Jakarta, CNBC Indonesia - Aktivitas penipuan siber melonjak menjelang Piala Dunia 2026. Para penjahat siber menyasar penggemar sepak bola yang memperebutkan tiket ke ajang 4 tahunan tersebut.
CEO Feedzal Nuno Sebastio mengatakan kenaikan aktivitas scam dan fraud di Piala Dunia kali ini disebabkan oleh harga tiket yang jauh lebih tinggi dari acara sebelumnya.
"Acara ramai seperti Piala Dunia seperti mimpi buat penipu. Biaya untuk mengikuti ajang ini sangat tinggi dan semua orang mencoba agar bisa mendapatkan harga terbaik. Di sini sasaran empuk para penjahat," katanya seperti dikutip dari Channel News Asia, Kamis (30/4/2026).
Dia menjelaskan bahwa tidak semua penggemar sepak bola yang ingin menyaksikan langsung Piala Dunia 2026 adalah orang berkantong tebal seperti cabang olah raga lain.
"Ini membuat kemungkinan jadi korban penipuan makin tinggi karena mereka benar-benar ingin ikut, benar-benar mau menyaksikan pertandingan, tetapi tidak memiliki cukup uang," kata Sebastio.
Knoble, jaringan nonprofit yang fokus dalam mencegah kejahatan keuangan, memperkirakan ada sekitar 28.500 transaksi mencurigakan di seluruh dunia terkait Piala Dunia 2026.
Sasaran penipuan utama adalah tiket pertandingan, tiket perjalanan, dan penipuan online. Sebastio memperingatkan bahwa aksi penipuan ini biasanya dikendalikan oleh jaringan kriminal global, bahkan ada yang dilakukan oleh aktor terafiliasi pemerintah negara tertentu.
"Ini termasuk jaringan global yang didukung oleh Iran, Korea Utara, yang tidak terjangkau oleh sistem hukum kita," katanya. "Kami juga melihat ada operasi yang berbasis di Amerika Selatan, negara-negara Afrika, dan Eropa Timur," katanya.
Kejahatan siber juga merupakan salah satu pemicu pelanggaran hak asasi manusia. "Ada pekerja paksa di call center raksasa ini. Paspor mereka diambil kemudian mereka dipaksa untuk melakukan phising dan scamming," katanya.
(dem/dem)
Addsource on Google

3 hours ago
3

















































