Jakarta, CNBC Indonesia - Pemegang manfaat akhir (ultimate beneficiary owner) atau pengendali dari emiten konstruksi Berkah Beton Sadaya (BEBS) Asep Sulaeman Sabanda ditetapkan menjadi tersangka dalam kasus manipulasi harga saham BEBS.
Sosok yang secara luas dikenal sebagai Sultan Subang ini menjadi tersangka bersama salah satu Direktur Mirae Asset Sekuritas Indonesia. Dugaan tindak pidana pasar modal ini terjadi dalam kurun waktu tahun 2020 hingga 2022 dan diduga melibatkan Asep selaku beneficial owner PT BEBS dan MWK selaku mantan Direktur Investment Banking Mirae, serta korporasi Mirae, dengan modus insider trading, manipulasi IPO, dan transaksi semu. Rangkaian transaksi tersebut diduga menyebabkan harga saham BEBS di pasar reguler meningkat secara signifikan hingga sekitar 7.150 persen. Penyidik Kelompok Penyidik Sektor Jasa Keuangan Daniel Bolly Hyronimus Tifaona mengungkapkan total keuntungan yang diperoleh dari aktivitas ilegal ini ditaksir mencapai Rp 14,5 triliun. "Itu sekitar ada 2 miliar lembar saham dengan harga saham sekitar Rp 7.000 sekian. Yang totalnya Rp14 - 14,5 Triliun, itu kami freeze. Sementara tidak boleh dilakukan perdagangan," ungkap Bolly dalam konferensi pers, Rabu (4/3/2026).
Sebagai informasi, PT Berkah Beton Sadaya Tbk (BEBS) yang dikendalikan Asep Sulaeman Sabanda (ASS) resmi melantai di BEI pada 10 Maret 2021 dengan menawarkan 2 miliar lembar saham dengan harga Rp 100 per saham, sehingga memperoleh dana IPO Rp 200 miliar. Adapun PT. Mirae Asset Sekuritas Indonesia (MASI) tercatat menjadi satu-satunya underwriter dalam IPO ini.
Tak lama setelah IPO Harga saham BEBS melesat signifikan hingga membuat perusahaan memilih untuk melakukan pemecahan saham 1:5. Pada titik tertinggi harga saham BEBS sempat menyentuh Rp 1.490 per saham atau setara Rp 7.450 per saham sebelum stocksplit.
Artinya total saham IPO (2 miliar lembar sebelum stocksplit/10 miliar lembar setelah stock split) jika dipertahankan pada titik tertinggi (Rp 7.450 per saham sebelum stocksplit/Rp1.490 per saham setelah stock split) akan menghasilkan total keuntungan hingga Rp 14,7 triliun setelah dikurangi modal awal IPO Rp 200 miliar.
Sosok Sultan Subang
Sebelum ramai diperbincangkan di kancah nasional, Asep Sulaeman diketahui memulai bisnis dari berbisnis ayam di kampung. Sepak terjangnya di dunia bisnis dapat ditarik sejak krisis moneter menghantam Indonesia dan sebagian wilayah Asia lainnya.
Krisis ekonomi 1997-1998 membuat Asep Sulaiman Subanda pusing. Lambatnya roda perekonomian dirasakan juga oleh keluarganya yang berternak ayam. Alhasil, untuk meringankan beban dia keluar dari Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi Subang dan memulai merintis bisnis.
Bagi Asep, berdagang bukan hal baru karena saat masih sekolah di Pondok Pesantren Gontor pun dia kerap jualan emperan di Malioboro. Dia juga selalu ikut bapaknya jualan ayam. Jadi bisa dikatakan pengalamannya sudah cukup mandiri untuk berbisnis. Sama seperti Bapaknya, Shobur Tadjudin, dia juga bermain di ternak ayam. Tepat di usia 25 tahun, mulanya dia menyewa lahan milik orang tuanya untuk beternak 10.000 ekor ayam. Ayamnya dibesarkan lalu dijual ke pasaran oleh dirinya sendiri. Dari sini dia dapat untung 10 juta. Keberhasilan ini membuat pria kelahiran 16 Januari 1977 itu melebarkan kandang ayamnya. Setelahnya mampu menampung 60.000 ekor ayam. Tidak seperti sebelumnya, kali ini bisnisnya tidak moncer.
