REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Lahan fasilitas umum (fasum) seluas sekitar 500 meter persegi di Cluster Nusantara, Tangerang, yang sebelumnya terbengkalai dan menjadi tempat pembuangan sampah kini mulai dimanfaatkan sebagai ruang produktif. Universitas YARSI mengembangkan lahan tersebut menjadi ekosistem ekonomi sirkular yang menggabungkan pengelolaan lingkungan, pemberdayaan petugas kebersihan, dan pengembangan produk bernilai ekonomi.
Dosen Fakultas Kedokteran sekaligus Pengajar Program Magister Sains Biomedis Program Pascasarjana Universitas YARSI Dr. Juniarti mengatakan, pemanfaatan lahan dimulai dengan penataan menjadi taman yang dilengkapi infrastruktur dasar dan tanaman herbal.
“Lahan terbatas bukan hanya sebagai ruang hijau, tetapi juga sebagai ruang pembelajaran, pemberdayaan masyarakat, dan pengembangan ekonomi berbasis lingkungan,” kata Juniarti, Rabu (19/8/2026).
Salah satu kegiatan utama adalah mengolah sisa tanaman dari taman dan lingkungan Cluster Nusantara menjadi pupuk organik. Petugas kebersihan dilibatkan mulai dari pengumpulan bahan organik hingga proses pengolahan.
Potongan tanaman dihancurkan menggunakan mesin, kemudian dimasukkan ke dalam tong berkapasitas 200 liter yang dilengkapi keran. Bahan tersebut dicampur larutan EM4 yang telah diencerkan dengan air, kemudian difermentasi selama sekitar satu bulan.
“Dari proses tersebut dihasilkan pupuk organik cair (POC) yang dapat dipanen melalui keran bagian bawah, material padatnya kemudian diolah lebih lanjut dengan tambahan sekam bakar, kotoran hewan yang telah difermentasi, serta dolomit untuk membantu menyeimbangkan pH,” ujarnya.
Kompos yang telah selesai diproses kemudian dikemas untuk dipasarkan, sedangkan POC dimanfaatkan kembali untuk tanaman di taman. POC yang telah diencerkan sekitar 20 kali juga digunakan untuk perawatan tanaman.
Menurut Juniarti, program pengabdian kepada masyarakat tersebut mendapat hibah Kemdiktisaintek serta dukungan dana dari Yayasan YARSI. Program ini melanjutkan pemberdayaan lahan terbatas yang telah dilakukan pada tahun sebelumnya.
Bahan organik lain yang dimanfaatkan berasal dari kulit buah. Kulit buah difermentasi menjadi eco-enzyme menggunakan campuran kulit buah, molase, dan air dengan perbandingan 3:1:10.
Proses fermentasi berlangsung sekitar tiga bulan. Setelah dipanen dan disaring, eco-enzyme diolah menjadi produk turunan seperti sabun cuci tangan dan pembersih lantai.
Produk tersebut mulai diperkenalkan kepada masyarakat melalui Bazar Merdeka. Selain kompos, POC, dan produk eco-enzyme, tanaman obat serta tanaman hias dari taman juga dipasarkan.
Ke depan, pemasaran produk akan dikembangkan melalui media sosial dan situs Pusat Penelitian Herbal Universitas YARSI yang sedang dipersiapkan.
Konsep ekonomi sirkular juga diperluas ke elemen lain di taman. Kolam ikan akan diisi ikan nila dan diintegrasikan dengan sistem hidroponik yang kini memasuki tahap pembibitan.
Sementara itu, sistem penyiraman taman dikembangkan menggunakan teknologi Internet of Things (IoT) melalui kolaborasi dengan mahasiswa Fakultas Teknologi Informasi Universitas YARSI.
“Dengan demikian, taman tersebut berkembang menjadi ruang terbuka yang mempertemukan lingkungan, teknologi, pendidikan, pemberdayaan masyarakat, dan kegiatan ekonomi dalam satu ekosistem,” ujar Juniarti.

2 hours ago
2












































