ilustrasi(Antara)
Pengamat politik dan isu intelijen Boni Hargens meyakini aparat keamanan nasional telah memiliki kesiapan serta strategi kolaborasi yang matang dengan berbagai skenario keamanan dalam menghadapi demonstrasi besar yang berlangsung pada Kamis (27/8). Boni menilai rumor mengenai potensi kekacauan merupakan bagian dari dinamika narasi di ruang publik kontemporer. Menurutnya, hal tersebut tidak otomatis dimaknai sebagai ancaman nyata, namun tetap memerlukan respons yang proporsional dan terukur dari semua pihak.
"Polri bersama TNI dan BIN tentunya sudah memiliki strategi kolaborasi yang efektif untuk menjaga kondisi tetap aman dalam situasi kacau apa pun yang mungkin terjadi," ujar Boni dalam keterangan tertulis di Jakarta.
Antisipasi 'Black Swan Theory'
Meskipun situasi tampak terkendali, Boni menekankan agar kewaspadaan tidak kendur. Ia merujuk pada kerangka analisis keamanan Black Swan Theory (Teori Angsa Hitam), yang menekankan adanya kemungkinan peristiwa tak terduga dengan dampak besar, bahkan tanpa adanya preseden sebelumnya.
Ia berpendapat bahwa logika keamanan harus senantiasa memperhitungkan kemungkinan tersebut, meskipun situasi terlihat normal. Perencanaan skenario terburuk (worst-case scenario planning) dan respons adaptif menjadi kunci utama dalam menghadapi demonstrasi berskala besar.
"Tentu saja kita tidak mengharapkan hal buruk terjadi, namun logika keamanan harus selalu melihat adanya peluang munculnya angsa hitam dalam setiap peluang ancaman," tuturnya.
Boni juga mengajak masyarakat, media, dan pengambil kebijakan untuk merespons isu potensi kekacauan secara proporsional, tanpa meremehkan ancaman namun juga tidak memperkeruh suasana dengan kepanikan yang tidak berdasar.
Kesiapan Personel Polda Metro Jaya
Secara terpisah, Kepolisian Daerah Metropolitan Jakarta Raya (Polda Metro Jaya) telah menyiagakan personel di berbagai titik strategis untuk mengawal aksi unjuk rasa. Pengamanan dilakukan melalui koordinasi dengan TNI, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, serta petugas pengamanan dalam (pamdal).
Fokus pengamanan meliputi kompleks DPR RI serta area sekitar Bundaran Hotel Indonesia menuju Istana Kepresidenan Jakarta. Personel yang ditugaskan dipastikan mencukupi untuk mengawal massa aksi sekaligus menjaga keperluan pengamanan lainnya.
Kabid Humas Polda Metro Jaya Komisaris Besar Polisi Budi Hermanto mengonfirmasi kesiapan tersebut, meski belum memerinci jumlah total personel yang diturunkan ke lapangan. Sementara itu, massa aksi di depan kompleks parlemen dilaporkan mulai menyiapkan atribut tuntutan sejak Kamis pagi. (Ant/E-3)















































