Banjir bandang Nepal-Tibet(AFP)
BENCANA banjir bandang yang menerjang perbatasan Nepal dan Tibet melumpuhkan kawasan pegunungan dan menelan ratusan korban jiwa. Otoritas Manajemen dan Pengurangan Risiko Bencana Nasional Nepal (NDRRMA) mencatat jumlah korban hilang melonjak hingga 1.924 orang, di mana 517 di antaranya merupakan warga negara asing.
Hingga hari ketiga pascabencana, total korban tewas di wilayah Nepal telah melampaui 570 jiwa, sementara di kawasan Tibet sedikitnya lima orang dilaporkan tewas dan 550 lainnya hilang. Bencana ini meluluhlantakkan infrastruktur vital, termasuk memutus akses jalan utama, merobohkan jembatan, serta merusak jaringan komunikasi di wilayah perbatasan.
Pemerintah Nepal telah mengerahkan sekitar 15.000 personel keamanan untuk memimpin operasi pencarian dan penyelamatan (SAR). Meskipun sekitar 4.000 warga dan 100 wisatawan asing berhasil dievakuasi, tim SAR di lapangan menghadapi kendala besar akibat hancurnya akses darat serta guyuran hujan deras yang terus menerus.
Di sisi lain perbatasan, militer Tiongkok sempat menghentikan sementara operasi SAR akibat kekhawatiran danau alami yang terbentuk pascabanjir dapat jebol dan memicu gelombang banjir susulan. Pihak berwenang memperingatkan ancaman tanah longsor tambahan seiring tingginya curah hujan yang diproyeksikan terjadi sepanjang akhir pekan.
Presiden Tiongkok Xi Jinping menyuarakan belasungkawa resmi kepada Presiden Nepal Ram Chandra Paudel dan menegaskan komitmen untuk membantu proses pemulihan bencana. Sementara itu, kementerian luar negeri dari berbagai negara terus berkoordinasi dengan otoritas lokal untuk melacak ratusan turis, pendaki, dan peziarah asing yang belum ditemukan di area terdampak.
(BBC/P-4)
















































