Amalia Zahira, CNBC Indonesia
27 March 2026 18:00
Jakarta, CNBC Indonesia - Label "Made in" pada suatu produk menjadi indikator penting dalam pasar global. Label ini mencerminkan penilaian kualitas, reputasi, hingga kepercayaan konsumen terhadap suatu barang.
Survei global yang dirangkum dalam Made-In-Country Index (MICI) yang melibatkan lebih dari 43 ribu responden di 52 negara, menunjukkan bahwa persepsi terhadap negara asal produk sangat mempengaruhi keputusan pembelian.
Jerman Jadi Nomor Satu
Dalam peringkat global tersebut, Jerman menempati posisi pertama sebagai negara dengan label "Made in" paling terpercaya, dengan skor kepercayaannya hingga 66%.
Reputasi ini tidak lepas dari citra Jerman sebagai negara dengan standar manufaktur tinggi, terutama di sektor otomotif dan produk industri.
Di posisi kedua dan ketiga, Swiss dan Jepang menyusul dengan masing-masing skor 64% dan 63%. Secara keseluruhan, negara-negara Eropa mendominasi daftar 10 besar label "Made in" paling dipercaya. Berikut peringkatnya:
Namun menariknya, ketika dilihat secara agregat, label "Made in EU" yang merepresentasikan 27 negara anggota Uni Eropa justru mencatat skor sedikit lebih rendah, yaitu 55%.
Hal ini diduga mencerminkan adanya persepsi yang lebih beragam terhadap kualitas produk dari negara-negara anggota yang tidak semuanya memiliki reputasi industri sekuat negara-negara utama di kawasan tersebut.
Walau begitu, Uni Eropa tetap menerapkan aturan asal barang (rules of origin) yang ketat guna menjaga standar kualitas serta melindungi sektor ekonomi strategis di masing-masing negara anggotanya.
AS Ungguli China, Taiwan Masih Tertinggal
Dalam survei tersebut, "Made in China" hanya memperoleh tingkat kepercayaan sebesar 31%, menempatkannya di kelompok bawah, meskipun masih masuk 10 besar. Artinya, kurang dari sepertiga responden yang menganggap label ini sebagai salah satu yang paling terpercaya.
Sebaliknya, "Made in USA" mencatat skor 55%, setara dengan rata-rata Uni Eropa. Kesenjangan ini sebagian dapat dipengaruhi oleh metodologi survei, mengingat responden berasal dari negara-negara seperti Amerika Serikat, Inggris, Jepang, India, Meksiko, Afrika Selatan, dan Uni Eropa, namun tidak mencakup China.
Di sisi lain, Taiwan menunjukkan posisi yang cukup mengejutkan. Meski dikenal sebagai pemain kunci dalam industri semikonduktor global, label "Made in Taiwan" hanya meraih tingkat kepercayaan sebesar 33%.
Angka ini menempatkan Taiwan jauh di bawah negara-negara seperti Jepang dan Jerman, serta mencerminkan adanya kesenjangan antara peran strategis Taiwan dalam rantai pasok teknologi global dan persepsi konsumen secara umum.
(mae/mae)
Addsource on Google

12 hours ago
2
















































