Psikolog Soroti Kasus Dua Laki-Laki Ciuman di Lingkungan Kampus

3 hours ago 1

Ilustrasi homoseksual. Viral sebuah video yang memperlihatkan dua pria berciuman di lingkungan kampus Politeknik Negeri Jakarta (PNJ).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Baru-baru ini viral sebuah video yang memperlihatkan dua pria berciuman di lingkungan kampus Politeknik Negeri Jakarta (PNJ). Aksi tersebut memicu kemarahan sejumlah mahasiswa hingga keduanya sempat menjalani sidang internal.

Merespons hal tersebut, Guru Besar Psikologi dari Universitas Indonesia, Prof Rose Mini Agoes Salim, mengatakan ketika seseorang melakukan tindakan asusila di ruang publik artinya ia tidak bisa membedakan mana yang baik dan buruk. "Kenapa orang berani melakukan perilaku asusila di depan umum itu sangat tergantung pada pribadi masing-masing. Tergantung dari kemampuan dia membedakan baik dan buruk. Itu semua terbentuk sejak dia kecil," kata Prof Rose saat dihubungi Republika, Rabu (3/6/2026).

la menjelaskan, seseorang yang memahami batasan norma sosial umumnya tidak akan melakukan tindakan asusila di ruang publik. Namun, jika ia tidak memahami norma dan lebih mengutamakan dorongan dalam diri, maka hal tersebut bisa terjadi.

"Kalau ada orang merasa bahwa itu tidak baik dan sebaiknya tidak dipertontonkan di depan umum, maka dia tidak akan melakukannya. Atau mungkin dia belajar bahwa hal-hal seperti itu sifatnya privat, pribadi, jadi dia tidak akan melakukannya. Tapi kalau norma itu tidak ada, kemudian dorongan dalam diri yang lebih dipentingkan, bisa terjadi seperti ini," kata dia.

Prof Rose pun menegaskan bahwa berciuman di ruang publik juga berkaitan dengan aspek moral. "Ini karena masalahnya moral. Dari sisi agama apa pun sebetulnya tidak diizinkan," kata dia.

Dia menjelaskan bahwa dalam dunia psikologi, khususnya dalam Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM), LGBT tidak lagi dikategorikan sebagai penyakit atau gangguan mental. "Kalau LGBT itu adalah sesuatu yang di dalam kamus psikologi, dalam DSM, tidak lagi disebut sebagai penyakit atau gangguan mental. Jadi itu merupakan sebagian dari pilihan hidup atau memang sesuatu yang tidak terlalu menjadi masalah dalam diri seseorang," jelas Prof Rose.

Namun demikian, ia menekankan bahwa orientasi seksual tersebut tidak perlu dipromosikan secara berlebihan. "Jadi kalau soal konten atau kampanye LGBT, saya kira tidak perlu secara bombastis disosialisasikan atau mengajak orang untuk melakukan hal yang sama," kata dia.

Read Entire Article
Perekonomian | Teknologi | Alam | Otomotif | Edukasi | Lifestyle |