Jakarta, CNN Indonesia --
Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada Kamis (19/3) membuat perbandingan kontroversial antara serangan AS terhadap Iran dengan serangan Jepang di Pearl Harbor pada Perang Dunia II.
Trump membuat perbandingan tersebut dalam pertemuan dengan Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi di Gedung Putih. Pernyataan tersebut memicu reaksi canggung dalam pertemuan yang juga membahas keamanan global dan perdagangan.
Dalam konferensi pers di Kantor Oval, seorang wartawan menanyakan mengapa Trump tidak memberitahukan terlebih dahulu kepada sekutu seperti Jepang mengenai rencana serangan terhadap Iran.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Trump menjawab dengan guyonan yang mengacu pada serangan mendadak Jepang ke pangkalan angkatan laut AS di Pearl Harbor pada 7 Desember 1941.
"Kami ingin kejutan. Siapa yang lebih tahu tentang kejutan selain Jepang? Mengapa Anda tidak memberi tahu saya tentang Pearl Harbor?" ujar Trump kepada Takaichi, melansir Reuters.
Mata Takaichi melebar dan ia bergeser di kursinya saat Trump, yang duduk di sampingnya di Kantor Oval, membangkitkan momen yang menyeret AS ke dalam Perang Dunia II.
"Anda percaya pada kejutan, saya rasa jauh lebih daripada kami," ujar Trump lagi.
Serangan Pearl Harbor yang menewaskan 2.390 tentara Amerika Serikat itu merupakan titik balik yang membawa AS masuk ke Perang Dunia II.
Presiden Franklin D. Roosevelt menyebut tanggal tersebut sebagai "tanggal yang akan dikenang sebagai hari yang penuh aib."
Perang berakhir dengan kekalahan Jepang pada Agustus 1945, setelah AS menjatuhkan bom atom di Hiroshima dan Nagasaki yang menewaskan ratusan ribu warga sipil.
Melansir Aljazeera, pertemuan antara Trump dan Takaichi merupakan salah satu pertemuan penting sejak perang melawan Iran dimulai pada 28 Februari 2026.
Takaichi menjadi salah satu pemimpin pertama yang bertemu langsung dengan Trump setelah Presiden AS menyerukan pembentukan koalisi internasional untuk mengamankan Selat Hormuz.
Selat Hormuz merupakan jalur penting bagi perdagangan minyak dunia, dengan hampir seperlima pasokan global melewati perairan sempit ini. Namun, Iran telah menutup sebagian besar lalu lintas di selat tersebut, menyebabkan lonjakan harga minyak di pasar internasional.
Dalam sambutannya, Takaichi mengutuk tindakan Iran yang menyerang wilayah tetangga dan penutupan Selat Hormuz.
Namun, ia juga mengungkapkan kekhawatirannya terhadap dampak perang yang menciptakan "lingkungan keamanan yang sangat serius" dan potensi kerugian ekonomi global.
"Ekonomi dunia akan mengalami pukulan besar akibat perkembangan ini," kata Takaichi kepada wartawan di Kantor Oval.
"Namun, meskipun dalam situasi seperti ini, saya yakin hanya Anda, Donald, yang dapat mewujudkan perdamaian dunia," kata Takaichi lagi.
Sebelum pertemuan tersebut, Jepang bersama lima negara Eropa menyatakan akan mempertimbangkan "upaya yang tepat" untuk membantu membuka kembali Selat Hormuz. Namun, bentuk konkret bantuan tersebut masih belum jelas.
Jepang juga dibatasi oleh konstitusi pascaperang tahun 1947 yang menetapkan negara itu sebagai negara yang berjanji untuk menolak perang.
(rti)
Add
as a preferred source on Google

11 hours ago
3

















