"Asep malah rugi Rp 70 juta karena banyak ayam yang mati terserang penyakit," tulis majalah Akses (Juli 2007) Untuk menambal kerugian dan memulai kembali bisnis dia mulai meminjam uang. Karena kebesaran nama bapaknya, dia jadi mudah memperoleh pinjaman ratusan juta. Dari sini dia membeli ayam sebanyak 80.000 ekor. Sayangnya, ternak ayamnya bangkrut. Alhasil, hutangnya menggunung hingga Rp 180 juta. "Dari sini dia dijuluki 'Si Banyak Utang'," tulis Zuhud Rozaki dalam The Big 4 In Live (2013) Pada momen inilah Asep putus asa. Berbisnis tidak bisa, membayar utang apalagi. Kondisi ini membuat bapaknya prihatin dan hanya memberi motivasi, alih-alih membayar seluruh hutang anaknya. "Utang segitu aja kok dibilang banyak. Dibanding masa depanmu, itu gak ada artinya. Jangan kamu jual masa depanmu. Bahkan kalau semua kekayaan bapak habis, itu tetap tidak ada artinya dibanding asa depanmu," kata Sang Bapak dikutip majalah Akses (Juli 2007). Berkat ucapan bapaknya itu dia mulai mencicil hutang-utangnya. Pada 2001 dia tak lagi bekerja mandiri dan memilih untuk membangun kemitraan. Total ada 600 petani yang tersebar di Subang, Purwakarta, Bandung, Indramayu, Sumedang, Bandung, Garut, sampai Malang. Para petani itu yang kemudian mengelola ternak ayam hingga siap jual ke pasar. Sampai 5 tahun ada 2,2 juta ayam potong yang dipasarkan oleh Asep. Tiap potong ayam Asep mengambil untung Rp 6 ribu. Sisanya diberikan kepada para petani. Keberhasilan ini membuatnya mampu melunasi hutang sekaligus membangun jaringan bisnis bernama Santika Group. Perusahaan ini menyediakan bibit, pakan, obat-obatan dan pembinaan teknis. Termasuk juga proses pemasarannya. Pada 2007, Asep memiliki 32 hektar lahan di 7 lokasi berbeda. Seluruhnya difungsikan untuk ternak ayam yang mampu menampung jutaan ekor ayam. Konon, kepemilikan ini yang terbesar kedua di Asia Tenggara setelah milik Charoeon di Thailand. Dari jualan ayam, Asep dijuluki Sultan Subang karena kekayaan yang dimilikinya. Kini, dia tak hanya berdagang ayam dan mulai merambah ke sektor baru. Asep adalah Direktur Utama PT Sumber Energi Alam Mineral (SEAM GROUP). Mengutip laman resmi perusahaan, SEAM Group merupakan konglomerasi bisnis yang bergerak di empat sektor utama yakni infrastruktur, peternakan unggas, properti dan energi terpadu.
Jadi Pengendali BEBS
Nama Asep tiba-tiba ramai diperbincangkan setelah muncul di KSEI dan diketahui memborong saham BEBS yang telah naik signifikan dari harga IPO.
per tanggal 14 Januari 2022, Asep diketahui memborong 481,65 juta saham MTEL pada tanggal 13 Januari. Ini merupakan aksi perdana, di mana sebelumnya, Asep tidak punya kepemilikan - setidaknya secara langsung - di emiten tersebut.
Total kepemilikan tersebut mewakili 5,35% total saham BEBS, pembelian tersebut dilakukan menggunakan enam sekuritas berbeda atas nama pribadi.
Kala itu, total dana yang dikeluarkan Asep untuk memborong saham emiten beton tersebut ditaksir mencapai Rp 2,42 triliun. Setelahnya, Asep mulai rutin mengakumulasi saham BEB dan lewat sejumlah aksi beli dirinya menjadi pemegang saham mayoritas dan pengendali baru dari BEBS.
Menjadi pengendali BEBS sendiri bukan hal yang susah dilakukan Asep, hal ini karena jejaringnya di Pesantren Al Ihya.
Tiga pimpinan Pondok Pesantren Al Ihya tercatat sebagai tokoh sentral pemilik perusahaan yang bergerak di sektor material tersebut. Pertama ada Zulfikar Mohammad Ali Indra yang tercatat sebagai pemilik manfaat terakhir BEBS saat IPO, kemudian ada Yayan Suryana yang merupakan salah satu pemegang saham utama BEBS kala IPO. Keduanya merupakan wakil pimpinan di pondok pesantren yang berbasis di Subang, Jawa Barat tersebut. Kemudian barulah nama Asep Sulaeman Sabanda mulai muncul di KSEI. Asep tercatat sebagai pimpinan Ponpes Al Ihya.
Zulfikar Mohammad Ali Indra lewat entitas bisnisnya diketahui berhasil menjual sejumlah saham BEBS dan mengantongi hingga Rp 570 miliar.
(fsd/fsd)
Addsource on Google

16 hours ago
2

















































