Jakarta, CNBC Indonesia - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa telah menyiapkan deretan startegi untuk menjaga tren pertumbuhan cepat ekonomi Indonesia pada kuartal II-2026.
Sebagaimana diketahui, ekonomi Indonesia mampu tumbuh 5,61% pada kuartal I-2026, menjadi catatan pertumbuhan secara tahunan tercepat sejak kuartal III-2022.
"Jadi kunci pertumbuhan di Q2 adalah daya beli masyarakat dijaga, yang kedua adalah belanja pemerintah tetap digalakkan. Terus kita efisienkan sistem dunia bisnis disini, jadi kita perbaiki iklim investasi," kata Purbaya di kawasan Kebon Sirih, Jakarta, Kamis (7/5/2026).
Salah satu fokus upaya Purbaya menjaga tren pertumbuhan ialah menjaga iklim usaha di Indonesia tetap sehat. Sebab, ia melihat tren masuknya aktivitas barang impor ilegal dari luar negeri kembali marak.
"Saya kan galakan lagi penjagaan pasar domestik dari barang-barang ilegal yang katanya agak ramai lagi sekarang. Walaupun Bea Cukai sudah bekerja lebih keras dari sebelumnya, itu utamanya," tegas Purbaya.
Upaya Purbaya mencegah masuknya barang impor ilegal sebelumnya telah mendapatkan dukungan dari Kepala Badan Keamanan Laut atau Bakamla RI Laksdya TNI Irvansyah.
Ia bahkan telah mengadakan pertemuan dengan Purbata untuk memperkuat peran Bakamla dalam mengamankan penerimaan negara, khususnya di wilayah perairan Indonesia.
Irvansyah mengajak Purbaya supaya bisa menyinergikan perang pengawasan kepabeanan di Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) dengan Bakamla, khususnya yang melalui jalur perairan Indonesia.
"Untuk penguatan Bakamla sekaligus menjajaki kerjasama Bakamla dengan Bea Cukai demi mengamankan, meningkatkan pendapatan negara. Mengurangi kebocoran di laut," kata Irvansyah saat ditemui seusai pertemuan.
Salah satu bentuk upaya kerja sama yang ia usulkan ke Purbaya ialah patroli laut gabungan hingga berbagi informasi terkait aktivitas ilegal di wilayah perairan Indonesia.
"Harapannya begitu. Harapannya kita dilibatkan, diikutsertakan, bergabung. Terutama yang di laut. Kalau sudah di darat, kita kan susah. Namanya Badan Keamanan Laut, bukan keamanan darat," tegasnya.
Menurut Irvansyah, selama ini Bakamla juga sudah terlibat melakukan penindakan terhadap berbagai aktivitas penyelundupan di jalur laut. Meski belum mau mengungkapkan nilai pengamanan potensi kerugian negara yang telah ditindak, ia hanya menyebut salah satu kasusnya terkait penyelundupan tekstil dari negara-negara tetangga.
Selain itu juga ada penyelundupan hewan ternak, narkoba, hingga mainan anak. "2025 ya, sekitar mulai 2024 itu. Tekstil sama baju bekas yang kebanyakan dari Malaysia," tegas Irvansyah.
(arj/arj)
Addsource on Google

7 hours ago
1

















































