Jakarta, CNBC Indonesia - Para investor perlu mencermati leading dan lagging stocks. Keduanya mencerminkan kinerja suatu saham, yang dapat menjadi pertimbangan investor dalam menentukan pilihannya, apakah ingin membeli, menahan, atau menjual.
Saham leading adalah saham yang kinerjanya menggerakkan pasar secara keseluruhan, dan pergerakannya mendahului gerak pasar secara umum. Sementara saham laggard adalah saham yang relatif berkinerja buruk terhadap pasar, memiliki imbal hasil yang lebih rendah dari rata-rata pasar.
Menilik laporan perkembangan ekonomi dan pasar modal Indonesia edisi Januari 2026 yang dirilis oleh Bursa Efek Indonesia (BEI), saham-saham milik konglomerat masih menjadi penopang pergerakan IHSG sepanjang tahun lalu. Mulai dari saham DCII milik konglomerat teknologi Toto Sugiri, saham BRMS dan BUMI milik Grup Bakrie, BRPT dan PTRO milik konglomerat petrokimia Prajogo Pangestu, hingga FILM milik konglomerat media dan hiburan Manoj Punjabi.
Namun pergerakan saham leading tertinggi terjadi pada MORA, yang melesat 2.463,83% secara year to date (ytd) 2025. Saham itu menyumbang 68,14 poin bagi indeks.
Leading stock penyumbang poin sebesar adalah DSSA milik Grup Sinar Mas, dengan kontribusi terhadap IHSG sebesar 246,68 poin.
Sementara itu, saham-saham blue chip menjadi lagging bagi indeks. Seperti saham big banks RI BBCA, BBRI, BMRI. BEI menyoroti bahwa sektor perbankan memang memiliki dampak terbesar bagi pergerakan IHSG.
BBCA pun menjadi saham lagging dengan bobot pemberat terbesar, yakni 97,39 poin. Sementara penurunan harga saham lagging terbesar secara ytd dialami oleh AMRT, minus 30,70% ytd.
Lantas apa saja saham yang mempengaruhi pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sepanjang tahun lalu? Mengutip data BEI pada Senin (15/1/2026), berikut 10 saham leading dan lagging secara ytd 2025.
Leading
1. PT Dian Swastatika Sentosa Tbk. (DSSA): +246,68 poin, +172,97%
2. PT DCI Indonesia Tbk. (DCII): +200,48 poin, +375,06%
3. PT Barito Pacific Tbk. (BRPT): +147,11 poin, +255,43%
4. PT Bumi Resources Minerals Tbk. (BRMS): +88,87 poin, +217,92%
5. PT MD Entertainment Tbk. (FILM): +86,82 poin, +297,75%
6. PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk. (TLKM): +85,18 poin, +28,41%
7. PT Astra International Tbk. (ASII): +77,99 poin, +36,73%
8. PT Mora Telematika Indonesia Tbk. (MORA): +68,14 poin, +2.463,84%
9. PT Bumi Resources Tbk. (BUMI): +62,09 poin, +210,17%
10. PT Petrosea Tbk. (PTRO): +50,55%, +296,20%
Lagging
1. PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA): -97,39 poin, -16,54%
2. PT Bayan Resources Tbk. (BYAN): -76,80 poin, -22,47%
3. PT Amman Mineral Internasional Tbk. (AMMN): -65,88 poin, -24,19%
4. PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI): -64,90 poin, -10,29%
5. PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI): -57,22 poin, -10,53%
6. PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk. (AMRT): 38,24 poin, -30,70%
7. PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk. (ICBP): -17,36 poin, -27,91%
8. PT Alamtri Resources Indonesia Tbk. (ADRO): -16,10 poin, -25,51%
9. PT Pantai Indah Kapuk Dua Tbk. (PANI): -14,41 poin, -20,96%
10. PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk. (GOTO): -13,64 poin, -8,57%
(fsd/fsd)
[Gambas:Video CNBC]

2 hours ago
1
















































