Pesan dan Harapan Warga NU Biasa kepada Muktamar ke-35 NU di Jombang

4 days ago 19

Oleh: Lukman Hakim Saifuddin

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Nahdlatul Ulama telah memasuki abad kedua perkhidmatannya. Perjalanan panjang itu bukan semata kisah tentang usia sebuah organisasi, melainkan tentang ikhtiar menjaga dan merawat ajaran Islam Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja), sekaligus menghadirkannya sebagai kekuatan yang memberi kemaslahatan bagi kehidupan bersama.

Dalam pandangan saya, perjuangan dan perkhidmatan NU setidaknya bertumpu pada lima hal mendasar: merawat kemanusiaan, menegakkan keadilan, meningkatkan kualitas pendidikan, kesehatan, ekonomi, dan kehidupan sosial demi kesejahteraan masyarakat, memelihara kebudayaan dan lingkungan hidup, serta menjaga kehidupan kebangsaan yang demokratis.

Kelima wilayah perkhidmatan tersebut menjadi semakin penting ketika NU bersiap menyelenggarakan Muktamar ke-35 di Jombang. Muktamar tentu merupakan forum tertinggi organisasi untuk melakukan evaluasi, merumuskan program, dan menentukan kepemimpinan. Namun lebih daripada itu, muktamar seyogianya menjadi ruang untuk kembali bertanya: ke mana NU hendak membawa perkhidmatannya pada abad kedua?

Ada setidaknya lima hal yang menurut hemat saya patut menjadi perhatian bersama.

Kembali kepada Rujukan Dasar

Pertama, NU perlu senantiasa memastikan bahwa jam'iyyah dan jama'ahnya tidak tercerabut dari nilai-nilai keaswajaan dan ke-NU-an.

Perubahan zaman tentu menuntut perubahan cara kita merespons keadaan. Tantangan yang dihadapi NU hari ini berbeda dengan yang dihadapi para muassis hampir seabad lalu. Namun kemampuan beradaptasi terhadap zaman tidak seharusnya membuat NU kehilangan pijakan yang membentuk jati dirinya.

Karena itu, dalam setiap ikhtiar menjalankan peran dan tugasnya dalam konteks kekinian, para pengurus NU perlu terus meneguhkan diri pada rujukan dasar organisasi: Muqaddimah Al-Qanun Al-Asasi NU, Statoeten NU 1926, Khittah NU 1926, serta keputusan kembali ke Khittah NU 1984.

Rujukan-rujukan tersebut tidak semestinya diperlakukan sekadar sebagai dokumen sejarah. Di dalamnya terdapat nilai, orientasi, dan cara pandang yang dapat menjadi kompas bagi NU ketika berhadapan dengan perubahan sosial, politik, ekonomi, dan kebudayaan.

Zaman boleh berubah. Tantangan boleh berganti. Tetapi NU harus mengetahui dari mana ia berangkat, agar tidak kehilangan arah ke mana ia hendak menuju.

NU dan Tantangan Abad Kedua

Kedua, memasuki abad kedua, tanggung jawab NU justru semakin besar. Bukan hanya dalam kehidupan nasional, melainkan juga dalam percaturan global.

NU dituntut terus mampu mengawal masa depan Islam Indonesia sekaligus memberikan sumbangsih bagi dunia. Tantangannya tidak ringan. Masyarakat berubah menjadi semakin urban, terdidik, muda, terdigitalisasi, dan memiliki wawasan yang semakin global.

Perkembangan teknologi digital, termasuk kecerdasan buatan (artificial intelligence), akan mengubah banyak aspek kehidupan manusia. Cara bekerja berubah, cara belajar berubah, pola interaksi sosial berubah, bahkan cara manusia memperoleh dan memahami pengetahuan keagamaan juga ikut berubah.

Dalam situasi seperti itu, NU tentu tidak cukup hanya mempertahankan cara-cara lama. Yang perlu dijaga adalah nilai dan prinsip dasarnya, sedangkan cara menghadirkannya harus senantiasa mampu menjawab kebutuhan zaman.

Pola dakwah perlu terus dikembangkan. Kemandirian ekonomi jama'ah harus semakin diperkuat. Ketahanan budaya perlu dijaga. Demikian pula kepedulian terhadap kelestarian lingkungan hidup harus menjadi bagian penting dari perkhidmatan NU.

Adaptasi bukan berarti kehilangan jati diri. Justru dengan pijakan nilai yang kokoh, NU dapat lebih leluasa menjawab perubahan zaman tanpa terseret olehnya.

Disclaimer: Pandangan yang disampaikan dalam tulisan di atas adalah pendapat pribadi penulisnya yang belum tentu mencerminkan sikap Republika soal isu-isu terkait.

Read Entire Article
Perekonomian | Teknologi | Alam | Otomotif | Edukasi | Lifestyle |