Ungkap Peluang di Sektor Pertanian, DBS Indonesia Tekankan Hal Ini!

2 hours ago 4

Jakarta, CNBC Indonesia - Di tengah kondisi ketidakpastian, sektor pertanian justru memiliki prospek positif. Karakteristiknya yang relatif tangguh membuat sektor tersebut mampu bertahan dalam setiap kondisi.

Executive Director, Institutional Banking Group Bank DBS Indonesia, Ello Hanson menjelaskan, secara historis sektor pangan dan pertanian tergolong tahan banting di semua zaman. Sebab, permintaan produk pangan maupun pertanian semakin meningkat seiring dengan pertumbuhan jumlah populasi di Indonesia.

"Otomatis base demand juga akan semakin naik dan bukan tidak secara kebetulan juga salah satu portfolio dari Bank DBS dalam segi pembiayaan yang paling besar adalah datang dari food and agri," ujar dia dalam Coffee Morning CNBC Indonesia "Securing Indonesia's Food Sovereignty through Value Chain and Financing Amid Global Disruption", ditulis Kamis (30/4/2026).

Ello Hanson menambahkan, cakupan pangan dan pertanian pada dasarnya sangat luas. Bank DBS Indonesia sendiri menyebut sektor ini dengan istilah "farm to fork". Artinya, sektor pertanian mencakup mulai dari proses produksi komoditas perkebunan dan pertanian, kemudian diolah hingga menjadi produk yang tersedia di piring meja makan masyarakat. Secara horizontal, sektor ini melibatkan berbagai komoditas seperti jagung, tebu, gula, protein hewani, hingga akuakultur.

"Secara fundamental memang food and agri, pangan ini sangat penting untuk Indonesia dan untuk DBS," terang dia.

Dari sisi risiko, Bank DBS Indonesia secara berkala melakukan stress testing terhadap skenario global maupun domestik. Dalam hal ini, Bank DBS Indonesia mencoba mengukur dampak perang seperti yang terjadi di Ukraina dan Iran, kenaikan harga minyak, pelemahan nilai tukar rupiah, hingga kenaikan harga pokok penjualan (HPP) terhadap kinerja sektor pertanian.

Terlepas dari itu, Ello menilai sektor pertanian masih tetap solid. Bank DBS Indonesia pun memandang tidak ada perubahan yang signifikan pada sektor tersebut. Meski begitu, ada hal yang tetap harus diperhatikan lebih mendalam terhadap sektor pertanian.

Sebagai contoh, para petani atau pelaku usaha pertanian perlu menyiapkan persediaan stok (stock inventory) yang lebih panjang. Namun, profitabilitas mereka bisa terdampak lantaran sektor ini cukup sensitif terhadap perubahan harga.

"Misalnya mereka harus stock inventory lebih panjang dengan harga yang lebih tinggi, sedangkan pada saat mereka jual itu harganya turun, itu bisa memengaruhi profitability mereka. Tapi secara overall, secara portfolio kita masih intact, kita tidak melakukan knee-jerk reaction untuk mengambil langkah untuk mengeksit satu bidang tertentu di pangan ini," tandas dia.

(dpu/dpu)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Perekonomian | Teknologi | Alam | Otomotif | Edukasi | Lifestyle |