Wudhu Pakai Air Hujan, Syiar Dakwah Lingkungan LDII

3 hours ago 7

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh Maria Wulan Intandari

Air hujan yang jatuh di atap Gedung Serbaguna Mantrijeron, Kota Yogyakarta, tak lagi dibiarkan mengalir begitu saja ke saluran pembuangan. Air tersebut dipanen, disaring, lalu dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan. Salah satunya sebagai air wudhu bagi jamaah yang menunaikan ibadah di masjid yang berada satu kompleks dengan gedung tersebut.

Pemanfaatan air hujan untuk kebutuhan ibadah itu menjadi bagian dari program konservasi air yang dikembangkan DPW Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) DIY. Selain untuk berwudhu, air hasil pemanenan juga digunakan untuk toilet, wastafel, serta berbagai kebutuhan sehari-hari di gedung tersebut.

Ketua DPW LDII DIY, Atus Syahbudi, mengatakan sistem pemanenan air hujan dibangun sebagai upaya menjaga ketersediaan air sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap air tanah. Program pemanenan air hujan itu telah berjalan hampir satu tahun setelah pembangunan Gedung Serbaguna Mantrijeron rampung pada September 2025.

Dia menyampaikan, pembangunan sistem pemanenan air hujan telah direncanakan bersamaan dengan pembangunan gedung. Seiring berkembangnya perhatian terhadap konsep pembangunan berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs), LDII DIY kemudian menambahkan instalasi penampungan air hujan ke dalam rancangan gedung.

"Gedung ini sudah kami rencanakan lima tahun terakhir. Tetapi banyak perubahan arsitektur, termasuk perkembangan SDGs, kami pun juga, 'Oh, saya kira tambahkan bak penampung, bak pemanen air hujan'. Dan terakhir izin keluar di tahun 2025. Di bulan September sudah selesai kita bangun. Sudah berfungsi kurang lebih, ini hampir satu tahun," katanya saat berbincang dengan Republika di Yogyakarta, Rabu (29/7/2026).

Atus tak menepis program itu lahir karena menilai persoalan banjir dan kekeringan tidak semata-mata disebabkan oleh berkurangnya jumlah air di bumi. Menurut dia, jumlah air tetap sama, tetapi keseimbangan dan persebarannya berubah akibat pertumbuhan kawasan perkotaan serta berkurangnya ruang hijau.

Pohon yang sebelumnya berperan menangkap air hujan melalui tajuk, batang, dan akar kini banyak tergantikan oleh bangunan. Akibatnya, kemampuan tanah dalam menyerap dan menyimpan air semakin berkurang. Oleh karena itu, diperlukan upaya untuk tetap menjaga ketersediaan air meskipun ruang hijau semakin terbatas, salah satunya melalui pemanenan air hujan dari atap bangunan.

"Kita manusia bertugas untuk menjaga bumi ini. Bumi kita ini kan satu, hanya satu, ditempati bersama sejak Nabi Adam hingga hari ini. Dan semua harus berpikir, berganti generasi, bumi harus lebih baik. Artinya lebih hijau, lebih bersih, lebih sehat," kata Atus.

"Harus begitu, karena bumi hanya satu, ditempati bergantian. Dan ini bagian dari dakwah kami, baik berbasis Alquran dan Alhadis maupun berbasis keteladanan atau bil hal. Nah, konsen selain pepohonan, kami juga konsen pada sumber mata air termasuk memanfaatkan air hujan ini," ujar Atus menambahkan.

Sistem pemanenan air hujan di Gedung Serbaguna Mantrijeron terdiri atas sejumlah titik penampungan baik di atas maupun di bawah. Dua bak penampungan yang berada di atas gedung masing-masing memiliki kapasitas sekitar 8.000 liter, sementara satu lagi yang berada di tengah mampu menampung 6.000 liter. 

Selain itu juga terdapat penampungan di bawah dengan kapasitas 12 ribu liter. Dengan total kapasitas tersebut, air hujan yang tersimpan dapat mencukupi kebutuhan gedung selama sekitar satu hingga dua pekan apabila digunakan secara terus-menerus. Atus menjelaskan, pada tahap pertama, penyaringan dilakukan untuk menahan material berukuran besar yang terbawa air hujan, seperti daun, abu, pasir, dan berbagai kotoran lainnya.

Air kemudian masuk ke tahap penyaringan berikutnya menggunakan sejumlah media, termasuk spons dan arang aktif. Sedangkan pada tahap akhir, air disaring menggunakan dakron atau bahan menyerupai kain dengan pori-pori rapat untuk menahan partikel yang lebih kecil. Setelah melalui proses tersebut, air ditampung dan dialirkan untuk memenuhi kebutuhan gedung.

"Di penyaringan yang terakhir nanti, karena itu sudah istilahnya harus siap untuk digunakan, kita menggunakan dakron atau semacam kain yang cukup rapat begitu," kata Atus.

Kapasitas tersebut, disebutnya dapat mencukupi kebutuhan gedung selama sekitar tujuh hari apabila air digunakan secara terus-menerus. Namun, karena aktivitas paling padat hanya terjadi pada Sabtu dan Minggu, cadangan air hujan dapat bertahan selama lebih dari satu bulan.

"Semoga air yang dipanen ini bisa tersimpan, kemudian bisa digunakan sewaktu-waktu untuk kegiatan ibadah, untuk minimal tanpa harus menyalakan listrik karena menggunakan gaya gravitasi ke bawah," ungkapnya.

