REPUBLIKA.CO.ID, TEHERAN – Kondisi di Iran dilaporkan sudah mulai mereda selepas digoncang aksi unjuk rasa besar-besaran beberapa hari belakangan. Di Teheran, digelar juga upacara pemakaman untuk aparat keamanan dan warga sipil yang meninggal selama kerusuhan.
“Hari ini pukul 14.00 akan ada penghormatan terhadap 100 syuhada korban kerusuhan terbaru yang berlangsung di kampus tempat saya mengajar, Universitas Tehran. Biasanya acara berupa prosesi massa mengantarkan jenazah dan shalat jenazah,” ujar Purkon Hidayat Direktur Eksekutif Middle East Foresight dan dosen tamu pascasarjana Kajian Asia Tenggara, Universitas Tehran kepada Republika, Rabu.
Sedangkan Foad Izadi, seorang profesor di Universitas Teheran, mengatakan demonstrasi di Iran tampaknya terkendali dan tidak ada kerusuhan besar dalam beberapa hari terakhir. “Saya belum melihat adanya protes dalam 48 hingga 72 jam terakhir,” kata Izadi kepada Aljazirah ketika ditanya tentang situasi di lapangan. “Kami belum melihat kerusuhan lagi.”
Soal pembatasan internet yang sedang berlangsung, Izadi mengaitkan tindakan tersebut dengan masalah keamanan dan merujuk pada perang pada Juni 2025 dengan Israel. “Agen Mossad Israel menggunakan infrastruktur Iran untuk berkomunikasi,” dan mengoperasikan pusat komando dan kendali yang kemudian ditemukan selama serangan itu, katanya.
Izadi mengatakan sejumlah “perusuh menembaki polisi dan menembaki pemilik toko” yang menolak menutup bisnis mereka selama protes. “Kami melihat perusuh membunuh pemilik toko,” katanya.
Aljazirah melaporkan, pada Senin pagi terjadi lebih banyak unjuk rasa dan demonstrasi pro-pemerintah. Sementara pada Rabu, menurut televisi pemerintah, diadakan pemakaman untuk lebih dari 100 orang, termasuk pasukan keamanan dan warga biasa yang kehilangan nyawa akibat eskalasi.
Merujuk Aljazirah, tak ada informasi apa pun dari sumber resmi mengenai eksekusi yang terjadi hari ini seperti yang dituding oleh Departemen Luar Negeri AS.
Dalam sistem hukum Iran, jika seseorang dituduh melakukan “moharebeh”, atau “melakukan perang melawan Tuhan”, mereka akan menghadapi hukuman berat, seperti hukuman mati, jika keputusan pengadilan menyatakan hal tersebut.
Setelah ancaman Trump, Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, mengadakan beberapa pembicaraan dengan rekan-rekannya di seluruh dunia dan menyatakan kesiapan Iran “untuk skenario apa pun” yang akan terjadi.
Dalam wawancara eksklusifnya dengan Aljazirah, dia juga mengatakan kemampuan Iran telah diperkuat, baik secara kualitatif maupun kuantitatif, dibandingkan dengan perang pada bulan Juni ketika Israel dan Amerika memutuskan untuk menyerang.

3 hours ago
1

















































