Trump Kena Batunya Setelah Ancam Kembalikan Iran ke Zaman Batu

8 hours ago 4
Daftar Isi

Jakarta, CNBC Indonesia - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump baru saja melontarkan ancaman keras terhadap Iran dengan menyebut akan "mengembalikan negara itu ke zaman batu". Pernyataan tersebut disampaikan dalam pidato di Gedung Putih, Jumat (3/4/2026).

"Kita akan menyerang mereka dengan sangat keras selama dua hingga tiga minggu ke depan," ujar Trump.

Ia menegaskan, serangan tersebut bukan bertujuan untuk perubahan rezim, meski menyebut para pemimpin Iran telah "mati". "Kita akan membawa mereka kembali ke zaman batu, tempat mereka seharusnya berada," katanya.

Ancaman itu langsung dibalas keras oleh militer Iran. Komando operasi militer Khatam Al-Anbiya menegaskan serangan balasan akan jauh lebih destruktif.

"Nantikan tindakan kami yang lebih menghancurkan, lebih luas, dan lebih destruktif," demikian pernyataan mereka.

Iran Tembak Jatuh Jet Tempur AS

Tak butuh waktu lama, Iran membuktikan ucapannya dengan menembak jatuh dua jet tempur AS pada hari yang sama. Media seperti The New York Times dan The Wall Street Journal melaporkan pesawat tersebut adalah F-15E Strike Eagle.

Satu awak berhasil diselamatkan, sementara satu lainnya masih dalam pencarian.

Selain itu, pesawat A-10 Thunderbolt II juga dilaporkan terkena serangan, memaksa pilotnya melontarkan diri sebelum akhirnya diselamatkan.

Iran mengklaim pesawat jatuh setelah ditargetkan sistem pertahanan udara di dekat Selat Hormuz.

Menanggapi insiden ini, Trump menegaskan bahwa situasi tersebut tidak akan mengubah arah kebijakan militernya. "Tidak, tidak sama sekali. Ini adalah perang. Kita sedang berperang," katanya.

Gencatan Senjata Ditolak Mentah-Mentah

Upaya Amerika Serikat untuk meredakan konflik melalui proposal gencatan senjata 48 jam juga ditolak Iran. Menurut laporan Fars News Agency, proposal tersebut disampaikan melalui negara ketiga, namun tidak direspons secara formal.

Sebaliknya, Iran menunjukkan penolakannya dengan melanjutkan serangan di lapangan.

Trump Ingin "Ambil Minyak" Iran

Di tengah konflik, Trump juga memicu kontroversi dengan pernyataan ingin menguasai minyak Iran.

"Dengan sedikit waktu tambahan, kita dapat membuka Selat Hormuz, mengambil minyaknya, dan mendapatkan keuntungan besar," tulisnya.

Pernyataan ini bertolak belakang dengan sikap sebelumnya yang menyebut AS tidak membutuhkan minyak Iran.

Dalam hukum internasional, penguasaan sumber daya alam oleh negara lain bertentangan dengan prinsip kedaulatan permanen atas sumber daya alam yang diadopsi PBB.

Selat Hormuz Mulai Longgar

Di tengah memanasnya konflik, Iran mulai melonggarkan akses Selat Hormuz untuk negara-negara tertentu. Sejumlah kapal dari Oman, Prancis, Jepang, hingga China dilaporkan berhasil melintasi jalur strategis tersebut.

Selat Hormuz sendiri merupakan jalur vital yang dilalui sekitar 20% pasokan minyak dan gas global.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Mao Ning, menyerukan deeskalasi. "Selat Hormuz merupakan jalur penting bagi perdagangan global. China menyerukan gencatan senjata segera," ujarnya.

Dengan retorika yang makin agresif dari Trump, mulai dari ancaman "zaman batu" hingga rencana menguasai minyak, situasi justru berbalik menekan Washington. Respons keras Iran, termasuk menembak jatuh jet tempur AS dan menolak gencatan senjata, menunjukkan konflik ini belum mendekati titik akhir dan berpotensi semakin meluas.

(fab/fab)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Perekonomian | Teknologi | Alam | Otomotif | Edukasi | Lifestyle |