Tak Biasa! Emas Ikut Sumbang Tekanan Inflasi saat Ramadan 2026 di RI

1 hour ago 2

Jakarta, CNBC Indonesia - Periode Ramadan 2026 menjadi tak biasa bagi perkembangan harga barang di Indonesia. Sebab, bukan hanya komoditas pangan yang mempengaruhi tekanan harga, emas kini ikut-ikutan menambah bobot inflasi.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat kelompok harga pangan bergejolak atau volatile food memang rutin menjadi penyumbang kenaikan inflasi pada Ramadan. Terbukti, pada Februari 2026, inflasi bulanannya tercatat 0,68%, meski masih lebih rendah dibandingkan periode Ramadan tahun lalu yang sempat melonjak lebih tinggi.

"Kalau kita lihat di tahun lalu, inflasi month-to-month pada saat menghadapi periode Ramadan mencapai 1,65%. Tahun ini relatif membaik, tidak setinggi Ramadan tahun lalu," kata Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Amalia Adininggar Widyasanti dalam rakor inflasi, Selasa (3/3/2026).

Komoditas pangan menjadi kontributor dominan pada Februari tahun ini. Kenaikan terjadi pada sejumlah bahan makanan utama yang sensitif terhadap lonjakan permintaan seperti daging ayam ras, cabai rawit, ikan segar, cabai merah, dan tomat sebagaimana pola tekanan inflasi pada Ramadan tiap tahunnya.

"Komoditas yang masuk pada kelompok harga bergejolak atau volatile food itulah yang biasanya memberikan andil terhadap inflasi bulanan di setiap momen Ramadan," katanya.

Namun, Amalia menekankan, tekanan inflasi pada tahun ini ada satu pembeda yang signifikan dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, yakni munculnya emas perhiasan sebagai kontributor inflasi bulanan.

"Beda dengan tahun 2022 dan 2023, sejak 2024 harga emas terus meningkat. Di Februari 2026 emas perhiasan menjadi penyumbang inflasi bulanan," ujar Amalia.

Lonjakan harga emas terjadi seiring penguatan harga internasional, yang kemudian ditransmisikan ke pasar domestik.

"Inflasi emas perhiasan secara month-to-month mencapai 8,42% dan andilnya 0,19%. Kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya mengalami inflasi 2,55%," ungkapnya.

Faktor emas berada di luar kendali kebijakan domestik karena sangat bergantung pada dinamika global. Karena itu, fokus pengendalian tetap diarahkan pada pangan.

"Yang perlu menjadi fokus kita adalah bagaimana mengendalikan komponen volatile food dan kelompok makanan dan minuman," tegasnya.

Dengan Ramadan yang masih berlangsung, stabilisasi pasokan pangan menjadi kunci agar inflasi bulanan tetap terkendali. "Setiap momen Ramadan memang komoditas harga bergejolak yang biasanya memberikan andil terhadap inflasi bulanan," pungkas Amalia.

(arj/wur)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Perekonomian | Teknologi | Alam | Otomotif | Edukasi | Lifestyle |