Perang Iran vs AS Masih Panas, Bagaimana Kondisi Terkini Selat Hormuz?

8 hours ago 4

Jakarta, CNN Indonesia --

Selat Hormuz menjadi sorotan usai Iran menutup jalur perdagangan ini imbas serangan brutal Amerika Serikat dan Israel ke negara Timur Tengah itu sejak 28 Februari lalu.

Sementara itu, Selat Hormuz merupakan salah satu jalur perdagangan internasional krusial lantaran menjadi jalur 20 persen minyak mentah dunia diangkut.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Perusahaan jasa kesuangan Goldman Sachs sampai mewanti-wanti harga minyak global bisa terus meroket mencapai US$100 per barel dalam beberapa hari mendatang. Harga minyak juga bisa tembus US$150 per barel pada akhir bulan, demikian dikutip The Guardian.

Jika, situasi di Timur Tengah tak berubah dan Selat Hormuz tetap ditutup, maka akan memicu krisis energi atau bahan bakar minyak di berbagai negeri.

Terlepas dari itu, bagaimana kondisi Selat Hormuz saat ini?

Laporan kelompok analisis data, Organisasi Maritim Internasional (IMO), melaporkan sembilan serangan terhadap kapal di Selat Hormuz dalam sepekan terakhir.

[Gambas:Video CNN]

Dari serangkaian serangan itu, empat insiden menewaskan total 7 orang. Pada 2 Maret, kapal-kapal yang diserang mencakup Skylight, MKD Vyom, dan Stena Imperative.

IMO juga melaporkan paada 3-4 Maret, empat kapal lagi ditabrak yakni Libra Trader, Gold Oak, Safeen Prestige, dan Sonangol Namibe, demikian dikutip France24.

Pada 6 Maret, empat orang tewas dalam ledakan di Kapal Musaffah 2. Imbas insiden ini, lima warga negara Indonesia (WNI) terdampak. Lebih rinci, tiga orang masih hilang, satu dirawat setelah tenggelam, dan satu lagi selamat.

Perusahaan keamanan maritim Vanguard melaporkan Mussafah 2 dihantam dua rudal saat mencoba untuk membantu kapal kontainer Safeen Prestige. Kapal ini, lebih dulu terkenal rudal dua hari sebelumnya.

"Laporan insiden baru-baru ini menunjukkan kapal-kapal yang memberi bantuan atau operasi penyelamatan ke kapal-kapal yang sebelumnya jadi sasaran mungkin juga menghadapi serangan lanjutan" demikian peringatan Pusat Informasi Maritim Gabungan (JMIC).

JMIC menjelaskan pola serangan yang diambati terhadap kapal yang berlabuh, kapal yang hanyut, dan kapal yang memberi bantuan menunjukkan operasi tersebut menciptakan ketidakpastian operasional dan menghalangi pergerakan komersial rutin.

"Bukan upaya berkelanjutan untuk menenggelamkan kapal," imbuh JMIC.

Serangan drone dan rudal ke Selat Hormuz yang kadang diklaim Iran tak selalu bisa dikonfirmasi, atau jika pun bisa dikonfirmasi baru beberapa hari setelah insiden.

Selain itu, kapal yang terlibat tak selalu bisa diidentifikasi dan korban jiwa juga bisa bervariasi.

Di waktu normal, Selat Hormuz dilalui kapal yang mengangkut hingga 20 persen minyak dan gas alam cair global. Namun, lalu lintas kapal menurun 90 persen dalam sepekan.

Perusahaan analisis perdagangan Kpler yang mengoperasikan platform MarineTraffic melaporkan hanya sembilan kapal komersial yang terdeteksi melintasi Selat Hormuz sejak Senin pekan lalu.

Beberapa di antaranya kapal tanker, kapal kargo, dan kapal kontainer. MarineTraffine menduga beberapa kapal lain berusaha menyumbikan diri agar tak menjadi target.

Sejak AS-Israel menyerang Iran, pasukan IRGC memang menyatakan bakal menutup total Selat Hormuz. Namun, seiring berjalannya waktu pendapat ini berbeda.

Pada 2 Maret, salah satu jenderal IRGC mewanti-wanti Iran akan "membakar kapal apa pun" yang mencoba menyeberangi selat dan memblokir seluruh ekspor minyak negara-negara Teluk.

Namun pada 5 Maret, Menteri Luar Negeri Iran Abbad Araghchi mengatakan pemerintah "tak berniat" menutup Selat Hormuz.

Di tengah penutupan ini, Presiden AS Donald Trump terus mengancam Iran. Kali ini, dia mengatakan akan memberi respons 20 kali lipat lebih keras jika selat tersebut ditutup.

"Jika Iran melakukan sesuatu yang menghentikan aliran minyak di Selat Hormuz, mereka akan dihantam oleh Amerika Serikat dua puluh kali lebih keras daripada yang telah mereka alami selama ini," kata Trump dikutip Anadolu Agency pada Senin.

(isa/rds)

[Gambas:Video CNN]

Read Entire Article
Perekonomian | Teknologi | Alam | Otomotif | Edukasi | Lifestyle |