Ilustrasi(AFP)
QATAR, Mesir, dan Turki mengecam operasi militer Israel yang terus berlangsung di Jalur Gaza. Ketiga negara mediator menilai serangan tersebut menghambat upaya gencatan senjata dan mengancam implementasi rencana perdamaian yang telah disepakati berbagai pihak.
Melalui pernyataan yang dipublikasikan di platform X pada Senin (3/8), Qatar, Mesir, dan Turki mengutuk operasi militer Israel yang terus berlangsung di Gaza.
Ketiganya menuduh Israel melakukan pelanggaran serius terhadap hukum internasional, terutama melalui serangan terhadap fasilitas kesehatan, infrastruktur medis, serta jatuhnya korban sipil, termasuk perempuan dan anak-anak.
Dalam pernyataan tersebut, ketiga negara menyebut aksi militer Israel telah mengancam berbagai upaya deeskalasi yang tengah diupayakan oleh para mediator.
Pernyataan bersama itu disampaikan setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada Jumat lalu, mengumumkan Dewan Perdamaian telah mencapai kesepakatan mengenai pelucutan senjata secara menyeluruh terhadap Hamas dan seluruh kelompok bersenjata lainnya di Jalur Gaza.
Melalui unggahan di Truth Social, Trump menyebut kesepakatan tersebut sebagai langkah penting menuju pembentukan pemerintahan Palestina yang baru di Gaza.
"Langkah penting menuju pemerintahan baru Palestina di Gaza yang akan bekerja sama erat dengan Dewan Perdamaian untuk membantu rakyat Palestina," tulis Trump dilansir the jerusalem post, Selasa (4/8).
Kesepakatan itu disebut menjadi kali pertama Hamas bersama berbagai faksi Palestina lainnya menyetujui keseluruhan rencana penyelesaian konflik di Gaza.
Qatar, Mesir, dan Turki menilai operasi militer Israel yang masih berlangsung dapat menghambat implementasi tahap kedua dari perjanjian gencatan senjata yang sedang diupayakan.
Dalam penutup pernyataan bersama, ketiga negara menyerukan agar masyarakat internasional mengambil langkah yang lebih aktif untuk mendorong Israel memenuhi kewajibannya berdasarkan hukum internasional maupun ketentuan dalam perjanjian gencatan senjata.
"Para mediator menekankan perlunya mencegah segala bentuk pelemahan upaya yang bertujuan mencapai de-eskalasi berkelanjutan, yang mengarah pada gencatan senjata permanen dan mengakhiri penderitaan kemanusiaan di Jalur Gaza," kata pernyataan itu.
Mereka juga meminta adanya tekanan internasional terhadap Israel agar proses menuju penyelesaian damai, termasuk rencana perdamaian yang diumumkan Presiden Trump, dapat berjalan sesuai harapan.
Sementara itu, di lapangan, militer Israel atau Israel Defense Forces (IDF) terus melanjutkan operasi terhadap kelompok-kelompok bersenjata di Gaza.
Pada Senin, IDF mengonfirmasi telah menewaskan Mahmoud Fatair, komandan Brigade Gaza Tengah dari kelompok Jihad Islam Palestina atau Palestinian Islamic Jihad (PIJ).
Menurut militer Israel, Fatair merupakan salah satu anggota yang menyusup ke wilayah Israel pada serangan 7 Oktober serta terlibat dalam penyanderaan Rom Braslavski.
IDF menyatakan Fatair tewas dalam serangan yang dilakukan di kawasan Deir al-Balah selama akhir pekan.
Dalam beberapa pekan terakhir, militer Israel juga mengeklaim telah melancarkan sejumlah operasi terhadap anggota Hamas, PIJ, dan Jaish al-Islam.
Di antara yang diumumkan tewas adalah Alaa Imad Khamis Tarams dari Jaish al-Islam di Kota Gaza serta Hassan Ibrahim Shehadeh Qahman dari PIJ.
Selain itu, IDF sebelumnya juga mengumumkan telah menewaskan Ahmad Khudar, yang disebut sebagai komandan Batalyon Jabalya Hamas, dalam operasi yang dilakukan sekitar sepekan sebelumnya. (Z-2)
















































