Menjaga Lisan dan Hati: Kunci Akhlak Mulia

2 hours ago 1

KULTUM KEMULIAAN RAMADAN

CNN Indonesia

Kamis, 05 Mar 2026 04:00 WIB

Jagalah lisan sekaligus hati agar tidak melukai hati orang lain dan menimbulkan kegaduhan. Ilustrasi. Jagalah lisan sekaligus hati agar tidak melukai hati orang lain dan menimbulkan kegaduhan. (iStockphoto/ferlistockphoto)

Jakarta, CNN Indonesia --

Kita harus selalu menjaga ucapan atau lisan agar tidak menyengsarakan orang lain. Satu perkataan saja yang salah, bisa menimbulkan masalah besar.

"Lisan ini bisa membawa malapetaka kalau kita tidak menjaganya. Oleh karena itu, kita dianjurkan untuk menjaga lidah kita, bahkan beberapa yang merusak pahala puasa itu antara lain karena perbuatan lisannya. Misalnya, berkata bohong, mengadu domba," tutur Ma'ruf Amin, ulama sekaligus Wakil Presiden ke-13 RI dalam program Kultum Kemuliaan Ramadan 2026 CNNIndonesia, Selasa (3/3).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Orang yang tak mampu menjaga lisannya, tidak hanya menyakiti hati satu atau dua orang saja. Ia bisa saja menimbulkan kegaduhan di masyarakat luas jika tak berhati-hati dengan perkataannya.

"Boleh saja kita menyampaikan pesan, menyampaikan ajakan, menyampaikan informasi, tetapi tentu dengan bahasa yang tidak mengandung makian, yang tidak menyakitkan," Ma'ruf mengingatkan.

Di sisi lain, menjaga hati juga penting. Dalam kitab Nashaihul Ibad, Syekh Nawawi mengutip ungkapan Abu Bakar ash-Shiddiq yang menyatakan, "Apabila lidah itu rusak dengan melakukan makian-makian, maka banyak manusia yang menangis, yaitu manusia dari anak cucu Adam, sedangkan jika hati yang rusak, maka malaikat menangis karenanya."

Ma'ruf pun mengatakan, hati dan lisan saling berkait. Hal ini sesuai dengan sebuah syair yang berbunyi, "Omongan itu sebenarnya dari hati, karena omongan itu adalah petunjuk apa yang ada di hati."

"Kalau orang itu misalnya pembicaraannya sengak, pasti hatinya itu tidak baik. Jadi, antara hati dan lisan memang saling berkait," ucap Ma'ruf.

Hal ini sejalan dengan hadis yang menyebutkan bahwa di dalam tubuh manusia ada segumpal darah. Jika gumpalan itu baik, maka seluruh tubuh akan baik, sebaliknya jika rusak, seluruh tubuh ikut rusak. Segumpal darah ini adalah hati.

Oleh karena itu, menjaga lisan saja tidak cukup, kita juga harus membersihkan hati dari sifat-sifat buruk. Dalam ajaran Islam, proses ini disebut tazkiyatul qalbi, yaitu pembersihan hati dari penyakit batin. Dalam ilmu akhlak, hal ini dikenal sebagai at-takhliah, yaitu menghilangkan sifat-sifat tercela dari hati.

"Akhlak itu adalah perilaku batin. Jadi, orang-orang yang berakhlak mulia artinya [orang] yang hatinya itu baik, bersih. Maka dari itu, disebut akhlakul karimah," kata Ma'ruf.

Jika akhlak adalah perilaku batin, maka perilaku lahir berupa ekspresi dari apa yang ada di dalam batin. Oleh karena itu, agama Islam menganjurkan agar kita menjaga keduanya, yakni lisan dan hati.

"Mudah-mudahan Allah SWT memberikan kita lisan yang baik, yang fasih, dan hati yang bersih. Lisan yang banyak berzikir, bukan banyak memaki, tetapi juga dengan hati yang bersih," ucap Ma'ruf menutup kultum.

(rti)

[Gambas:Video CNN]

Read Entire Article
Perekonomian | Teknologi | Alam | Otomotif | Edukasi | Lifestyle |