Perang Dagang Memanas! Kanada Balas Tarif Trump hingga 50 Persen

2 hours ago 7
Perang Dagang Memanas! Kanada Balas Tarif Trump hingga 50 Persen Ilustrasi(Magnific)

HUBUNGAN dagang antara dua negara tetangga di Amerika Utara semakin membara. Pemerintah Kanada resmi mengumumkan kebijakan tarif balasan terhadap barang-barang asal Amerika Serikat (AS) dengan besaran mulai dari 15% hingga 50%. Langkah tegas ini diambil untuk menanggapi kebijakan tarif impor dari Washington yang memicu ketegangan ekonomi kedua negara.

Menteri Keuangan Kanada, Francois-Philippe Champagne, mengonfirmasi besaran tarif balasan tersebut sengaja disesuaikan dengan tingkat tarif yang diterapkan oleh AS. Kebijakan ini menyasar berbagai sektor strategis, mulai dari industri baja, produk olahan susu, hingga barang-barang elektronik.

"Ini adalah tantangan yang belum pernah terjadi sebelumnya bagi Kanada. Namun, Kanada siap menghadapinya," ujar Champagne. "Apa yang bisa dilihat oleh warga Kanada pagi ini adalah bahwa kita berdiri bersatu."

Berdasarkan rincian resmi, produk baja dan aluminium asal AS yang sebelumnya dikenakan bea masuk 25% kini akan melambung menjadi 50%. Sektor lain yang dikenakan tarif 25% mencakup peralatan rumah tangga seperti mesin pencuci piring dan mesin cuci, produk olahan susu seperti keju, serta produk turunan baja dan aluminium. Sementara itu, kelompok barang dengan tarif 15% mencakup peralatan dan perkakas listrik, hingga bahan konstruksi kereta api serta ikan segar dan beku.

Penerapan tarif balasan ini dijadwalkan mulai berlaku efektif pada 8 September mendatang. Kerangka waktu tersebut sebelumnya telah digariskan oleh Perdana Menteri Kanada, Mark Carney, setelah Presiden AS Donald Trump memberlakukan bea masuk sebesar 50% yang menyulut eskalasi pekan lalu.

Selain tindakan represif di jalur perdagangan, Pemerintah Kanada juga menyiapkan jaring pengaman domestik. Ottawa mengumumkan paket bantuan ekonomi senilai US$5,4 miliar yang dialokasikan khusus untuk menopang perusahaan dan pekerja yang terdampak langsung oleh konflik dagang ini.

Di sisi lain, Menteri Industri Kanada, Melanie Joly, menyerukan kepada seluruh masyarakat untuk memperkuat dukungan terhadap bisnis lokal. Ia menekankan pentingnya membangun kerja sama dengan sekutu dan mitra dagang baru di tingkat global. Joly juga menegaskan komitmennya untuk berjuang jika Washington merealisasikan ancaman kenaikan tarif pada sektor otomotif Kanada hingga 50 persen.

Eskalasi ini bermula setelah negosiasi perdagangan antara kedua belah pihak menemui jalan buntu di detik-detik terakhir. Kebijakan tarif terbaru dari pihak AS diperkirakan berdampak pada barang-barang Kanada senilai sekitar US$20 miliar, atau menyerap sekitar 5,5% dari total ekspor Kanada ke Negeri Paman Sam.

Situasi kian memanas setelah Trump mengancam akan melipatgandakan tarif untuk produk otomotif Kanada mulai tahun 2027 menjadi 50% persen bagi komponen non-AS. Menanggapi gertakan tersebut, Premier Ontario Doug Ford melontarkan kritik keras dan mengancam akan menerapkan biaya tambahan (surcharge) pada ekspor listrik ke AS.

Saling silang pendapat ini merembet ke ranah personal. Trump sempat mengkritik balik Ford dan secara provokatif menyebut PM Mark Carney sebagai "gubernur", merujuk pada wacana kontroversialnya yang menginginkan Kanada menjadi negara bagian ke-51 AS. Dalam pernyataan terbarunya, Trump bahkan berseloroh mempertimbangkan untuk mengubah nama Danau Ontario menjadi "Danau Amerika".

Para analis dari Oxford Economics memperkirakan tarif baru AS ini akan menaikkan tarif efektif pada ekspor Kanada dari 5,1% menjadi 6,9%, dengan dampak terberat dirasakan oleh para produsen di wilayah Quebec, New Brunswick, dan Ontario.

Meski demikian, dukungan publik di dalam negeri Kanada terhadap ketegangan ini relatif solid. Hasil jajak pendapat dari Angus Reid Institute menunjukkan mayoritas warga Kanada mendukung keputusan PM Carney untuk mundur dari meja perundingan yang dinilai tidak adil, meski sebagian tetap mengkhawatirkan dampak jangka panjangnya terhadap perekonomian nasional. (AFP/Z-2)

Read Entire Article
Perekonomian | Teknologi | Alam | Otomotif | Edukasi | Lifestyle |