Parsel Ramadhan Dompet Dhuafa Bawa Senyum Penyintas Aceh di Balik Terpal

1 hour ago 2

REPUBLIKA.CO.ID, ACEH TAMIANG -- Bagi sebagian besar orang, Ramadhan adalah momentum pulang ke rumah yang hangat. Namun, bagi para penyintas bencana hidrometeorologi di Aceh Tamiang, “rumah” kini hanyalah selembar terpal yang tak lagi mampu membendung amuk cuaca.

Saat hujan, udara dingin menusuk tulang, sementara lingkungan sekitar kembali berlumpur becek dan lembap. Saat kemarau, lumpur yang mengering berubah menjadi debu pekat yang menyesakkan nafas. Teriknya matahari musim panas pun menyengat menusuk kepala, membuat ibadah puasa terasa jauh lebih “menantang”.

Di tengah kondisi yang jauh dari kata pulih ini, bulan suci Ramadhan 1447 Hijriah tetap datang bertamu. Bagi para pengungsi, Ramadhan tahun ini dijalani dengan keikhlasan luar biasa, meski getir itu tak bisa disembunyikan.

Salah satu guratan duka itu terlihat di wajah M Shaleh (73) pada Rabu (4/3/2026). Di usia senjanya, ia harus menerima kenyataan pahit bahwa harta bendanya habis tak bersisa. “Rumah saya sudah hilang, hanyut. Rasanya sangat berbeda dengan tahun lalu,” ceritanya dengan nada getir.

Bukan hanya tempat tinggal, mata pencahariannya sebagai peternak pun lumat. Sapi-sapi miliknya hanyut tersapu air. Kini, ia hanya bisa bersabar tinggal di dalam tenda yang panas, sembari mencoba merajut kembali harapan yang sempat terkoyak.

Suara yang lain, Ariyani (52). “Sekarang saya menumpang tinggal di suatu rumah, itu pun hanya tinggal separuh bangunannya. Kami isi dengan empat kepala keluarga (KK)”.

Mereka tidak mampu membayangkan hari kemenangan Idul Fitri nanti. Tanpa dinding rumah yang kukuh, bayangan merayakan Lebaran di bawah tenda pengungsian terasa abu-abu dan menyesakkan dada.

Namun, di tengah keterbatasan itu, secercah harapan muncul, tim Dompet Dhuafa masih berada di Aceh Tamiang untuk menyalurkan bantuan berupa Parsel Ramadhan.

Paket bantuan ini dirancang untuk memenuhi kebutuhan dasar sekaligus menguatkan spiritualitas para penyintas. Parsel Ramadhan berisi bahan-bahan pokok (sembako), kurma untuk sahur dan berbuka puasa, serta perlengkapan ibadah baru.

Kehadiran bantuan ini membawa kehangatan tersendiri. Shaleh, Aryani, dan penerima manfaat lainnya tak mampu menyembunyikan kebahagiaannya. Senyum lebar mengembang di wajahnya dan ibu-ibu lain saat memeluk paket Parsel Ramadhan tersebut.

Bagi mereka, bantuan ini bukan sekadar bahan pangan, melainkan pesan bahwa mereka tidak sendirian dalam perjuangan ini.

Koordinator Respon Bencana DMC di Aceh Tamiang, Ahmad Yamin, menyampaikan, bantuan ini bukan sekadar paket logistik, melainkan pesan bahwa mereka tidak sendirian dalam menghadapi bencana ini.

“Melalui Parsel Ramadhan ini, kami ingin mengupayakan dapur pengungsian tetap mengepul saat sahur dan berbuka. Dan membawa suasana sunah dan manisnya Ramadhan ke dalam tenda. Agar para penyintas juga dapat menjalankan ibadah dengan lebih layak dan nyaman,” ujar Ahmad.

Meski masa depan masih tertutup debu dan ketidakpastian, hadiah kemenangan ini menjadi bahan bakar bagi mereka untuk tetap tegak menjalankan ibadah, menjemput berkah di bulan yang suci, dan berharap hari esok akan lebih baik dari hari ini.

Read Entire Article
Perekonomian | Teknologi | Alam | Otomotif | Edukasi | Lifestyle |