Perang Iran Bisa Disetop! Syaratnya, Warga AS Harus Turun ke Jalan

3 hours ago 1

Jakarta, CNBC Indonesia - Agresi Amerika Serikat (AS) dan Israel ke Iran sejak 28 Februari bukan didasari oleh adanya ancaman nuklir. Terungkap, ada alasan-alasan di balik agresi tak terprovokasi tersebut, dan ada cara untuk menghentikannya.

Karena itu, warga AS diminta turut berperan langsung demi menghentikan AS-Israel yang bersekutu menyerang Iran. Memasuki pekan kedua sejak serangan pertama, hari ini, Sabtu (7/3/2026), para pemimpin negara Arab pun telah mulai menunjukkan sikap menyusul semakin meluasnya konflik antara AS-Israel terhadap Iran tersebut.

Seorang politisi kiri Israel, Ofer Casif dalam wawancara dengan laman Rusią RT menyebutkan, perang bisa dihentikan.

Dan, menurutnya, pihak yang paling mungkin menghentikan perang adalah warga Amerika sendiri. Jika publik AS yang menurut jajak pendapat menentang perang, turun ke jalan, perang mungkin berakhir.

"Terutama jika di dalam basis Partai Republik, ada indikasi publik yang sangat jelas menentang agresi tersebut. Trump, terutama menjelang pemilihan paruh waktu, mungkin akan menghentikan perang demi kepentingannya sendiri. Sama seperti Netanyahu, dia juga hanya peduli pada dirinya sendiri," ujarnya dikutip Sabtu (7/3/2025).

"Jadi kuncinya ada di tangan publik Amerika. Jika mereka turun ke jalan atau memberikan tekanan yang cukup pada Trump dan pemerintahannya, saya pikir agresi ini bisa dihentikan," tambahnya.

Perlu diketahui Ofer Cassif adalah satu-satunya anggota Yahudi dari partai Hadash yang mayoritas Arab. Ia telah muncul sebagai salah satu dari sedikit anggota parlemen yang secara terbuka menentang perang tersebut.

Perang Iran Benarkah Bukan Demi Setop Nuklir?

Tak hanya itu, Cassif pun menjabarkan perhitungan politik merupakan alasan perang yang pecah di antara AS-Israel melawan Iran.

Sebagai catatan, belakangan, banyak pertanyaan muncul di media sosial tentang serangan kedua negara itu ke Iran. Intinya, jika memang kedua negara tersebut sangat tak menyukai nuklir yang dikembangkan Iran, mengapa mereka hanya fokus ke negeri itu dan bukan Korea Utara (Korut).

Korut sejak 2024 terang-terangan mengaku sedang melakukan tes untuk senjata nuklir. Bahkan Pemimpin Tertinggi Korut Kim Jong Un minggu ini, dilaporkan mengawasi uji coba kapal perusak angkatan laut negaranya minggu seraya mengklaim Pyongyang sedang dalam proses "mempersenjatai Angkatan Laut dengan senjata nuklir".

Casif pun memberikan penilaian yang sangat kritis terhadap motif, waktu, dan kemungkinan arah perang tersebut. "Alasan sebenarnya di balik agresi tersebut adalah kepentingan politik dan ekonomi pemerintah Israel dan pemerintahan Amerika Serikat, pemerintahan (Donald) Trump," ujarnya dikutip Sabtu (7/3/2025).

Ia mengaitkan ini dengan pernyataan Perdana Menteri (PM) Israel Netanyahu di Juni, setelah serangan pertama ke Iran, yang juga dibantu AS. Netanyahu, kata dia, berbicara bahwa "Kita telah meraih kemenangan bersejarah... melenyapkan proyek nuklir Iran dan industri rudalnya".

"Ini tidak ada hubungannya dengan ancaman, seperti yang baru saja saya sebutkan," ujarnya mengklaim bahwa ia tak memiliki simpati apapun ke rezim Iran bahkan menentangnya.

"Ini sepenuhnya berkaitan dengan kepentingan ekonomi dan politik, termasuk kepentingan pribadi Netanyahu, yang ingin mendeklarasikan pemilihan umum dini dan menampilkan dirinya sebagai penyelamat Israel di hadapan rakyat Iran dan seluruh kawasan," katanya.

Menurutnya, Netanyahu takut dipenjara, menyinggung sejumlah skandal hukum sang PM di Israel beserta keluarganya.

"Dia takut dipenjara. Dia tahu bahwa begitu dia kehilangan kekuasaan politik, dia mungkin akan segera berada di balik jeruji besi karena persidangan yang sedang berlangsung terhadapnya," tambahnya.

"Itulah alasan sebenarnya di balik retorikanya. Dia tidak menyelamatkan dunia dari Islam radikal. Lagipula, saya tidak percaya Islam radikal adalah masalah utama yang dihadapi dunia saat ini. Tentu saja, Islam fanatik adalah masalah, seperti fanatisme lainnya. Tetapi saya tidak berpikir itu lebih buruk daripada kaum evangelis fanatik di Amerika Serikat atau apa yang disebut fanatisme Zionis religius di Israel," jelasnya.

Khusus Trump ia juga menyinggung keinginan sang Presiden menunda pemilu sela AS yang seharusnya dilakukan Oktober. Karena perang pemilu bisa diundur ke Juni 2027.

"Waktu agresi tersebut melayani kepentingan Netanyahu dan Trump, terutama kepentingan pribadi mereka," ujarnya.

"Seperti yang saya sebutkan, ada pemilihan paruh waktu di Amerika Serikat, dan pemilihan di sini seharusnya diadakan pada bulan Oktober tetapi tampaknya mungkin akan diundur ke bulan Juni. Sayangnya, kedua pemimpin ini dan pemerintahan di sekitarnya percaya bahwa agresi semacam itu akan menguntungkan mereka secara elektoral, " tegasnya.

Sementara itu, mantan petugas IFS dan mantan perwakilan PBB, Manjeev Singh Puri, menjelaskan bahwa geografi dan pengaruh regional menjadikan Iran sebagai perhatian strategis yang jauh lebih mendesak. Terletak di jantung Timur Tengah, ambisi nuklir Iran, program rudal, dan dukungannya terhadap kelompok bersenjata regional secara langsung memengaruhi Israel dan sekutu utama AS, tidak seperti ancaman yang relatif terkendali yang ditimbulkan oleh Pyongyang.

"Faktor penting lainnya adalah keamanan energi," ujarnya, dikutip dari The New Indian Express, Sabtu (7/3/2026),

"Iran terletak di sepanjang Selat Hormuz, titik transit minyak vital yang dilalui sebagian besar pasokan minyak mentah dunia," tambahnya.

"Ketidakstabilan apa pun di sana memiliki konsekuensi ekonomi global yang langsung, menjadikan Iran pusat perhitungan internasional."

Puri juga menunjuk pada warisan Donald Trump, khususnya penarikan AS dari kesepakatan nuklir 2015, sebagai titik balik yang memperkeras posisi dan mempersempit ruang diplomatik Inilah yang mendorong ketegangan lebih dekat ke konfrontasi.

(dce)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Perekonomian | Teknologi | Alam | Otomotif | Edukasi | Lifestyle |