Jakarta, CNN Indonesia --
Amerika Serikat membombardir situs militer Iran termasuk fasilitas peluncuran rudal hingga markas intelijen usai mengumumkan perang dengan negara tersebut berakhir.
Militer AS yang bertugas di kawasan Timur Tengah Komando Pusat (US Central Command/CENTCOM) melaporkan serangan terjadi pada Kamis (7/5). Mereka menargetkan fasilitas peluncuran rudal, situs komando dan pengendalian, hingga pusat intelijen, pengawasan, dan pengintaian Iran.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Pasukan AS mencegat serangan Iran yang tak beralasan dan membalas dengan serangan pertahanan diri saat kapal perusak rudal berpemandu milik Angkatan Laut AS melintasi Selat Hormuz menuju Teluk Oman, 7 Mei," demikian pernyataan CENTCOM di X.
"Pasukan Iran meluncurkan sejumlah rudal, drone, dan kapal kecil saat USS Truxtun (DDG 103), USS Rafael Peralta (DDG 115), dan USS Mason (DDG 87) melintasi jalur laut internasional," imbuh mereka.
CENTCOM lalu menerangkan tak ada aset AS yang terkena serangan Iran.
Salah satu pejabat AS membeberkan wilayah yang jadi target. Menurut dia serangan dilakukan di sejumlah lokasi mencakup Bandar Abbas dan Qeshm.
Tak beda jauh, juru bicara Angkatan Bersenjata Iran mengatakan serangan udara AS berlangsung di sepanjang pantai pulau Qeshm, Bandar Khamir, dan Sirik.
Dia lalu mengatakan AS melanggar gencatan senjata dengan menargetkan kapal tanker minyak yang menuju pelabuhan Iran di Selat Hormuz.
AS dan Iran sepakat gencatan senjata pada 8-22 April lalu. Perjanjian ini kemudian diperpanjang tanpa batas waktu yang diumumkan ke publik.
Kemudian pada Selasa, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mengatakan perang dengan Iran yang disebut operasi Epic Furry sudah berakhir.
"Operasi itu sudah selesai. Epic Furry, sebagaimana diberitahukan presiden ke Kongres, kami sudah menuntaskan tahap tersebut. Kami sudah mencapai tujuan operasi itu," kata Rubio.
Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth juga mengumumkan hal serupa. Namun, para pejabat itu tak menjelaskan lebih lanjut soal penarikan pasukan mereka dari Timur Tengah. Sekitar 50.000 personel masih di kawasan tersebut hingga sekarang.
(isa/bac)
Add
as a preferred source on Google

9 hours ago
2

















































