Jakarta, CNBC Indonesia - Pasar minyak dunia berada dalam tekanan akibat eskalasi konflik militer antara Amerika Serikat (AS)-Israel dan Iran. Situasi ini kembali memicu kekhawatiran gangguan aliran minyak melalui Selat Hormuz, jalur transit energi strategis di Teluk Persia.
Jenderal Iran sudah mengatakan menutup perairan yang membawa 20% minyak global dan 25% gas dunia itu. Bahkan militer mengancam akan menembak kapal manapun yang nekad berlayar.
Lalu seberapa besar harga minyak akan naik?
Gangguan jangka panjang terhadap lalu lintas di Selat Hormuz berpotensi mendorong harga minyak mentah kembali menembus US$100 (sekitar Rp1,68 juta) per barel. Level tersebut terakhir terlihat pada puncak krisis energi global, jika ketegangan terus meningkat dan berdampak pada pasokan.
"Jika berlanjut selama beberapa hari dengan Iran dan proksinya membalas sepenuhnya, kita sedang menghadapi skenario terburuk untuk minyak, termasuk gangguan besar terhadap aliran minyak melalui Timur Tengah," ujar Vandana Hari, CEO perusahaan riset energi Vanda Insights, seperti dikutip CNBC International, Selasa (3/3/2026).
Selat Hormuz, yang menghubungkan produsen utama energi termasuk Arab Saudi, Uni Emirat Arab (UEA), Irak, dan Iran, merupakan jalur transit krusial untuk ekspor minyak mentah dan LNG global. Data menunjukkan sekitar 20-31% arus minyak dunia melewati selat ini setiap harinya, sehingga gangguan apa pun akan berdampak langsung pada pasokan global.
Gangguan tersebut bisa terjadi jika konflik meluas dan mengarah pada aktivitas militer yang menargetkan fasilitas ekspor atau armada tanker, sehingga memaksa penutupan jalur pelayaran di Selat Hormuz. Sebelumnya, kapal komersial dilaporkan menerima pesan dari Garda Revolusi Iran yang memperingatkan bahwa "tidak ada kapal yang diizinkan melewati Selat Hormuz," meski otoritas resmi Iran belum mengkonfirmasi penutupan ini secara formal.
Bob McNally, Presiden Rapidan Energy Group, menyebut eskalasi ini sebagai "perkembangan sangat serius" karena ketergantungan pasar minyak dan gas dunia terhadap produksi dan aliran melalui Hormuz. Menurutnya, durasi dan intensitas gangguan akan menentukan seberapa tajam lonjakan harga yang mungkin terjadi.
Analis energi menilai skenario yang mungkin berkisar dari gangguan terbatas pada ekspor Iran hingga blokade penuh jalur tersebut.
"Pasar akan memperhitungkan risiko mulai dari hilangnya hingga 2 juta barel per hari ekspor Iran hingga serangan terhadap infrastruktur regional," kata Saul Kavonic, Kepala Penelitian Energi di MST Marquee.
Kavonic menambahkan bahwa jika Iran merasa ancaman terhadap keberadaannya, upaya untuk memblokir Selat Hormuz tidak dapat dikesampingkan, meskipun AS dan sekutunya kemungkinan akan meningkatkan pengamanan militer untuk keselamatan jalur pelabuhan tersebut.
Ia memperkirakan, dalam skenario ekstrem, harga minyak bisa kembali menembus angka US$100 per barel dan mendorong harga LNG mendekati rekor tertinggi seperti pada 2022.
Secara teknis, data pasar terbaru menunjukkan minyak mentah Brent dan West Texas Intermediate (WTI) telah mencatat penguatan signifikan sejak awal tahun, seiring meningkatnya ketidakpastian geopolitik.
Andy Lipow, Presiden Lipow Oil Associates, menilai konflik ini meningkatkan risiko gangguan pasokan minyak di kawasan secara signifikan, meskipun fasilitas ekspor Iran sejauh ini belum menjadi sasaran langsung. Ia menyoroti probabilitas skenario terburuk, termasuk serangan terhadap fasilitas energi Saudi atau penutupan total Selat Hormuz, meskipun kemungkinan tersebut masih relatif rendah.
(tfa/sef)
Addsource on Google

2 hours ago
2












































