REPUBLIKA.CO.ID, Sudah 1,5 bulan 60-an warga Kampung Sekip RT 07 RW 01, Kelurahan Jangli, Tembalang, Kota Semarang, Jawa Tengah (Jateng), tinggal di tenda pengungsian. Sejak mereka dievakuasi dari rumahnya masing-masing akibat terdampak bencana tanah bergerak, belum ada kepastian ke mana mereka akan direlokasi. Mereka mempertanyakan janji pemerintah.
Sore itu, Kamis (2/4/2026), Suprihati (51 tahun) tengah berkumpul bersama ibu-ibu lainnya di dapur umum di lokasi pengungsian. Jarak kediaman mereka yang terdampak tanah bergerak dengan lokasi pengungsian tak terlalu jauh, yakni hanya sekitar 100 meter.
Di dapur umum terbuka yang hanya beratap tenda tersebut, Suprihati dan para ibu lainnya saling membantu menyiapkan makanan untuk makan malam. Hasil masakan mereka nantinya akan disantap bersama seluruh warga yang tinggal di tenda pengungsian.
"Kami masak bersama-sama, dibagi dua tim: tim pagi dan tim sore," kata Suprihati ketika ditemui Republika di lokasi.
Tenda pengungsian warga Kampung Sekip berdiri di atas sebuah lahan kosong yang dikelilingi pepohonan. Total terdapat lima tenda untuk tempat tinggal warga. Menurut Suprihati, satu tenda dapat diisi hingga sepuluh orang. "Jadi satu tenda bisa untuk dua sampai tiga keluarga," ujarnya.
Karena saat ini tengah musim penghujan, Suprihati mengaku tenda pengungsian kerap kemasukan air, khususnya melalui bagian jendela. Namun warga di sana tak bisa berbuat banyak karena hanya tenda tersebut satu-satunya tempat tinggal mereka.
"Sebenarnya (tinggal) di sini (pengungsian) serba sulit semua. Tapi kami mau bagaimana lagi, pokoknya dibikin happy saja," kata Suprihati.
Di lokasi pengungsian, terdapat satu bangunan semipermanen berdinding seng yang bagian dalamnya disekat untuk dua kamar mandi. Di sebelahnya terdapat toren cukup besar yang menampung air bersih untuk kebutuhan warga.
Menurut Suprihati, selama 1,5 bulan tinggal di pengungsian, seluruh warga tak pernah mengalami kekurangan air. Mereka rutin memperoleh bantuan kebutuhan dasar, termasuk sembako. Lokasi pengungsian juga telah dialiri listrik.
Kendati demikian, Suprihati dan warga lainnya di lokasi pengungsian belum mendapat kepastian ke mana mereka harus tinggal setelah dari tenda pengungsian. Mereka merasa tak mungkin lagi kembali ke kediamannya yang sudah rusak atau bahkan ambruk akibat tanah bergerak.
"Tanah geraknya masih terjadi terus. Sekarang malah tambah amblas. Kalau di rumah saya, jalan depannya itu hampir dua meter," ungkap Suprihati.
Dia mendapat informasi pada 16 April 2026 mendatang, seluruh warga harus pindah dari lokasi pengungsian. "Pemerintah janjinya mau dicarikan tempat tinggal. Tapi enggak tahu sih, nanti tunggu tanggal 16 jadinya bagaimana," ucapnya.

8 hours ago
2
















































