Jakarta, CNN Indonesia --
Kelompok milisi Houthi di Yaman mengancam akan menutup Selat Bab Al Mandab sebagai bagian dari strategi membantu perang Iran melawan Amerika Serikat dan Israel.
Wakil Menteri Informasi dalam pemerintahan yang dikelola Houthi, Mohammed Mansour, mengatakan kepada Televisi Al Araby bahwa penutupan Selat Bab Al Mandab mungkin saja dilakukan guna menekan AS dan Israel.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Laut Merah, Teluk Aden, dan Bab Al Mandab akan menjadi beberapa pilihan," katanya pada Sabtu (28/3), seperti dikutip Middle East Monitor (MEMO).
Houthi akhirnya bergabung dengan Iran untuk membantu sekutu utamanya itu berperang melawan AS-Israel. Pada Sabtu, Houthi melancarkan serangan rudal ke Israel, yang berhasil dicegat oleh pasukan Tel Aviv.
Para analis sejak lama memperingatkan keterlibatan Houthi di perang Iran dapat mengancam lalu lintas perdagangan global karena mereka berpotensi memblokade Selat Bab Al Mandab.
Apa itu Selat Bab Al Mandab?
Selat Bab Al Mandab merupakan jalur maritim sepanjang 32 kilometer yang menjadi satu-satunya titik masuk ke Laut Merah dari Samudra Hindia. Kawasan ini menghubungkan Samudra Hindia ke Laut Mediterania melalui Terusan Suez.
Sekitar 12 persen perdagangan minyak global melintasi selat ini pada paruh pertama 2023. Pada 2025, rata-rata sekitar 4,2 juta barel minyak dunia melalui selat ini per hari.
Gangguan apa pun di Selat Bab Al Mandab dapat memutus rantai penting perdagangan antara Eropa dan Asia. Kapal harus memutar mengelilingi Afrika jika terjadi disrupsi, sehingga waktu pengiriman bisa molor 10-14 hari.
Menurut laporan Otoritas Terusan Suez, sekitar 26.000 kapal melintasi Terusan Suez pada 2023. Jumlah ini turun menjadi 12.700 pada 2025 setelah Houthi menyerang kapal-kapal terkait AS-Israel di Laut Merah.
Sejak Israel meluncurkan agresi di Jalur Gaza pada Oktober 2023, Houthi meluncurkan serangan rudal dan pesawat tak berawak ke Israel dan jalur pelayaran Laut Merah sebagai bentuk solidaritas terhadap rakyat Palestina.
Selain menjadi salah satu jalur pelayaran penting, kawasan Selat Bab Al Mandeb juga merupakan salah satu zona dengan tingkat militerisasi tertinggi di dunia.
AS dan Prancis memiliki pangkalan militer utama di Djibouti, dan China pada 2017 juga membuka pangkalan luar negeri pertamanya di sana, demikian dikutip AFP.
Seorang pejabat militer Iran mengatakan kepada kantor berita semi-resmi Tasnim pada Rabu (25/3) bahwa Teheran dapat membuka front baru di Laut Merah jika serangan militer terjadi di "pulau-pulau Iran atau di tempat lain di wilayah kami".
Sumber tersebut mengatakan Iran bisa menimbulkan "ancaman nyata" di Selat Bab Al Mandab, yang terletak di antara Yaman dan Djibouti.
"Jika Amerika ingin memikirkan solusi untuk Selat Hormuz dengan tindakan bodoh, mereka harus hati-hati agar tidak menambah selat lain ke dalam masalah dan kesulitan mereka," kata pejabat tersebut, seperti dikutip Middle East Monitor.
https://www.middleeastmonitor.com/20260329-bab-al-mandeb-strait-faces-disruption-risk-as-iran-war-escalates/
"Selat Bab Al Mandab adalah salah satu selat paling strategis di dunia, dan Iran memiliki kemauan dan kemampuan untuk menimbulkan ancaman yang sepenuhnya kredibel terhadapnya," lanjut pejabat tersebut.
Sejak perang AS-Israel vs Iran meletus akhir Februari lalu, Teheran menutup efektif Selat Hormuz. Penutupan itu telah mengakibatkan krisis energi global, di mana harga minyak dunia berulang kali tembus lebih dari US$100 per barel.
Selat Hormuz bertanggung jawab atas sekitar 20 persen minyak dunia.
Media Axios melaporkan Presiden AS Donald Trump berniat menginvasi darat Iran, terutama terhadap Pulau Kharg, untuk menekan Teheran membuka kembali Selat Hormuz. Serangan terhadap infrastruktur minyak di Kharg dapat sangat merugikan Iran namun juga berpotensi memperparah perang.
(blq/bac)
Add
as a preferred source on Google

8 hours ago
3
















































