

2 hours ago
2

















































