REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Bagi atlet, rasa lelah kerap bukan pilihan. Jadwal latihan yang padat membuat tubuh harus terus bekerja, bahkan ketika otot belum sepenuhnya pulih. Pola serupa kini juga dialami masyarakat urban yang aktif berolahraga, namun kerap mengeluhkan pegal berkepanjangan, cepat lelah, hingga kondisi tubuh yang belum siap kembali beraktivitas keesokan harinya.
Dalam perspektif kedokteran olahraga, kondisi ini tidak selalu disebabkan kurangnya latihan, melainkan proses pemulihan (recovery) yang belum optimal. Aktivitas fisik intens dapat memicu ketegangan otot, kelelahan sistem saraf, serta peradangan ringan. Tanpa pemulihan yang tepat, beban tersebut dapat menumpuk dan berdampak pada performa serta meningkatkan risiko cedera.
Dokter spesialis kedokteran olahraga, dr Nahum, Dipl. CIBTAC, Sp.K.O., menjelaskan recovery merupakan bagian penting dari siklus latihan, bukan sekadar pelengkap. “Tanpa fase recovery yang tepat, adaptasi otot dan peningkatan performa justru bisa terhambat. Pemulihan yang direncanakan dan dipantau membantu tubuh kembali siap untuk sesi berikutnya,” ujar dokter yang berpraktik di Seraphim Medical Center, Paramount Gading Serpong, Tangsel, dikutip dari siaran pers, Ahad (5/4/2027).
Recovery tidak hanya berarti beristirahat. Proses ini melibatkan mekanisme biologis yang kompleks, mulai dari pemulihan jaringan otot, perbaikan sirkulasi darah, hingga keseimbangan metabolisme dan hormon.
Salah satu metode yang digunakan adalah infrared sauna, yaitu terapi panas yang bekerja hingga ke jaringan lebih dalam. Metode ini dapat membantu meningkatkan aliran darah, merelaksasi otot, serta mendukung proses distribusi nutrisi ke jaringan yang mengalami ketegangan setelah latihan.
Selain itu, terdapat cryotherapy, yaitu paparan suhu dingin dalam waktu singkat. Pendekatan ini digunakan untuk membantu mengontrol peradangan ringan serta meredakan nyeri otot setelah aktivitas fisik.
Menurut dr Nahum, kedua metode tersebut memiliki fungsi yang berbeda namun saling melengkapi. “Paparan panas membantu relaksasi otot, sementara suhu dingin berperan dalam mengontrol inflamasi. Kombinasi keduanya dapat disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing individu,” jelasnya.
Pendekatan pemulihan kini tidak hanya ditujukan bagi atlet profesional. Masyarakat dengan gaya hidup aktif juga membutuhkan strategi recovery yang tepat agar dapat menjaga konsistensi olahraga dan mencegah cedera.
Di Seraphim Medical Center, pendekatan pemulihan dilakukan melalui evaluasi kondisi tubuh secara menyeluruh. Penilaian meliputi riwayat aktivitas fisik, kondisi otot dan sendi, pola tidur, hingga faktor metabolik yang dapat memengaruhi performa.
Hasil evaluasi tersebut kemudian menjadi dasar dalam menyusun program latihan dan pemulihan yang lebih terarah. Selain itu, tersedia pula program persiapan fisik bagi individu yang ingin kembali berolahraga setelah jeda atau meningkatkan intensitas latihan secara bertahap.
Dalam praktik kedokteran olahraga, performa tidak hanya ditentukan oleh intensitas latihan, tetapi juga kualitas pemulihan. Recovery yang terencana memberi kesempatan bagi tubuh untuk beradaptasi, memperkuat jaringan, dan mengurangi risiko cedera.
“Latihan memberikan stres terkontrol pada tubuh. Recovery memungkinkan tubuh beradaptasi dan menjadi lebih kuat. Tanpa itu, performa bisa stagnan bahkan menurun,” kata dr Nahum.
Dengan demikian, pemulihan tidak lagi dipandang sebagai jeda, melainkan bagian penting dari strategi menjaga kebugaran dan performa dalam jangka panjang.

11 hours ago
3
















































