Tren Tarot di Kalangan Gen Z, Psikolog Ungkap Dampaknya Bagi Kesehatan Mental

2 hours ago 1

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Fenomena tarot semakin ramai menjadi perbincangan, khususnya di kalangan Generasi Z. Saat ini, banyak gen Z yang memilih kartu tarot sebagai salah satu opsi dalam mengurai rasa gelisah akan hal yang sudah atau belum terjadi.

Merespon fenomena ini, psikolog klinis Unair Dian Kartika Amelia mengingatkan adanya potensi risiko ketika seseorang terlalu bergantung pada narasi yang ditawarkan pada tarot. Salah satunya adalah ketika individu berhenti berupaya memperbaiki kondisi dirinya karena merasa segala sesuatu telah ditakdirkan.

Dalam psikologi, kondisi tersebut dikenal sebagai self-fulfilling prophecy. Dian menjelaskan, keyakinan terhadap suatu prediksi dapat memengaruhi perilaku individu sehingga tanpa disadari mereka justru mengarahkan dirinya pada hasil yang diyakini sejak awal.

"Jadi bukan ramalan atau prediksi itu yang memang nyata terjadi. Tapi memang karena kita sudah meyakini hal itu sebelumnya akan terjadi, sehingga energi kita mengarahkan pada berlaku yang kita prediksi sebelumnya," ujar Dian dalam keterangan tertulis, dikutip Jumat (16/1/2026).

Dian mengatakan, tarot sejatinya bukan fenomena baru. Namun, maraknya penggunaan tarot di kalangan Gen Z dipengaruhi oleh kondisi psikologis generasi ini yang kerap menghadapi ketidakpastian dan tekanan hidup.

"Ketika menghadapi situasi yang tidak menyenangkan dan merasa tidak berdaya, mereka mencari penjelasan eksternal atas apa yang dialami. Tarot diharapkan dapat memberikan rasa tenang," kata dia.

Pembacaan tarot, kata Dian, juga dapat memunculkan khayalan seolah individu mampu memprediksi atau memahami apa yang terjadi dalam hidupnya. Hal ini berpotensi menurunkan kecemasan dan berfungsi sebagai coping mechanism sementara.

"Misalnya karena mereka menghadapi sesuatu yang tidak bisa mereka prediksi, mereka mengalami kecemasan. Sehingga tarot menawarkan narasi tentang diri tanpa judgement atau apapun yang bisa dianggap menenangkan bagi sebagian orang," kata dia.

Menurut Dian, sebetulnya pembacaan tarot masih bisa diterima apabila digunakan sebagai pendorong evaluasi yang justru membuat individu berkembang. "Selama itu menjadi pemicu evaluasi diri dan perkembangan individu, tidak masalah," kata Dian.

Namun alih-alih membaca tarot, Dian menyarankan agar generasi Z mencoba pengelolaan stres secara mandiri. Misalnya melalui journaling, manajemen waktu, pola makan bergizi, serta olahraga rutin.

Apabila individu mengalami krisis emosional dan merasa tidak mampu mengatasinya sendiri, Dian menilai langkah terbaik adalah mencari bantuan profesional. "Datang ke psikolog atau psikiater untuk mendapatkan penanganan yang tepat," ujar Dian.

Read Entire Article
Perekonomian | Teknologi | Alam | Otomotif | Edukasi | Lifestyle |