Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman (tengah), Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan (kiri), dan Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif berpose usai penandatanganan Perjanjian Pertahanan Bersama Mekah di Mekah, Arab Saudi.(AFP)
PAKTA pertahanan baru yang melibatkan Arab Saudi, Turki, dan Pakistan menandai lahirnya aliansi keamanan strategis di Timur Tengah. Aliansi ini bertujuan untuk membendung pengaruh Iran, mengimbangi ketidakpastian peran Amerika Serikat (AS), serta mengirimkan pesan politik yang kuat kepada Israel.
Di tengah konflik Timur Tengah yang terus berlarut, aliansi ini menyatukan tiga kekuatan besar negara Suni yang merupakan sekutu strategis AS. Kesepakatan ini mencakup klausul gaya NATO, yaitu serangan terhadap satu negara dianggap sebagai serangan terhadap semua anggota. Meski demikian, para analis meragukan klausul tersebut akan ditegakkan secara militer, mengingat posisi Pakistan dan Turki yang lebih condong berperan sebagai perantara konflik.
Mengapa Aliansi Ini Terbentuk Sekarang?
Hampir enam bulan sejak perang di Timur Tengah pecah, AS dinilai gagal memberikan pukulan telak terhadap Iran. Di saat yang sama, Teheran terus mengganggu lalu lintas di Selat Hormuz, sementara sekutu Houthi mereka mengacaukan pelayaran di Laut Merah. Realitas ini menjungkirbalikkan arsitektur keamanan kawasan yang selama puluhan tahun bergantung pada supremasi militer AS.
Ali Shihabi, analis politik yang dekat dengan pemerintah Saudi, menyatakan bahwa aliansi ini menunjukkan melemahnya daya tangkal Amerika. "Ancaman Iran kini semakin perlu dikelola oleh kekuatan regional sendiri," tulisnya. Sejak perang dimulai, Riyadh memang semakin erat menjalin hubungan dengan Turki, Mesir, dan Pakistan guna mendukung mediasi konflik.
Sinergi Kekuatan: Modal, Teknologi, dan Militer
Andreas Krieg, dosen keamanan di King's College London, menyebut ketiga negara ini memiliki keunggulan yang saling melengkapi secara unik:
- Arab Saudi: Memiliki kekayaan finansial yang melimpah tetapi kedalaman industri militer domestik yang terbatas.
- Turki: Memiliki teknologi dan kapasitas manufaktur militer yang maju, tetapi membutuhkan pasar dan investasi.
- Pakistan: Memiliki sumber daya manusia, kedalaman institusi militer, dan pencegahan nuklir, tetapi menghadapi kendala keuangan yang serius.
Krieg menambahkan bahwa aliansi ini bukan untuk menggantikan posisi AS sepenuhnya, melainkan untuk mengisi celah keamanan karena Washington dianggap enggan menahan langkah Israel atau melindungi infrastruktur Teluk dari pembalasan Iran.
Sikap terhadap Iran dan Israel
Meski memiliki pakta pertahanan, Turki dan Pakistan diyakini tidak akan menyerang Iran secara langsung jika Teheran kembali menyerang Saudi. Asli Aydintasbas dari Brookings Institution menilai kedua negara lebih memosisikan diri sebagai stabilisator yang mendorong momentum politik.
Namun, bagi H.A. Hellyer dari Royal United Services Institute, pakta ini tetap menjadi sinyal simbolis bagi Iran dan Israel. Aliansi ini menciptakan arsitektur keamanan alternatif yang menolak hegemoni Israel di kawasan. Hal ini kontras dengan keinginan Washington yang mendorong normalisasi hubungan antara negara-negara Arab dengan Israel melalui Abraham Accords.
Catatan Analisis: Aliansi ini menunjukkan keinginan kuat dari kekuatan regional untuk menginterupsi proyek hegemoni Iran sekaligus dominasi Israel di Timur Tengah, tanpa harus sepenuhnya bergantung pada payung keamanan tunggal dari Amerika Serikat. (AFP/I-2)















