Meski telah melalui sejumlah tahapan penyaringan, air hujan yang dipanen di Gedung Serbaguna Mantrijeron belum digunakan sebagai air minum. Menurut Atus, pertimbangan kualitas udara dan potensi pencemaran di kawasan perkotaan menjadi salah satu alasan air hujan tersebut belum diarahkan untuk dikonsumsi langsung. 

Dia menyebut, LDII DIY masih mempelajari teknologi penyaringan tambahan yang aman apabila air hujan akan dikembangkan sebagai sumber air minum. Sehingga saat ini, pemanfaatannya masih difokuskan untuk kebutuhan nonkonsumsi, seperti wudhu, toilet, wastafel, dan kebutuhan sehari-hari di gedung.

"Kalau yang di kota targetnya itu tidak untuk diminum, cukup untuk wudhu dan toilet. Belum berani itu sampai sana," jelas Atus.

Kurangi ketergantungan air tanah

Di sisi lain, program pemanenan air hujan tersebut juga menjadi bagian dari upaya LDII DIY menjaga ketersediaan air dan mengurangi ketergantungan terhadap air tanah. Atus mengatakan pengambilan air tanah secara terus-menerus berpotensi menyebabkan permukaan air tanah semakin turun. Dalam kondisi tertentu, hal tersebut juga dapat mempengaruhi kestabilan tanah.

Selain memanen air hujan, LDII DIY juga mulai menyosialisasikan pemanfaatan kembali air bekas wudhu. Air yang telah digunakan untuk beribadah dinilai masih dapat dialirkan kembali ke tanah melalui sistem resapan sehingga tidak seluruhnya terbuang ke saluran drainase.

Air bekas wudhu itu dimanfaatkan untuk kebutuhan lain, salah satunya sebagai sumber air bagi kolam ikan. Menurut Atus, air tersebut masih relatif bersih sehingga dapat dimanfaatkan kembali dengan menyesuaikan kondisi dan jenis ikan yang dipelihara.

"Ini juga sedang kami sosialisasikan dan belum banyak masjid di LDII yang melakukan, tapi kami terus berjalan, memanen air wudhu. Jadi setelah air wudhu digunakan, dipanen, bisa langsung dimasukkan ke air tanah, bukan ke saluran air kota. Kalau saluran air kota kan saluran besar, ke gorong-gorong besar, masuk sampai ke pantai. Itu kan tidak masuk ke air tanah yang di bawah kita," ucapnya.

"Atau yang kedua, masukkan kolam. Karena air wudhu masih bersih, kami sudah arahkan untuk ikan yang suka kebersihan, ikan nila. Ketika agak kotor, kasih ikan yang bertahan dengan air kotor, itu masih bisa. Ini sedang kita upayakan. Kita sudah buatkan SOP. Kalau ukuran sekian, bisa untuk kolam dibuat seperti ini," kata ujar melanjutkan.

Selain diterapkan di Gedung Serbaguna Mantrijeron, Atus mengungkapkan, sistem pemanenan air hujan juga dikembangkan melalui Program Kampung Iklim atau ProKlim di Kampung Sangurejo, Sleman. Di kawasan tersebut, warga didorong memanen air hujan dari atap rumah masing-masing. Air dialirkan melalui talang menuju bak penampungan dan melewati sejumlah tahapan penyaringan.

Berbeda dengan pemanfaatan air di Gedung Serbaguna Mantrijeron, air hasil pemanenan di Sangurejo telah dikembangkan hingga dapat dikonsumsi setelah melalui proses penyaringan. Menurut Atus, pengembangan sistem tersebut berawal dari pengetahuan lokal masyarakat yang memanfaatkan air hujan dan embun. 

Setelah itu, konsep tersebut dikembangkan menjadi instalasi pemanenan air hujan di sejumlah rumah warga dengan dukungan bak penampungan dari Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Sleman. LDII DIY akan terus melakukan pengukuran dan kajian terhadap kualitas air tersebut. 

Atus menegaskan, air hasil pemanenan di kawasan itu memiliki karakteristik pH yang cenderung basa berdasarkan pengamatan awal. "Bisa langsung diminum," ucapnya.

"Di Sangurejo yang dekat sumber mata air dimasukkan khusus, kemudian dimasukkan pipa-pipa kecil yang kapiler itu untuk masuk ke rumah-rumah warga, untuk sumber air minum. Nah, itu untuk menjaga kebersihan. Dan yang otoritas siapa? Ya, kita juga. Makanya kebudayaan kita terhadap sampah ini memang perlu ditingkatkan," katanya menegaskan.

LDII DIY juga berencana mengembangkan program serupa di wilayah Gunungkidul yang memiliki keterbatasan sumber air dan curah hujan pada waktu tertentu. "Ini sedang kami rencanakan di Gunungkidul karena Gunungkidul sangat potensial, airnya sangat terbatas dan hujannya pun sangat terbatas. Sehingga harus maksimal dipanen semuanya," kata Atus.

Ke depan, LDII DIY berharap sistem pemanenan air hujan dapat direplikasi di lebih banyak rumah, masjid, gedung, dan kawasan permukiman. Program tersebut diharapkan dapat memperkuat kesadaran masyarakat untuk menggunakan air secara bijak sekaligus menjaga ketersediaan air bagi generasi mendatang.

"Kalau bukan kita, terus berharap kepada siapa? Kita wariskan kepada anak kita, cucu kita, lebih bersih, lebih sehat, lebih hijau, termasuk airnya juga," ujar Atus.

Read Entire Article
Perekonomian | Teknologi | Alam | Otomotif | Edukasi | Lifestyle |