SAH Banyu Bening Jadi Tempat Belajar Berbagai Kalangan

3 hours ago 7

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh Maria Wulan Intandari

Pagi belum sepenuhnya terang. Suasana Dusun Tempursari, Kalurahan Sardonoharjo, Kapanewon Ngaglik, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), juga masih tenang. Meski begitu, Suwarni, warga setempat sudah berjalan membawa wadah berukuran besar menuju tempat pengambilan air di outlet terbuka yang disediakan oleh Sekolah Air Hujan (SAH) Banyu Bening.

Aktivitas itu telah menjadi bagian dari rutinitas Suwarni selama bertahun-tahun. Setiap dua hari sekali, biasanya setelah Subuh, ia mengambil air hujan yang telah diolah di SAH Banyu Bening untuk memenuhi kebutuhan minum keluarganya.

Suwarni datang membawa wadah sendiri dan kembali lagi ketika persediaan air di rumah mulai habis. Bagi Suwarni, air yang diolah di SAH Banyu Bening bukan lagi sesuatu yang asing. Dia telah memanfaatkannya sejak awal perjalanan komunitas tersebut.

Bahkan, Suwarni menjadi salah satu saksi perkembangan Banyu Bening. Dari kegiatan yang awalnya masih sederhana hingga kini dikenal masyarakat luas dan menjadi tempat belajar bagi pengunjung dari berbagai daerah.

"Sudah 14 tahun. Kalau saya, dua hari sekali mengambil satu jumbo yang besar. Biasanya saya mengambil setelah Subuh. Dua hari sekali pasti mengambil," kata Suwarni saat berbincang dengan Republika di Dusun Tempursari, Rabu (29/7/2026).

Perkenalannya dengan air Banyu Bening bermula ketika suaminya menjalani perawatan di rumah sakit. Ketika itu, keluarga mereka disarankan mencoba mengkonsumsi air yang diolah di Banyu Bening. Sejak saat itu, air alami tersebut menjadi bagian dari kebutuhan sehari-hari keluarga.

"Suami saya waktu itu sakit. Di rumah sakit disuruh mencoba diminumkan air ini, 'Mbah, diminum air ini', begitu. Terus kami ambil dan diminum. Butuh adaptasi. Rasanya yang dulu seperti pilek terus, kemudian mengantuk terus. Namun, lama-lama kami merasa badan lebih enak dan sehat," ujar Suwarni.

Suami Suwarni juga minum air Banyu Bening setelah menjalani pengobatan dari rumah sakit. "Badannya merasa lebih enak. Sejak saat itu kami terus minum air itu dan merasa sehat. Anak-anak juga semuanya minum air itu," ucapnya menjelaskan.

Kebiasaan berubah

Sebelum mengenal SAH Banyu Bening, keluarga Suwarni selalu mengandalkan air tanah dan sumur yang diolah untuk kebutuhan minum. Namun, setelah mengenal air hujan olahan tersebut, kebiasaan di keluarga mereka mulai berubah.

"Dulu biasanya minumnya teh pakai gula. Namun, selama ada air Banyu Bening, kami minum air putih saja. Kalau mau yang hangat, air itu direbus lalu diminum," ucap Suwarni.

Dia mengaku, senang melihat perkembangan SAH Banyu Bening yang mendapatkan perhatian sejumlah kalangan. Menurut dia, semakin banyak masyarakat yang datang untuk belajar, berkunjung, maupun memanfaatkan air yang disediakan secara terbuka.

"Sekarang banyak yang datang dari berbagai daerah untuk belajar dan berkunjung ke sini. Bu Ning juga mengisi kegiatan ke mana-mana. Saya merasa bangga. Semoga menjadi berkah bagi orang banyak," katanya.

Meski tinggal tidak jauh dari lokasi, Suwarni melihat belum seluruh warga sekitar memanfaatkan air hujan yang telah diolah tersebut. Karena itu, ia berharap, semakin banyak masyarakat yang mengenal dan menggunakan air Banyu Bening sesuai kebutuhan.

"Orang yang jauh-jauh saja datang untuk memanfaatkan, kalau kita yang dekat tidak memanfaatkan, sebetulnya sayang. Ini perlu lebih ditingkatkan lagi supaya semakin banyak yang memanfaatkan," jelas Suwarni.

Manfaat Banyu Bening memang tidak hanya dirasakan warga di sekitar lokasi. Seiring perjalanan selama lebih dari satu dekade, tempat tersebut berkembang menjadi ruang belajar bersama tentang air hujan, lingkungan, serta cara mengelola sumber daya air secara berkelanjutan.

Salah satu rombongan yang datang untuk belajar adalah mahasiswa Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kudus. Mereka mengikuti kunjungan ke SAH Banyu Bening sebagai bagian dari kegiatan Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) yang mengangkat tema ekoteologi.

Mahasiswa UIN Sunan Kudus, Muamar Gunawan menyampaikan, Banyu Bening menjadi salah satu tempat yang direkomendasikan untuk mempelajari hubungan antara manusia, lingkungan, dan pemanfaatan sumber daya alam. Sebelum datang ke SAH Banyu Bening, ia mengaku, memiliki pandangan yang tidak jauh berbeda dengan kebanyakan masyarakat. 

"Karena tujuan awal kami mengikuti PPL dari kampus adalah belajar tentang ekoteologi. Salah satu tempat yang direkomendasikan adalah Sekolah Air Hujan Banyu Bening. Di sini kami belajar bagaimana air hujan dikelola semaksimal mungkin agar bisa diminum atau digunakan untuk kebutuhan sehari-hari," kata Muamar.

Baginya, air hujan hanya dipahami sebagai air biasa yang kerap dikaitkan dengan rasa tidak nyaman ketika kehujanan atau bahkan dengan bencana seperti banjir. Namun, pandangan Muamar berubah setelah mengetahui proses pengolahan air hujan dan berbagai pemanfaatannya. 

Dia berkesempatan melihat langsung instalasi yang digunakan untuk menampung serta mengolah air hujan. "Menurut saya tidak ribet. Prosesnya hampir sama seperti pengelolaan air isi ulang. Namun, ini versi air hujan, bukan menggunakan air tanah," katanya.

Read Entire Article
Perekonomian | Teknologi | Alam | Otomotif | Edukasi | Lifestyle |