Peternak Gelar Aksi Protes Mandi Telur di Solo di Tengah Harga yang Terus Anjlok

4 hours ago 8
Peternak Gelar Aksi Protes Mandi Telur di Solo di Tengah Harga yang Terus Anjlok Seorang peternak mandiri melakukan mandir telur di atas mobol boks di kawasan Gladak, saat aksi protes harga yang terus jatuh di pasar ketika harga pakan bertahan tinggi .(MI/WIDJAJADI)

PUSING dan tidak bisa berkata-kata lagi dengan harga pakan yang tetap tinggi, namun harga telur ayam broiler dan daging di pasar rendah, puluhan peternak ayam se-Solo Raya gelar aksi mandi telur serta bagi bagi gratis telur dan ayam hidup, di kawasan Gladak, Solo, Senin (7/7/2026).

"Beginilah nasib peternak ayam petelur dan pedaging mandiri beberapa bulan terakhir ini, adanya pusing dan pusing. Sebab harga pakan tinggi, namun di pasar harga terus anjlog," kata Ketua Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat Indonesia (Pinsar) Jateng, Pardjuni kepada Media Indonesia di sela sela aksi.

Menurut dia, harga telur hari ini bisa menyentuh Rp16.500 di kalangan peternak, sedangkan harga acuan pemerintah Rp19.500. Bahkan ketika harga acuan baru Rp24.000, tetapi harga di pasar masih di bawah.

"Secara logika, kalau harga bahan baku naik, mengapa harga acuan penjualan telur justru diturunkan, kami butuh jawaban," imbuh dia.

Hal sama diungkap koordinator aksi, Chris Handrika yang melontarkan kekecewaan ketika harga ayam di kandang hanya menyentuh Rp12.500 per kilogram, jauh dibawah Harga Acuan Pemerintah (HAP) yang dipatok Rp19.500.

Dalam aksi yang mendapatkan perhatian dari masyarakat yang lewat itu, para peternak membagikan telur ayam hidup. Tiga peti telur atau 50 kg telur dan puluhan ayam hidup dibagikan secara gratis kepada masyarakat.

Bahkan di sela sela aksi protes itu, seorang peternak, memecahkan sejumlah telur dan dipergunakan untuk mandi telur, karena sudah tidak mampu menghadapi situasi harga telur yang terus merosot tajam di tengah harga oakan yang masih menggila tinggi.

Pinsar dan juga kalangan peternak ayam mandiri di Jawa Tengah sangat heran dengan tetap bertahan tingginya bahan bungkil (kedelai impor), meski pemerintah sudah  menerapkan sistem impor satu pintu. 

"Harga bungkil kedelai justru naik hingga Rp 2.000 dalam setengah tahun terakhir. Mestinya dalam hemat kami, ketika sistem imoor satu ointu diterapkan, hsrusnya harga pakan menjadi rendah. Tapi kok tetap tinggi," keluh Chris yang diamini kalangan peternak.

Begitu halnya harga jagung di tingkat peternak yang bertahan di kisaran Rp6.800 hingga Rp7.000 per kilogram, jauh di atas harga acuan pemerintah yang dipatok sebesar Rp5.500.

Yang mengherankan kalangan peternak, kalau telur dilakukan operasi pasar ketika harga tinggi, mengapa hal tersebut tidak dilakukan pada komoditas jagung ketika harganya mahal. "Ini sungguh timpang, kami minta keadilan," tandas mereka yang belakangan ini terus menanggung kerugian ketika telur dan ayam keluar dari kandang.

Dengan Harga Pokok Produksi (HPP) mencapai Rp 26.000 per kilogram, sementara harga jual hanya Rp 16.500, maka peternak merugi sekitar Rp 9.000 hingga Rp 10.000 untuk setiap kilogram telur yang dihasilkan.

"Jadi tolonglah pemerintah secepatnya bergerak membantu," lugas Chris. (H-2)

Read Entire Article
Perekonomian | Teknologi | Alam | Otomotif | Edukasi | Lifestyle |